Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Dikritik Cucu Bung Hatta: Semirip Apa Sih Prabowo-Sandiaga dengan Soekarno-Hatta?

Audian Laili oleh Audian Laili
25 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Cucu Bung Hatta marah-marah. Nggak terima kalau kakeknya dimiripin sama Sandiaga.

Sejak tadi malam, di Twitter ramai dengan protes cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta terhadap video para jubir Prabowo-Sandiaga. Dalam video tersebut terdapat 5 orang jubir Prabowo-Sandiaga diantaranya dr. Irene, Faldo Maldini, dr. Gamal Albinsaid, Pipin Sopian, dan Dahnil Anzar. Mereka dengan gaya bicara sok yang berusaha milenial, mengungkapkan alasannya mengapa memilih Prabowo-Sandiaga sebagai calon pemimpin Indonesia yang pantas dipilih dalam periode selanjutnya.

Salam hangat dari anak muda yang menjadi Juru Bicara Pak @prabowo dan Bang @sandiuno pic.twitter.com/9h9WpplFZS

— Faldo Maldini (@FaldoMaldini) October 23, 2018

Ungkapan yang disebutkan oleh keempat orang sebelumnya, terkesan lebih dapat diterima oleh khalayak. Namun di akhir, ketika Dahnil Anzar memberikan statement pamungkas, banyak orang yang protes, termasuk Gustika Jusuf.

Hal ini dikarenakan Dahnil mengungkapkan bahwa,

“Kalau bagi saya nih, mereka seperti apa seperti, seperti bagian baru dari model Bung Karno dan Bung Hatta. Pak Prabowo itu seperti kombinasi Bung Karno dan Jendral Sudirman. Sedangkan Bang Sandi, itu adalah bagian baru dari Bung Hatta. Itulah kenapa, mereka berdua pantas jadi Presiden dan Wakil Presiden.”

Statement yang memiripkan Prabowo-Sandiaga dengan Bapak Proklamator Indonesia itulah yang kurang dapat diterima. Apalagi Dahnil tidak menyertakan alasannya, mengapa? Selesai ia bicara, keempat lainnya langsung aja tepuk tangan. Hadeh~

Ini sebenarnya yang lainnya beneran udah paham atau pokoknya kelihatan seru aja sih?

Salah satu protes datang dari Gustika Jusuf, dalam tweetnya ia mengungkapkan merasa jengah ketika sosok kakeknya digunakan untuk kepentingan politik khususnya ketika menjelang Pilpres.

“Untuk orang yg kesabarannya minus kayak gue gini, denger kakek gue disamain sama Sandiaga Uno rasanya mau muntah.”

Beberapa pernyataan Gustika tersebut menjadi semakin greget dengan imbuhan pisuhan di akhir.

Mengenai protes dari netizen ini, coba kita lihat perlahan. Jangan-jangan apa yang diungkapkan oleh Dahnil memang ada benarnya. Coba kita telaah keempat sosok tersebut pelan-pelan….

Pertama, Soekarno versus Prabowo. Dahnil bilang Prabowo adalah perpaduan dari sosok Soekarno dan Jenderal Soedirman. Cieee, Prabowo dimirip-miripin sama bapaknya Megawati. Cieee~ Btw, kok nggak dimiripin sama mertuanya sendiri aja sih? Eh.

Oke, kita fokus ke Soekarno dan Prabowo aja ya. Ehm, semirip apa sih mereka? Kalau dimiripin karena sosoknya yang nampak tegas, sama-sama sering pakai peci, duh itu udah basi banget, Gaes. Capek kalau cuma ngelihat dari pencitraannya doang.

Iklan

Lalu kalau soal kedekatan politik dan ideologis, sepertinya agak berbeda juga ya. Kita mengenal Soekarno sebagai tokoh yang lebih dekat dengan kaum kiri, ia juga dikenal dengan ‘marhen’nya. Sedangkan Prabowo, kalau diperhatikan sepertinya ia lebih dekat dengan Habib Rizieq dan kawan-kawan, yang sangat anti dengan kaum kiri dan PKI. Lantas, bentuk miripnya itu di mana?

