MOJOK.COKerjaan asisten rumah tangga itu nggak sepele. Namun, sering kali hak-haknya disepelekan. Padahal, bukankah relasi kerja ini saling membutuhkan? Kalau butuh, kok disepelein?

Kasta soal pekerjaan, kiranya memang masih terlalu kuat di tengah masyarakat. Sebegitu kuatnya, sehingga rasa-rasanya ada kebanggaan jika berhasil bekerja di posisi tertentu. Lantas, sadar tidak sadar, meremehkan dan sewenang-wenang dengan pekerjaan lain yang dianggap tidak telalu punya kuasa. Padahal, bukannya seharusnya setiap pekerjaan itu adalah suatu hal yang setara? Toh, pekerjaan yang satu dengan lainnya ujung-ujungnya bakal saling membutuhkan juga, kan? Lantas, kenapa kita senang menggolong-golongkannya, kemudian menganggap ada yang lebih rendah dan lebih tinggi di antara yang lain?

Saya cukup sedih melihat status Facebook seorang ibu yang berprofesi sebagai PNS di kota Tangerang. Dalam foto reuni dan makan-makan dengan teman seprofesinya, bisa-bisanya beliau ini mengatakan soal betapa bersyukurnya dia dapat berada di momen tersebut. Dan di saat yang bersamaan, beliau “mengasihani” orang lain yang saat ini hanya bisa nggosok WC. Begini detail yang beliau katakan,

“Kegiatan hari ini reoni makan2 emangnya qmu babu kerjaan cuma ngosek wc”, ungkapnya disertai emot tertawa.

Di situ dengan jelas, beliau mengungkapkan kata “babu”. Sehingga, status tersebut tentu telah “menyenggol” sebuah profesi yang dekat dengan kita. Lantaran kata-kata di status tersebut telah membuat sakit hati salah satu pihak, kecaman pun datang padanya. Lantas, dengan tidak ada rasa bersalah terhadap kata-kata yang telah diketikannya, beliau justru menegaskan bahwa yang dikatakannya adalah fakta yang sebenarnya terjadi. Bukanlah opininya semata.

Hadeeeh, saya jadi bingung. Beliau ini lagi belajar satire, atau bagaimana, sih? Dengan klarifikasi semacam itu, jelaslah beliau semakin viral dan menerima begitu banyak hujatan. Ketika viralnya status Facebook beliau ini sudah keterlaluan, akhirnya beliau ngaku kalau postingan tersebut di-hack, dan beliau meminta maaf. Dari pihak Sekretaris Daerah Kota Tangerang sendiri, memberi keterangan kalau akun tersebut di-hack orang yang tidak bertanggung jawab. Apalagi foto yang disematkan dalam postingan tersebut, juga merupakan foto tahun 2017.

Baca juga:  Panduan bagi Perempuan untuk Memahami dan Bersikap pada Pria

Yaudah, nggak apa-apa. Semoga status tersebut memang betul-betul di-hack oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Semoga juga minta maafnya sungguh-sungguh. Kalaupun sebetulnya soal di-hack ini hanya karang-karangan saja, semoga minta maafnya karena paham dengan “fakta” yang diungkap beliau ini memang nggak ada etis-etisnya untuk dijadikan status. Semoga minta maafnya ini, bukan hanya terlahir dari desakan netizen semata. Aminnn~

Terlepas dari apakah postingan tersebut sebetulnya di-hack atau tidak, berbicara soal asisten rumah tangga, pernahkah kita kepikiran kalau begitu banyak masyarakat menengah ke atas yang cukup tergantung pada mereka untuk ngurus “rumah tangganya?” Lantaran, begitu besarnya peluang ini, sampai-sampai menjadikan para asisten rumah tangga ini meninggalkan “rumah tangganya” sendiri demi ngurusin “rumah tangganya” orang lain.

Nggak sedikit dari mereka yang harus “kerja” 24 jam, stay, dan selalu siap sedia ketika dibutuhkan. Kita pernah bayangin, nggak sih, kalau jadi mereka? Apa betul pikirannya bisa betul-betul bebas? Bisa jadi, saat tidur pun mereka juga jarang bisa ngerasa tenang. Ada pikiran, untuk selalu siap sedia ketika dibutuhkan. Belum lagi yang jobdesk pekerjaannya betul-betul sulit dideskripsikan. Seolah-olah, jadi bisa dimintai tolong apa saja.

Saya terkadang merasa sedikit sedih, saat momen mendekati atau setelah lebaran, begitu banyak orang yang merasa takut kalau asisten rumah tangga nya nggak kembali lagi setelah pulang kampung. Terus, muncul ungkapan-ungkapan yang mempertanyakan kesetiaan si asisten rumah tangga ini. Lha, memangnya kalau mereka nggak balik lagi, kenapa? Bukankah itu adalah hak-nya untuk memilih pekerjaan yang membuatnya nyaman? Kalau pekerjaan yang mereka lakoni sudah mendapatkan timbal balik yang mumpuni dan bisa turut menyejahterahkan keluarga yang ditinggalkan. Tentu mereka juga bakal kerasan-kerasan aja dan bakal balik lagi. Wong, masih sama-sama membutuhkan.

Baca juga:  Saya Takut Ditinggal Pacar Karena Mudah Marah-Marah

Akan tetapi, kalau mereka nggak balik lagi. Bisa jadi, jangan-jangan sebetulnya selama ini mereka sudah nggak merasa nyaman. Sudah nggak kerasan. Merasa hak-haknya tidak dipenuhi dengan seutuhnya. Ata malah, hak itu sebetulnya sudah mereka dapatkan—bahkan lebih dari kesepakatan awal. Namun, ada hal-hal lain yang membuatnya memilih lebih baik dekat dengan keluarga saja.

Bukankah memang ada begitu banyak pertimbangan ketika kita memutuskan untu memilih pekerjaan? Lantas, mengapa ketika asisten rumah tangga tidak kembali setelah lebaran, sering kali dipersalahkan sebagai orang yang tidak dapat menjaga komitmen? Kenapa para “tuan” dan “nyonya” ini nggak intropeksi diri dulu, saja? Seperti menyadari, bahwa keduanya sebetulnya sama-sama saling membutuhkan. Kalau ada satu pihak yang memilih pergi, itu artinya ada kebutuhannya yang belum dapat dipenuhi oleh pihak yang lain.

Nggak sedikit pula yang merasa dikhianati oleh asisten rumah tangga nya sendiri. Baik nggak balik lagi setelah lebaran, merasa dibohongi katanya suaminya sakit tapi terus nggak kembali lagi, barang-barangnya dicuri, dan sebagainya. Padahal, para asisten rumah tangga ini sudah dipenuhi hak-haknya, diperlakukan dengan semestinya.

Namun, bukankah kita memang tidak dapat membeli kesetiaan seseorang? Memperlakukan mereka setara dengan kita, seperti memberi hadiah, memberi jatah libur, makan di tempat yang sama dengan kita, serta keleluasaan yang lain. Bukankah itu memang suatu hal yang harusnya mereka dapatkan sebagai manusia? Mungkin ada di antara mereka yang mengecewakan. Tapi nyatanya, mereka sendiri tidak mendapatkan perlindungan apa pun untuk pekerjaan mereka yang nggak sepele justru sebetulnya begitu banyak risiko ini. Apakah ini bisa dikatakan sebagai relasi yang adil?

Lagi-lagi, kita jangan sampai lupa. Kalau asisten rumah tangga ini juga manusia. Kita nggak bisa dan bahkan nggak berhak membeli kesetiaannya pada kita. Bagaimanapun caranya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles