Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Wacana Rektor Impor dan Pemerintah Kita yang Hobi Mengimpor

Audian Laili oleh Audian Laili
27 Juli 2019
A A
rektor Impor MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kalau punya persoalan, Pemerintah senang betul mendatangkan sesuatu dari luar. Termasuk mendatangkan Rektor Impor.

Sungguh visioner sekali pemerintah kita ini. Setelah mengimpor sampah dengan dalih untuk industri, kini muncul wacana akan mendatangkan rektor impor ke negara kita tercinta. Menurut Menristekdikti, M Nasir, dengan adanya rektor dari luar negeri hal ini bisa meningkatkan kualitas pendidikan dan SDM di kampus-kampus Indonesia.

Iklan

Supaya gagasannya tersebut tampak lebih “menyakinkan”, beliau memberi contoh beberapa negara yang berhasil menerapkan soal rektor impor ini. Seperti Singapura, Taiwan, dan China yang pendidikannya jadi maju salah satunya karena punya rektor dari luar negeri. Oleh karena itu, beliau berharap di tahun 2020 nanti kita sudah punya rektor dari perguruan tinggi asing.

Karena perihal mendatangkan rektor impor ini berhubungan dengan budget keuangan kita, Menteri Keuangan, Sri Mulyani sendiri terlihat setuju dengan wacana tersebut. Menurutnya, sistem pendidikan kita memang harus terbuka dengan belajar dari praktek sukses negara lain.

Mungkin kita memang nggak cukup cuma ikutan acara “motivasi sukses” dari orang-orang luar negeri yang sudah maju itu. Akan tetapi, supaya ilmunya bisa terinternalisasi dengan lebih mantep, orang-orang dari luar itu juga perlu ngajarin sambil ikut ngejalanin. Seperti, learning by practice yang lagi hits.

Soal usulan rektor impor dari Menristekdikti ini, saya setuju-setuju aja. Bayangkan saja, jika sebelumnya kita terlalu sering jadi “budak” perusahaan asing. Terus, kapan lagi kita bisa mempekerjakan orang asing untuk diperbantukan di negara ini. Bukankah itu sungguh kesempatan yang tidak bisa ditolak begitu, saja?

Memang sih, rektor itu kelihatannya sebuah jabatan yang punya hierarki paling tinggi dalam sebuah kampus. Tapi, jangan lupa. Rektor itu hanyalah jabatan struktural. Jabatan yang bisa diutak-atik “dengan mudah” sama yang punya jabatan lebih tinggi. Kalau begitu, bukankah sebetulnya rektor impor itu hanyalah “babu” kita?

Tentu tidak perlu saya jelaskan dengan panjang lebar. Kalau dalam ruang lingkup akademik, orang yang punya tingkatan paling tinggi, itu bukan rektor. Tapi (((profesor))). Nggak percaya? Yaudah, coba saja sampeyan-sampeyan ini amati teman-teman sampeyan yang kuliah di luar negeri. Apa mereka pernah menyombongkan soal rektornya? Yang sering dibicarakan soal profesornya, bukan? Kayak nyebutin namanya siapa, terus ahli di bidang apa. Betul, tidak?

Kalau saja kita mau “melihat” bagaimana Jepang bangkit dari keterpurukan. Bukannya ribet-ribet mendatangkan orang-orang dari luar negeri, mereka justru menerjemahkan buku-buku dari luar ke dalam bahasa mereka. Itu artinya apa, Malih? Jadi, mereka ini memilih untuk mempelajari betul isi otak yang nulis buku-buku tersebut.

Untuk memperbaiki bangsanya, mereka nggak butuh dimanajemen atau diatur-atur sama orang luar. Mereka lebih butuh untuk dikukuhkan pemikirannya dengan lebih matang. Yang dibenerin itu konsepnya. Pemahamannya. Ya, fyi aja, kalau konsepnya aja masih belum bener, mau diatur bagaimanapun juga, ya bakal tetep aja kayak gitu.

Nggak perlu ndakik-ndakik, ngomongin soal pendidikan tinggi. Kalau persoalan sederhana tentang pentingnya memisahkan sampah menurut jenisnya saja, masih belum terlekat erat-erat di otak kita. Padahal kalau konsep ini sudah kuat, kita kan nggak perlu lagi mengimpor sampah.

Akan tetapi, mungkin memang pemerintah kita lebih suka mendatangkan sesuatu yang impor-impor. Pokoknya kalau ada yang terlihat nggak kompeten, ya diimpor aja. Nggak menutup kemungkinan, kalau suatu saat nanti mereka menyadari kinerja pemerintah sendiri nggak baik, ya akhirnya pemerintahnya bakal impor juga. Ya, siapa, tahu~

Terakhir diperbarui pada 27 Juli 2019 oleh

Tags: Pendidikanperguruan tinggirektor imporsampah impor
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

1 Juta Sarjana Jadi Pengangguran hingga Terpaksa Pinjol untuk Biaya Konsumtif, Apa yang Harus Pemerintah Lakukan?

11 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

17 Juni 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Ambisnya Orang Tua di Jogja demi Sekolah Favorit untuk Anaknya

1 Juni 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Gus Yahya dalam sambutan pembukaan Muktamar ke-35 NU: Nahdlatul Ulama harus bersinergi dengan pemerintah untuk kemaslahatan rakyat MOJOK.CO

Gus Yahya: NU Tidak Punya Jalan Lain Selain Kerja Sama dengan Pemerintah jika Ingin Hadirkan Manfaat Nyata

27 Agustus 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

24 Agustus 2026
tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak-Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu MOJOK.CO

Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu

24 Agustus 2026
dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.