MOJOK.CO – Usai penulis skenario FTV “Kisah Nyata” Indosiar nulis di Mojok, tulisan balasannya pun langsung bermunculan. Ngejar trefik yha?

Saya rasa, saya tidak perlu menjelaskan posisi saya karena disclaimer sudah ada di judul tulisan ini.

Oh iya, hal ini penting saya lakukan agar nanti Mas Cepi Komara nggak mengira, “Halah paling ini yang nulis nggak pernah nonton FTV dan tayangan televisi,” atau, “Halah penonton Netflix, Disney Plus, Viu, kok ikut-ikutan komentar FTV!”

Jadi begini Mas Cepi, saya ingin membalas tulisan sampean. Eh bukan ding, lebih tepatnya membalas pembelaan yang sampean tulis di Mojok tempo hari.

Saya dukung hak Mas Cepi bersuara sebagai penulis skenario FTV, wabilkhusus untuk yang judulnya “Bagaimana Menyadarkan Istriku Yang Terlalu terobsesi K-Pop” dan “Istriku Menelantarkan Keluarganya demi Jadi Artis Tiktok”. Saya dukung penuh. Cuma saya dukung bersuaranya aja, kalau isi suaranya sih, ya—maaf—belum tentu.

Wajar sih kalau penulis skenario FTV Indosiar sekelas Mas Cepi Komara harus turun gunung bikin semacam klarifikasi. Sampai ditulis di Mojok pula. Artinya, hujatan netizen atas karya belio itu ternyata diperhatikan dan direnungi juga sejauh ini.

Saya pikir selama ini, penulis skenario FTV Indosiar itu cuek aja dan cuma mikir yang penting bisa hidup dari bikin naskah skenario. Mau se-absurd atau seaneh apapun menurut netizen, mereka toh nggak peduli. Cari duit ini kok, udah nggak ada waktu lah buat ngurusin omongan orang.

Weladalah, ternyata penulis skenario kayak Mas Cepi ini masih perhatian juga dengan keresahan netizen selama ini, bahkan sampai bikin surat ke seluruh netizen Indonesia.

Tapi ini wajar juga sih, apalagi belakangan karya-karya Mas Cepi kan lebih sering dihujat sama netizen. Ya apalagi kalau bukan karena dari judul dan jalan cerita yang anget-anget-lucu itu. Dan karena hujatan itu sudah terjadi berkali-kali kayak orang rutin minum obat mencret, wajar kalau Mas Cepi akhirnya kayak geregetan membalas hujatan itu.

Oke, balik ke tulisan Mas Cepi Komara.

Gini, Mas. Tulisan Mas Cepi itu sebagian saya sepakat. Tapi sebagiannya lagi tidak sama sekali. Terlebih karena Mas Cepi tidak memberikan semacam tanggapan yang—meski nggak seabsurd skenario FTV-nya—tapi terasa kurang pas menanggapi poin-poin yang dikritisi netizen.

Baca juga:  Keadilan untuk Fredrich Yunadi dari Vonis 7 Tahun Penjara Untuknya

Mari saya perlihatkan tanggapan-tanggapan Mas Cepi yang perlu kita udar bersama-sama. Buat Mas Cepi bacanya pelan-pelan saja ya. Nggak usah buru-buru.

Oke saya mulai dari awal lagi ya, Mas.

Cuplikan video FTV berjudul “Istriku Menelantarkan Keluarganya Demi Jadi Artis Tiktok” viral. Netizen mengkritik film itu. Poin yang bikin netizen mengelus dada yaitu saat si anak dan ayahnya joget-joget TikTok agar si ibu yang sedang koma bisa sadar.

Pada akhirnya si ibu memang sadar setelah mendengar musik TikTok. Namun netizen banyak yang protes karena scene tersebut dirasa nggak realistis. Akhirnya banyak lah yang menghujat karya itu. Lantas Mas Cepi Komara, si penulis skenario, menulis tanggapan atas respon netizen tersebut.

Pada mulanya penjelasan Mas Cepi sebagai penulis skenario itu menarik. Apalagi ketika muncul perbandingan dengan contoh film luar negeri, yang secara garis besar punya konsep sama, yakni: membangunkan orang koma dengan cara aneh-aneh. Dari film India 3 Idiots sampai film Indonesia This is Cinta.

Oke, oke, first impression saya baca tanggapan itu adalah, “Wah, argumentatif juga nih.” Namun baru jalan sekitar limat menit kemudian, saya mikir lagi lalu mbatin, “Sek, sek, sebentar. Nggak gitu dong cara mikirnya.”

Jadi gini, Mas Cepi.

Jawaban Mas Cepi dengan memakai contoh-contoh film yang template-nya sama itu (bangunin orang koma pakai berbagai cara) sebenarnya sama sekali tidak menjawab tuduhan netizen. Soalnya yang netizen tuduhkan itu adalah adegan tidak masuk akalnya, bukan template-nya.

Sebab kok bisa-bisanya orang lagi sekarat bukannya didoakan, tapi malah dijogeti TikTok?

Kalau Mas Cepi bilang, kenapa Rancho waktu bangunin Raju di film 3 Idiots nggak ada yang protes? Hayaaa jelas nggak ada yang protes dong ya, Mas.

Kenapa? Karena urusan pernikahan di India itu bagi perempuan secara kultur sangat rumit. Jadi wajar kalau cara membangunkan Raju adalah dengan “pura-pura” membereskan persoalan rumit itu. Orang yang nonton di Indonesia bisa paham akan itu karena memang ada scene penjelasannya di bagian awal-awal film.

