Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Dilematisnya Menentukan Tamu yang Diundang di Nikahan

Audian Laili oleh Audian Laili
2 April 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Penginnya sih, Jokowi jadi tamu yang diundang di nikahan. Kalaupun nggak datang, setidaknya beliau ngasih karangan bunga. Kan keren buat konten Instastory, ya~

Orang Indonesia, memang dikenal dengan masyarakat yang komunal. Jadi, bisa punya banyak kerabat, atau paling tidak ngerasa punya banyak kerabat. Seolah-olah, semua orang yang dikenal bisa langsung jadi teman atau saudara. Langsung kayak punya ikatan khusus. Padahal, mah, nggak juga. Di satu sisi, ini menyenangkan. Contohnya saja kalau kena cegatan. Tinggal sebut nama saudaranya saudara jauuuh yang punya posisi agak bagus di situ dengan gaya meyakinkan. Kalau beruntung, ya, nggak perlu sidang atau bayar.

Iklan

Tapi sayangnya, di sisi lain hal ini cukup meribetkan. Seperti yang dialami oleh teman saya yang bakal menggelar pesta pernikahannya. Saat ini, ia sungguh mengalami dilema, untuk membatasi pertemanannya yang sebetulnya juga nggak luas-luas amat. Baginya, semua orang yang dia kenal, pasti punya jasa dalam kehidupannya. Hal ini lah yang kemudian membuatnya sungkan, kalau ada salah satu dari mereka yang nggak diundang di nikahan

Penginnya sih, semuanya aja diundang di nikahan. Tapi masalahnya, venue-nya terbatas. Belum lagi kalau udah mulai hitung-hitungan soal katering dan souvenir. Mohon maaf, nih. Budget juga termasuk sumber daya yang terbatas. Jadi, katanya, sangat penting di awal untuk betul-betul menentukan kuota. Dan semua orang yang terlibat, harus patuh dengan kuota tersebut.

Akhirnya, teman saya ini berusaha menyaring dengan saksama teman-temannya. Sementara untuk keluarga dan tetangga, dia menyerahkannya pada orang tuanya. Dia hanya akan fokus mem-filter teman-temannya. Baik teman bergaul yang bener dan nggak bener, teman kerja, hingga teman sekolahnya. Untuk teman sekolah, tidak hanya teman sejak TK, tapi juga sejak PAUD. Jadi, dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, S1, S2, hingga S3. Semuanya dia telaah satu persatu, membuatnya pusing. Untungnya, ada grup chat yang memudahkannya mengingat nama teman-temannya dengan hanya membuka bagian anggota grup.

Setelah semua data terkumpul. Dia bagi mereka-mereka ini dalam tiga klasifikasi atau prioritas. Yakni, yang perlu diundang di nikahan, yang mungkin diundang, dan nggak perlu-perlu amat diundang. Dia akan memprioritaskan dari teman-teman yang masing sering callingan sama dia, baik via chat maupun media sosial. Baginya, orang-orang yang masih berhubungan baik dengannya dalam satu tahun terakhir, menjadi bagian dari mereka yang sebaiknya diundang di nikahan.

Meski sudah berusaha nge-list mati-matian, ternyata teman saya ini tak cukup rela tidak mengundang orang-orang yang masuk kategori “mungkin diundang”, atau “nggak perlu-perlu amat diundang”. Lagi-lagi karena dia merasa, mereka pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Mungkin, kita memang pernah akrab dengan mereka pada suatu masa. Namun, bukankah tidak semuanya masih menjalin hubungan yang sedekat dulu? Oleh karenanya, memikirkan lagi kapan kita terakhir bertemu dan berbicara dengan mereka, menjadi penting. Jangan sampai, kita menuliskan namanya sekadar karena perasaan bersalah tidak mengundangnya. Terkadang, kita memang memerlukan rai gedek, Saudara-saudara.