Kedua, Hatta versus Sandiaga. Oke, keduanya memang sama-sama punya konsen pada urusan ekonomi. Tapi sayang, bedanya, bueda banget. Begini, kita mengenal Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Dengan nilai-nilai koperasi yang mengajarkan betul tentang ekonomi kerakyatan. Bahwa usaha bersama-sama dan tidak ada pemilik tunggal adalah sebaik-baiknya sistem perekonomian.

Namun ketika kita menilik pada Sandiaga dengan korporasinya, apakah nilai-nilai koperasi ini tercermin pada dirinya, dengan begitu banyak perusahaan yang berada dalam kendalinya? Apakah ketika dengan dimirip-miripin seperti ini, maka Sandiaga berniat untuk membuat koperasi pekerja bagi karyawan-karyawannya? Apakah Sandiaga dengan kekayaan yang mencapai lebih dari Rp4 triliun, rela ketika perusahaannya diambil alih dan dikelola secara demokratis oleh para buruhnya?

Lagian, Bung Hatta juga bukan tipe orang yang sok asyik. Dengan tingkah yang berharap dapat diterima dan dekat dengan masyarakat. Bung Hatta adalah seorang yang punya pembawaan tenang, tidak pernah bertingkah aneh-aneh, semacam menjadikan pete sebagai topi.

“Mereka juga ada miripnya tauk! Mereka kan sama-sama berkacamata.” Yha, boleh. Nice try!

Tapi sebenarnya nggak salah kok kalau Sandiaga itu sebagai pengganti Hatta. Kan memang sosok pengganti Hatta. Hatta Rajasa. Hahaha. Lucu.

Sabar, nggak perlu marah-marah. Seharusnya kita memahami, bahwa koalisi ini memang senang memirip-miripkan tokoh yang sedang mereka junjung dengan para pahlawan Indonesia. Masih ingat kan, ketika Hanum Rais mengatakan bahwa Ratna Sarumpaet adalah Cut Nyak Dien yang baru? Nah, biar gampang, anggap aja seperti itu.

Tapi, baik pihak Jokowi maupun Prabowo, sebaiknya tidak perlulah mencatut nama tokoh terdahulu untuk kepentingan kampanye semata. Kami sudah jengah. Yang saat ini dibutuhkan masyarakat adalah sebuah program konkret, bukan sebatas mencitrakan diri seperti Bung Karno, Bung Hatta, Gusdur, dan tokoh lainnya.

Lebih baik nih, yang perlu dicontoh adalah ide atau perspektif kebijakan mereka saja. Misal, bagaimana seorang Bung Karno sangat dekat dengan kaum buruh dan tani. Lalu Bung Hatta yang istiqomah bahwa ekonomi harus milik rakyat lewat usaha koperasi. Serta Gusdur yang sangat dikenal dengan nilai-nilai toleransinya. Bukankah begitu?

Terakhir diperbarui pada 25 Oktober 2018 oleh

Tags: bung hattaBung KarnoGustika Jusufprabowosandiaga
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Hentikan MBG! Tiru Keputusan Sleman Pakai Duit Rakyat (Unsplash)
Pojokan

Saatnya Meniru Sleman: Mengalihkan MBG, Mengembalikan Duit Rakyat kepada Rakyat

19 September 2025
Video Prabowo Tayang di Bioskop Itu Bikin Rakyat Muak! MOJOK.CO
Aktual

Tak Asyiknya Bioskop Belakangan Ini, Ruang Hiburan Jadi Alat Personal Branding Prabowo

16 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja di Jakarta naik transum kereta KRL

KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa

29 April 2026
Beri tip ke driver ojol. MOJOK.CO

Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

28 April 2026
UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang.MOJOK.CO

UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang

27 April 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.