Baca juga:  Teror di Masjid Selandia Baru dan Rasanya Jadi Muslim di Amerika

Lagian, kan fokus filmnya bukan di situ. Judulnya aja “3 Idiots” bukan “Sahabatku Mau Bunuh Diri karena Habis Ngencingin Rumah Rektor Kampusnya”. Sedangkan di skenario yang Mas Cepi tulis itu kan dari judul udah kelihatan kalau fokus ceritanya adalah di TikTok, bukan cara bangunin orang koma-nya.

Jadi selain perbandingannya meleset, analogi yang dipakai nggak pas dan—jelas—nggak menjawab keresahan netizen juga. Ibarat kata, ini adalah penjelasan yang… mrucut.

Nah, tapi nggak apa-apa, Mas. Supaya tanggapan sampean nggak mubazir-mubazir amat, saya bisa sedikit bantu.

Gini, Mas Cepi. Barangkali Mas Cepi bisa menjelaskan kalau scene tersebut logis, misal dengan memberikan hasil penelitian bahwa musik yang disukai pasien (kebetulan kasus di skenario Mas Cepi adalah musik TikTok) bisa menyadarkan orang koma.

Atau Mas Cepi bisa menjelaskan cara kinerja syaraf otak. Bagaimana sistem syaraf otak yang mampu terangsang dengan musik TikTok. Artinya, bukan cuma selesai dengan kasih adegan film lain sebagai pembanding, tapi juga jelasin bagian cerita yang sampean bikin sendiri.

Selain itu, menurut sampean, penggunaan TikTok dalam proses membangunkan orang koma itu adalah upaya untuk menambah kesan dramatis. Oke, memang betul.

Yang terjadi dengan film-film yang sampean contohkan kayak 3 Idiots dan This is Cinta, kesan dramatis itu memang muncul, tapi maaf, untuk FTV sampean yang bangunin orang koma pakai TikTok bukan kesan dramatis yang muncul di kami, tapi malah lirik lagunya Payung Teduh…

~sedikiiit cemaaas… banyaaak bingungnyaaa~

Saya bikin tulisan ini karena saya dulu adalah penonton setia FTV, Mas. Semua tayangan televisi saya tonton bahkan sampai sekarang.  Dari yang soal pelakor, pengusaha sukses yang bangkrut, azab, talkshow nggak jelas, sinetron, sampai acara musik campur gameshow. Semua saya sudah tonton.

Setelah saya tonton dengan seksama, FTV model begituan, yang temanya seperti yang digarap Mas Cepi, belakangan memang terjadi semacam over-creativity. Karena over, jatuhnya malah absurd dan jauh dari realitas penontonnya yang dulu.

Baca juga:  Bang Haji Rhoma Irama dalam Gubuk Politik

Padahal ya, Mas, dulu itu, FTV-FTV bertajuk “Kisah Nyata” itu plotnya ringan-ringan. Cocok dengan masyarakat kelas menengah ke bawah kayak saya. Nggak seaneh sekarang yang mobat-mabit ceritanya.

Misalkan FTV dulu itu menceritakan kehidupan seseorang yang sukses lantaran suka bersedekah. Atau cerita dua orang pedagang, satu pakai cara curang, satunya lagi bermain jujur. Yang curang kena batunya, sedangkan pedagang yang jujur usahanya makin mujur. Udah, simpel.

Oke, saya tahu, kalau skenario FTV hanya bertahan sama kisah-kisah dongeng kayak gitu, FTV Indosiar “Kisah Nyata” bakalan ketinggalan, makanya kemudian dibikin yang ngikutin tren, ngikutin zaman.

Masalahnya, bukannya mengikuti zaman doang, tapi yang ada malah senggol-senggol pangsa pasar lain yang tadinya bukan termasuk target penonton FTV model beginian. Mungkin maksudnya adalah memperbanyak rating, cuma ya itu, konsekuensinya nggak dipikirin.

Lah iya, tontonan simpel begini kok tiba-tiba ada K-Pop sampai TikTok? Itu kan artinya nyentil-nyentil ganjen pengen viral di media sosial kan? Kalau beneran pangsa pasar ini adalah ibu rumah tangga atau pemuda selo kayak saya, lah kenapa nggak ngangkat yang relate dengan kehidupan kami-kami aja?

Kenapa malah bahas K-Pop sampai TikTok? Mana udah tahu K-Pop sama TikTok habitatnya di medsos hayaaa jelas ini sama aja nyerahin diri untuk dibuli. Coba-coba cari segmen pasar baru, tapi cuma pengin ratingnya doang, nggak siap dengan habitat baru yang lebih brutal.

Ya wajar kalau akhirnya FTV beginian jadi “meledak”. Meledak diledek habis-habisan tapi ya, bukan meledak ditonton.

Dari sana kita tentu bisa menyimpulkan… bahwa yang sedari awal ganjen coba-coba pengen viral di medsos siapa? Hayooo ngakuuu? Industri FTV-nya sendiri kan?

Ya udaaah sih, dijalani aja keviralan ini untuk sementara waktu. Dan, plis, dinikmati aja.

BACA JUGA Tanggapan buat Netizen dari Penulis Skenario FTV ‘Istriku Menelantarkan Keluarganya demi Jadi Artis Tiktok’ atau tulisan Muhammad Arsyad lainnya.