Masalah selanjutnya, tidak berhenti di situ. Setelah dia sudah berusaha keras memfilter semua nama-nama itu, ternyata ketika datanya dikumpulkan dengan data orang tuanya. Naudzubillah, data dari mereka saja ternyata sudah di luar kuota. Rata-rata dengan pertimbangan: orang tuanya pernah diundang di nikahan, saat pernikahan anak mereka.

Doa semakin tak habis pikir, bagaimana mungkin dia sanggup menyalami orang-orang yang sebegitu banyaknya. Berapa banyak waktu yang diperlukan untuk menjaga dirinya supaya tetap tersenyum dan tampak bahagia saat dipampang di atas pelaminan semacam itu—padahal badan pasti bakal nyut-nyutan setelah menyiapkan segala hal sebelumnya.

Dia pun mulai mempertimbangkan lagi nama-nama yang telah di-list-nya sendiri. Kira-kira apa yang harus dia lakukan untuk menyiasati data nama dari orang tuanya—yang tampak seenaknya itu. Kalau dia harus memapas lagi, apa kata mereka? Nanti kalau mereka tersinggung karena merasa nggak dianggep temen, gimana? Kan ribet, ya? Tapi, kalau nggak dibatasi dengan maksimal, justru malah jadi masalah. Gimana kalau nanti, acaranya malah berjalan dengan ungkep-ungkepan? Hadeeeh, mung ate kawin ae, kok ribet biaaanget!

Meyakinkan orang tuanya untuk mengurangi sedikit lagi tamu yang diundang di nikahan, sulitnya sungguh karuan. Apalagi, mengharapkan sebuah pesta pernikahan yang intim, yang hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat. Hanya bersalaman dengan orang-orang yang dikenal saja. HAHAHA, sepertinya itu sebuah mimpi yang ketinggian.

Ya, maaf nih, ini di Indonesia. Bilang ke orang kalau ngarepin acara nikahan yang begituan, supaya teman-teman mereka yang diundang di nikahan nggak kebanyakan? Yang ada sih, disuruh bikin acara sendiri! Hadeeeh, kalau kebanyakan pesta, KAPAN BELI RUMAHNYA?

Yaudah, akhirnya, teman saya ini berusaha menerima bahwa dia nggak akan bisa membahagiakan semua orang. Meski akan ada kemungkinan dia dimusuhi oleh teman-teman yang tidak diundang di nikahan. Tapi, mau bagaimana lagi. Di bisa apa, Kisanak? Di Indonesia, pesta pernikahan itu menjadi pestanya orang tua. Pasalnya, hal ini dianggap menjadi salah satu fase hidup, yakni melepaskan kita sebagai anaknya untuk memulai kehidupan baru dengan anaknya orang lain.

Iklan

Jadi, lebih baik mengurangkan rasa terlalu peduli dengan orang lain. Jangan biarkan mereka-mereka ini membuat kamu merasa bersalah. Toh, dengan nggak jadi tamu yang diundang di nikahan, bukankah mereka sebetulnya bisa tersenyum bahagia?

Pertama, nggak perlu ribet-ribet ngeluarin uang sebagai sumbangan. Kedua, nggak perlu ribet cari outfit yang seolah telah menjadikan kondangan menjadi fashion show terselubung. Ketiga, ehm, ya weekend-mu bisa dipergunakan untuk kegiatan lainnya. Misalnya, tidur sampai Zuhur. Jadi hemat, meski nggak dapat makan gratisan, sarapannya bisa dirapel sama makan siang.

Udahlah, penting nggaknya kehadiran temenmu ke nikahan. Bukankah yang terpenting adalah kehadiran si pasangan? Kalau yang ini, mah, nggak perlu pakai filter-filter an, ya!

Terakhir diperbarui pada 2 April 2019 oleh

Tags: Indonesiapernikahantamu nikahanundangan nikahan
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO
Ragam

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO
Esai

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.