• 2.1K
    Shares

MOJOK – Novel legendaris Bumi Manusia bakal segera difilmkan. Falcon Pictures ketiban pulung sebagai PH yang bakal menggarap film ini. Hanung Bramantyo dipercaya sebagai sutradara, sedangkan Iqbaal Ramadhan mantan pelantun “Kau bidadari turun dari surga di hadapanku, Eaaaaa” didapuk sebagai pemeran Minke.

Sebagai sebuah roman yang terkenal begitu subversif, Bumi Manusia seakan tak mudah mendapat restu untuk difilmkan begitu saja. Banyak orang-orang yang tak rela Bumi Manusia dialihmediakan sebagai sebuah visual, terlebih saat Iqbaal yang kelewat ganteng didapuk sebagai Minke atau Hanung yang kelewat nekat jadi sutradaranya.

Banyak pembaca Bumi Manusia yang mendadak jadi merasa punya kedekatan batin yang kuat dengan novel ini. Merasa paling mengenal Mbah Pramoedya Ananta Toer beserta karya-karyanya, merasa punya hak untuk mengintervensi pemaknaan akan Bumi Manusia, bahkan pada titik yang lebih ekstrem, bikin seolah-olah Mbah Pramoedya mendadak ada di mana-mana karena banyak yang merasa lebih Pram ketimbang Pram itu sendiri.

Kehebohan soal Bumi Manusia yang akan difilmkan ini, terlebih setelah menyeret nama Iqbaal, praktis membuat banyak remaja ikut larut di dalamnya. Tiba-tiba bermunculan pertanyaan random yang menggugah kesadaran manusia; “Bumi Manusia itu teenlit ya?” atau yang lebih nggentho, “Siapa sih Pram itu?”

Sayang sekali, pertanyaan yang sebenarnya bisa menjadi pemicu dialektika lintas generasi itu ternyata justru menimbulkan keprihatinan tersendiri. Banyak kaum “tua” yang kemudian justru menjadi sok dan kemaki dengan menghina para remaja yang tidak tahu apa itu Bumi Manusia atau siapa itu Pram.

“Dasar remaja jaman sekarang, tahunya cuma main Tik Tok atau Mobile Legend, masa tokoh legendaris sebesar Pram blas tidak paham. Dasar memalukan!”

Membaca komentar-komentar seperti itu, tentu saya merasa begitu miris dan sedih. Eh, enggak terlalu sedih juga ding, saya ini enggak sesentimentil itu.

Begini. Sebagai seorang yang aktif di dunia kepenulisan, saya bukan pembaca yang baik dan patut dicontoh. Maklum, bacaan saya tak luas-luas amat. Jika penulis-penulis lain mengawali kesadaran literaturnya dengan membaca karya Hilman Hariwijaya, saya malah memulainya cuma Iqro’ jilid lima. Jika orang lain masa kecilnya membaca novel tebal Lima Sekawan, saya malah cuma membaca komik tipis Siksa Neraka.

Kalau bukan karena (tak sengaja) kenal sama Puthut EA dan kemudian masuk ke lingkaran orang-orang literasi, sampai sekarang mungkin saya tak tahu siapa itu Pram. Bahkan, kalaupun saya tahu, saya mungkin akan mengiranya sebagai sejenis perusahaan travel. Sebagai Pramoedya yang “Ananta Tour”, bukan “Ananta Toer”.

Baca juga:  Membaca Quran dengan Langgam Jawa, Bolehkah?

Saya mungkin akan lebih familiar dengan Bos Eddy atau Permadi, sebab di masa remaja, saya banyak membaca majalah Liberty. Majalah legendaris yang isinya soal seks dan klenik misteri itu. Majalah yang bisa bikin orang merinding dan menggelinjang pada waktu bersamaan. Liberty emang bener-bener masterpiece dunia literasi yang menggugah selera bacaan saya waktu itu.

(Oh iya, soal dua nama yang saya sebut di awal paragraf tadi, sosok pertama adalah paranormal pilih tanding yang pernah menjabat sebagai Ketua Asosiasi Paranormal Indonesia, sedangkan sosok kedua adalah politisi sekaligus praktisi dunia klenik)

Berkaca dari hal tersebut, saya jadi meyakini, bahwa bacaan itu murni soal selera dan akses. Jadi, kalau ada remaja atau bahkan orang dewasa yang tak tahu siapa itu Pram, ya wajar saya kira. Jangan lantas kemudian mengatakan mereka yang tak tahu siapa itu Pram sebagai anak ingusan, anak alay, anak tak melek literasi, anak buta aksara, anak moron, dan sebagainya. Sebab sekali lagi, ini cuma perkara akses.

Jangan terus kementhus hanya karena sudah pernah baca bukunya Pram sedangkan yang lain belum. Terus mendadak jadi merasa udah tahu Pram beserta isi kepalanya, lalu menganggap orang lain pekok karena selera bacaannya beda. Ya, kadang-kadang soal sudah pernah baca bukunya Pram atau belum itu cuma perkara peruntungan nasib saja.

Baca juga:  Kabinet Jokowi Kabinet Ayam Jantan Den Mojo

Banyak orang yang tahu Pram karena ia beruntung bisa kuliah dan bergesekan dengan dunia pergerakan, dunia akademik, dunia yang memudahkan dirinya untuk mendapat akses pengetahuan tentang siapa itu Pram.

Di tempat yang lain, tak sedikit anak yang tak sanggup kuliah dan pergesekan dunianya hanya soal kerja, kerja, dan kerja. Jangankan tahu soal Pram dan buku-bukunya, bisa punya waktu buat baca komik Hagemaru saja sudah ngaudubilllah bagusnya.

Tahu soal Pram adalah bagus. Namun tak paham siapa Pram bukan berarti seburuk-buruknya manusia. Ingusan atau bukan, alay atau bukan, tak melek literasi atau bukan, tidak bisa ditentukan hanya sekadar tahu Pram atau tidak. Sebab jika cuma itu ukuran seseorang dianggap pintar, kasihan sekali para anak-anak lulusan kelas IPA seperti saya ini.

Saya jadi ingat sebuah anekdot tentang seorang guru SD yang bertanya tentang tokoh-tokoh nasional pada salah satu muridnya.

“Manuel, coba kamu jelaskan sedikit tentang Sukarno,” perintah Ibu Guru pada Manuel, salah satu muridnya yang paling bandel.

Si murid diam sejenak.

“Saya tidak tahu Sukarno, Bu,” jawab Manuel begitu saja.

“Kalau begitu, ceritakan soal Mohammad Hatta.”

“Nah, itu saya juga tidak tahu, Bu.”

“Ya sudah, kalau begitu soal Soeharto saja.”

“Sama saja, Bu, saya tidak tahu.”

Ibu Guru mulai jengkel, “Dasar Manuel, kau ini tidak pernah belajar ya? Masa Sukarno kau tak tahu? Hatta kau tak tahu? Bahkan Soeharto pun kau tak kenal?”

Manuel bingung, kesal, sedikit jengkel. Sejurus kemudian, Manuel lantas bertanya balik pada Ibu Gurunya, “Sekarang saya tanya sama Ibu,” kata Manuel, “Ibu tahu Oktavianus?”

“Tidak!” jawab Ibu Guru.

“Kalau Onesimus?”

“Tidak tahu juga.”

“Kalau Elias?”

“Ibu tidak tahu mereka,” jawab Ibu Guru. “Memangnya siapa mereka?”

“Nah, itulah Bu, kita semua punya kenalan masing-masing!”

  • 2.1K
    Shares


Loading...



No more articles