• 2.6K
    Shares

MOJOK.CO Dengan ideologi dan pandangan yang berbau kiri, muncullah bibit-bibit baru kaum kiri kelas freshmen, alias kiri snobs. Hmm, apakah itu?

Konon, di zaman penjajahan Belanda, kaum kolonial menggunakan istilah “kiri” untuk merujuk pada orang-orang yang merupakan penentang pemerintahan Belanda, yang kala itu kebanyakan berpeci. Anggapan ini sepertinya memang nggak salah-salah amat, soalnya tokoh PKI Alimin disebutkan kerap menggunakan peci. Jangankan Alimin, Soekarno yang menunjukkan sikap non-kooperatif pada Belanda saja juga memakai peci!

Singkatnya, kaum kiri umumnya adalah orang-orang yang tidak begitu betah atau menyukai suatu keadaan yang tengah berlaku dan menghendaki adanya perubahan ke arah yang lebih baik. Naaaah, dengan ideologi, pandangan, gaya hidup, dan apa pun yang berbau kiri, muncullah bibit-bibit baru kaum kiri.

Maka, dengan itu, lahir pulalah gelombang kaum kiri kelas freshmen, alias…

…kiri snobs!!!

Hmm, seperti apakah manusia-manusia kiri snobs ini?

1. Atribut “Kiri Banget”

Kaum kiri snobs cenderung ingin menampilkan ke-kiri-annya dengan segala cara. Salah satu hal yang paling mudah bisa mereka lakukan adalah mengenakan kaos atau atribut yang “kiri banget”, misalnya yang bergambar tokoh-tokoh tertentu, seperti Che Guavara, Karl Marx, atau Wiji Thukul.

Tapi, jangan tanya soal perjuangan orang-orang itu ke kiri snobs: ujung-ujungnya ketahuan, deh, kalau mereka kurang paham. Pokoknya, bagi mereka, atribut kiri sudah cukup membuat mereka kiri~

Baca juga:  Membaca Peristiwa 1965 dari Perspektif Perebutan Sumberdaya

2. Dikit-Dikit Kritis

Salah satu ciri khas kaum kiri adalah kekritisannya yang sudah termahsyur. Sebagai orang yang peduli sosialis dan tak mengamini kapitalis, kaum kiri jelas siap pasang badan menghadapi kesenjangan.

Naaah, begitu pula kiri snobs dalam levelnya sendiri. Kalau ada yang mereka anggap kapitalis, tentu mereka bakal protes dan—selamat—kamu bakal mulai memasuki gerbang debat bersamanya. Nggak usah ngomongin kapitalis di pemerintahan dulu, deh, ha wong nentuin tempat nongkrong bareng aja kadang jadi debat!

3. Dikit-Dikit Diskusi Soal Perjuangan Rakyat

Agak nyambung dengan kekritisannya tadi, kaum kiri snobs pun mendadak jadi suka diskusi. Rasanya, hidup bakal kurang mashoook tanpa diskusi, terutama yang berbau perjuangan.

Obrolan yang tadinya kamu kira akan ringan, mendadak langsung jd panjang. Mending kalau bahasannya enteng—misalnya topik Raisa hamil dan kira-kira nanti anaknya mirip siapa—ha ini temanya aja udah berat, serius pula.

Sering, pula!!11!!!11!

4. Baca Buku Indie

Kaum kiri umumnya menikmati bacaan-bacaan dari penulis yang juga kiri, atau bacaan yang diterbitkan oleh penerbit independen. Kebanyakan, buku-buku ini berbau sosialis dan kerakyatan. Tak melulu politik, ada juga karya sastra yang penulisnya diyakini memiliki gaya kiri, seperti Pramoedya Ananta Toer.

Nah, kaum kiri snobs pun tak mau tinggal diam. Alih-alih ikut heboh karena novel cinta terbaru, mereka akan lebih bangga memamerkan buku-buku “kiri” atau yang berasal dari penerbit indie.

Baca juga:  Revolusi Putih: Sebuah Politik Makanan Gratis

Yaaah, dipamerin doang, dibaca kagak~

5. Tampil Intelek di Media Sosial

Kaum kiri snobs yang punya akun di media sosial tak mau kalah menunjukkan jati dirinya. Biasanya, lewat kata-kata di status atau caption fotonya, mereka akan menampilkan diri sebagai orang yang…

…ramai.

Maksudnya, mereka bakal tampak cukup kritis dan gemar mengomentari suatu permasalahan secara “kiri banget”. Tak lupa, mereka membawa argumen yang tampak intelek dan meyakinkan.

Padahal, kalau boleh jujur, mereka pun aslinya nggak tahu apa-apa dan cuma bermodalkan Wikipedia atau Google~

Jadi, kamu termasuk kaum kiri snobs nggak, mylov?

  • 2.6K
    Shares


Loading...



No more articles