Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pembaca Bumi Manusia yang Merasa Lebih Pram daripada Pram itu Sendiri

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
31 Mei 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK – Novel legendaris Bumi Manusia bakal segera difilmkan. Falcon Pictures ketiban pulung sebagai PH yang bakal menggarap film ini. Hanung Bramantyo dipercaya sebagai sutradara, sedangkan Iqbaal Ramadhan mantan pelantun “Kau bidadari turun dari surga di hadapanku, Eaaaaa” didapuk sebagai pemeran Minke.

Sebagai sebuah roman yang terkenal begitu subversif, Bumi Manusia seakan tak mudah mendapat restu untuk difilmkan begitu saja. Banyak orang-orang yang tak rela Bumi Manusia dialihmediakan sebagai sebuah visual, terlebih saat Iqbaal yang kelewat ganteng didapuk sebagai Minke atau Hanung yang kelewat nekat jadi sutradaranya.

Iklan

Banyak pembaca Bumi Manusia yang mendadak jadi merasa punya kedekatan batin yang kuat dengan novel ini. Merasa paling mengenal Mbah Pramoedya Ananta Toer beserta karya-karyanya, merasa punya hak untuk mengintervensi pemaknaan akan Bumi Manusia, bahkan pada titik yang lebih ekstrem, menjadi tampak lebih Pram ketimbang Pram itu sendiri.

Mereka memprotes rencana memfilmkan Bumi Manusia. Katanya kalau difilmkan, mereka takut Bumi Manusia akan rusak dan tidak akan sesakral edisi novelnya.

Padahal kalau mau dilihat dari kaca mata ideologi, pengalihmediaan Bumi Manusia menjadi film ini seharusnya menjadi hal yang bagus. Sebab akan ada banyak anak muda (yang mana kita tahu daya bacanya memprihatinkan) yang bakal tertarik dengan cerita Bumi Manusia dan Pram.

Kehebohan soal Bumi Manusia yang akan difilmkan ini, terlebih setelah menyeret nama Iqbaal, praktis membuat banyak remaja ikut larut di dalamnya. Tiba-tiba bermunculan pertanyaan random yang menggugah kesadaran manusia; “Bumi Manusia itu teenlit ya?” atau yang lebih nggentho, “Siapa sih Pram itu?”

Sayang sekali, pertanyaan yang sebenarnya bisa menjadi pemicu dialektika lintas generasi itu ternyata justru menimbulkan keprihatinan tersendiri. Banyak kaum “tua” yang kemudian justru menjadi sok dan kemaki dengan menghina para remaja yang tidak tahu apa itu Bumi Manusia atau siapa itu Pram.

“Dasar remaja jaman sekarang, tahunya cuma main Tik Tok atau Mobile Legend, masa tokoh legendaris sebesar Pram blas tidak paham. Dasar memalukan!”

Membaca komentar-komentar seperti itu, tentu saya merasa begitu miris dan sedih. Eh, enggak terlalu sedih juga ding, saya enggak sesentimentil itu.

Begini. Sebagai seorang yang aktif di dunia kepenulisan, saya bukan pembaca yang baik dan patut dicontoh. Maklum, bacaan saya tak luas-luas amat. Jika penulis-penulis lain mengawali kesadaran literaturnya dengan membaca karya Hilman Hariwijaya, saya malah memulainya cuma Iqro’ jilid lima. Jika orang lain masa kecilnya membaca novel tebal Lima Sekawan, saya malah cuma membaca komik tipis Siksa Neraka.

Kalau bukan karena (tak sengaja) kenal sama Puthut EA dan kemudian masuk ke lingkaran orang-orang literasi, sampai sekarang mungkin saya tak tahu siapa itu Pram. Bahkan, kalaupun saya tahu, saya mungkin akan mengiranya sebagai sejenis perusahaan travel. Sebagai Pramoedya yang “Ananta Tour”, bukan “Ananta Toer”.

Saya mungkin akan lebih familiar dengan Bos Eddy atau Permadi, sebab di masa remaja,  saya banyak membaca majalah Liberty. Majalah legendaris yang isinya soal seks dan klenik misteri itu. Majalah yang bisa bikin orang merinding dan menggelinjang pada waktu bersamaan. Liberty emang bener-bener masterpiece dunia literasi yang menggugah selera bacaan saya waktu itu.

(Oh iya, soal dua nama yang saya sebut di awal paragraf tadi, sosok pertama adalah paranormal pilih tanding yang pernah menjabat sebagai Ketua Asosiasi Paranormal Indonesia, sedangkan sosok kedua adalah politisi sekaligus praktisi dunia klenik)

Berkaca dari hal tersebut, saya jadi meyakini, bahwa bacaan itu murni soal selera dan akses. Jadi, kalau ada remaja atau bahkan orang dewasa yang tak tahu siapa itu Pram, ya wajar saya kira. Tak elok rasanya jika kemudian mengatakan mereka yang tak tahu siapa itu Pram sebagai anak ingusan, anak alay, anak tak melek literasi, anak buta aksara, anak moron, dan sebagainya. Sebab sekali lagi, ini cuma perkara akses.

Jangan terus kementhus hanya karena sudah pernah baca bukunya Pram sedangkan yang lain belum. Terus mendadak jadi merasa udah tahu Pram beserta isi kepalanya, lalu menganggap orang lain bodoh karena selera bacaannya beda. Ya, kadang-kadang soal sudah pernah baca bukunya Pram atau belum itu cuma perkara peruntungan nasib saja.

Banyak orang yang tahu Pram karena ia beruntung bisa kuliah dan bergesekan dengan dunia pergerakan, dunia akademik, dunia yang memudahkan dirinya untuk mendapat akses pengetahuan tentang siapa itu Pram.

Di tempat yang lain, tak sedikit anak yang tak sanggup kuliah dan pergesekan dunianya hanya soal kerja, kerja, dan kerja. Jangankan tahu soal Pram dan buku-bukunya, bisa punya waktu buat baca komik Hagemaru saja sudah ngaudubilllah bagusnya.

Tahu soal Pram adalah bagus. Namun tak paham siapa Pram bukan berarti seburuk-buruknya manusia. Ingusan atau bukan, alay atau bukan, tak melek literasi atau bukan, tidak bisa ditentukan hanya sekadar tahu Pram atau tidak.

Iklan

Saya jadi ingat sebuah anekdot tentang seorang guru SD yang bertanya tentang tokoh-tokoh nasional pada salah satu muridnya.

“Manuel, coba kamu jelaskan sedikit tentang Sukarno,” perintah Ibu Guru pada Manuel, salah satu muridnya yang paling bandel.

Si murid diam sejenak.

“Saya tidak tahu Sukarno, Bu,” jawab Manuel begitu saja.

“Kalau begitu, ceritakan soal Mohammad Hatta.”

“Nah, itu saya juga tidak tahu, Bu.”

“Ya sudah, kalau begitu soal Soeharto saja.”

“Sama saja, Bu, saya tidak tahu.”

Ibu Guru mulai jengkel, “Dasar Manuel, kau ini tidak pernah belajar ya? Masa Sukarno kau tak tahu? Hatta kau tak tahu? Bahkan Soeharto pun kau tak kenal?”

Manuel bingung, kesal, sedikit jengkel. Sejurus kemudian, Manuel lantas bertanya balik pada Ibu Gurunya, “Sekarang saya tanya sama Ibu,” kata Manuel, “Ibu tahu Oktavianus?”

“Tidak!” jawab Ibu Guru.

“Kalau Onesimus?”

“Tidak tahu juga.”

“Kalau Elias?”

“Ibu tidak tahu mereka,” jawab Ibu Guru. “Memangnya siapa mereka?”

“Nah, itulah Bu, kita semua punya kenalan masing-masing!”

Terakhir diperbarui pada 15 Agustus 2019 oleh

Tags: Bumi ManusiaFalcon PicturesHanung BramantyoHilman HariwijayaiqbaalLibertyMobile LegendPramoedya Ananta Toertik tok
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO

Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

25 April 2026
Harga Weekly Diamond Pass (WDP) di GoPay Games lebih terjangkau. (Dok.Pribadi)

Bermain Online Jadi Lebih Menyenangkan Tanpa Takut Boncos dengan Isi WDP MLBB di GoPay Games, Harga Termurah Tanpa Biaya Admin

25 November 2025
terpaksa bohongi ibu kalau waluh kukusnya habis. MOJOK.CO

Terpaksa Bohongi Ibu dan Pendam Trauma: Dihina Teman-teman Saat Berikan Waluh Kukus Hasil Kerja Keras Ibu Bekerja sebagai Buruh

13 November 2025
Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai

Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai

25 Oktober 2025
Hanung Bramantyo sebut Semarang punya beragam aset untuk menjadi Kota Film MOJOK.CO

10 Tahun setelah Ayat-Ayat Cinta, Semarang Punya Beragam Aset untuk Jadi “Kota Sinema”

16 September 2025
Film Gowok: Kamasutra Jawa garapan Hanung Bramantyo tegaskan bahwa orgasme adalah hak perempuan MOJOK.CO

Berguru pada Gowok: Ajari Laki-laki Puaskan Istri di Ranjang, Karena Orgasme adalah Hak Perempuan

2 Juni 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak-Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu MOJOK.CO

Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu

24 Agustus 2026
Alfamart dan PGMM beri bantuan seragam ke 7 madrasah di Magelang sebagai wujud kepedulian sosial MOJOK.CO

Alfamart dan PGMM Beri Bantuan Seragam Sekolah di 7 Madrasah Magelang, Jadi Penunjang Semangat dan Kepercayaan Diri Siswa

24 Agustus 2026
Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

26 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.