MOJOK.COBanyak orang yang kini membenci televisi dan enteng saja menghujat tayangan FTV di televisi hanya karena di mata mereka tampak tak masuk akal.

Setelah tayangan FTV Kisah Nyata Indosiar yang saya tulis berjudul ‘Bagaimana Menyadarkan Istriku Yang Terlalu terobsesi K-Pop’ viral di media sosial beberapa waktu yang lalu, kini, giliran karya saya yang lain berjudul ‘Istriku Menelantarkan Keluarganya Demi Jadi Artis Tiktok’ yang nyusul viral.

FTV tersebut viral karena terdapat satu scene yang menurut netizen yang (katanya) budiman tak bisa diterima logika. Scene tersebut adalah ketika seorang ayah dan anaknya berjoget Tiktok di samping si ibu yang sedang terbaring tak sadar karena koma. Suara musik khas Tiktok tersebut akhirnya membuat si ibu sadar dan terbangun dari komanya.

Tak butuh waktu lama sampai potongan scene tersebut tersebar di berbagai kanal media sosial lengkap dengan aneka hujatan dan guyonan terhadapnya. Kebanyakan mempertanyakan logikanya, sisanya tentu saja menghujat dengan kata-kata kasar.

Sebagai penulis skenario FTV tersebut, saya cukup heran dengan banyaknya hujatan terkait logika potongan scene tersebut.

Maksud saya, begini, apa mereka belum pernah nonton film ‘3 Idiots’, wabil khusus adegan saat Rancho (Amir Khan) mencoba membangunkan Raju (Sharman Joshi) yang koma dengan bilang bahwa teman mereka Farhan (Madhavan), mau menikah dengan kakak Raju yang kemudian membuat denyut jantung Raju makin menguat sampai akhirnya sadar lalu dia marah? Bukankah inti dalam scene tersebut adalah semangat hidup Raju tumbuh karena tak mau kakaknya dinikahi Farhan?

Ada juga adegan di film ‘This is Cinta’, adegan ketika salah satu tokoh membawa piano ke rumah sakit untuk menyadarkan tokoh lain yang sedang koma.

Atau kalau mau mengulik lebih serius, ada banyak sekali film dan novel yang punya scene seorang tokoh membangunkan orang lain yang sedang koma dengan berbagai cara untuk menambah kesan dramatisasinya.

Kenapa tak pernah ada orang yang mempermasalahkan scene menyadarkan orang koma di ‘3 Idiots’ atau ‘This is Cinta’ namun menghina habis-habisan scene serupa di ‘Istriku Menelantarkan Keluarganya Demi Jadi Artis Tiktok’?

Kenapa skenario film luar boleh-boleh saja ada adegan semacam itu sedangkan di FTV yang saya tulis adegan tersebut seperti begitu terlarang?

Bagi saya sendiri, ini menjadi semacam ironi sekaligus pelecut dalam berkarya.

Selama banyak penonton dan netizen (yang paling semangat menghujat tapi nggak nonton full tayangannya) selalu menjelek-jelekkan acara TV, selama itu pula saya akan terus berimprovisasi dengan membuat karya-karya out of the box dengan scene-scene yang menurut saya masih logis.

Ya, bagi saya, seseorang yang koma kemudian terbangun karena mendengar apa yang selama ini ia sukai adalah hal yang sangat masuk akal. Namun bagi orang yang logikanya sudah tertutup oleh kebencian, tentu hal semacam itu bullshit belaka.

Di China, seorang gadis kecil bernama Ying Nan bisa sadar dari koma panjangnya setelah ibunya yang bernama Liu Ruixiang menyanyikan lagu Gangnam Style-nya Psy. Di belahan bumi yang lain, ada kisah gadis kecil bernama Charlotte Neve yang tersadar dari koma karena pendarahan otak setelah mendenga lagu Rolling in The Deep-nya Adele. Atau kisah Layla Towsey yang terbangun dari koma setelah mendengar lagu Mamma Mia-nya ABBA.

Tentu saja masih ada banyak sederet kisah semacam itu yang bisa ditemukan di berbagai media.

Saya membuat cerita dan adegan-adegan semacam itu agar tayangan TV konvensional tetap hidup dan nggak monoton. Juga biar saya dan keluarga saya terhidupi dari pekerjaan saya sebagai penulis skenario FTV dan sinetron. Pun dengan semua orang-orang yang bekerja di TV. Penulis skenario, tak bisa tidak, adalah salah satu elemen penting dalam bisnis televisi yang biasanya bekerja sebelum orang lain bekerja.

Pada titik ini, saya merasa heran kenapa harus ada orang-orang yang merasa dengan meninggalkan tayangan TV Indonesia membuat mereka terlihat keren? Saya pribadi menonton Netflix dan TV Streaming lain berbagai genre untuk referensi dan hiburan. Dari series horor kayak The Haunting of Hill House, drama action kayak Breaking Bad, genre fantasy seperti Game Of Thrones, sampai drakor sweet dan kekinian macam Start up hingga anime kayak one Punch Man dan Attack on Titan.

Tak hanya itu, parodi drama di Instagram sampai film-film Indie dan dokumenter di Youtube pun juga saya tonton.

Sebagai penonton, saya selalu berusaha menghargai sebuah karya di mana pun medianya. Penonton cerdas akan menyikapi semua tayangan secara bijak, sebab tayangan dalam bentuk film bisa ada di mana saja.

Hari ini, menonton drakor The Penthouse di Viu bisa tampak keren, lalu apa bedanya dengan menonton drakor serupa di Trans TV? Sudah ada banyak sensor. Tak ada itu adegan-adegan kekerasan, pembunuhan, kissing, dan sebagainya. Elemen-elemen itu memang disensor karena sudah menjadi prosedur dan bentuk tanggung jawab moral stasiun televisi.

Ada banyak pembatasan yang didapat oleh para pembikin karya yang tayang di televisi. Dan pembatasan itu, mau tak mau, membuat kami harus sekreatif mungkin mengembangkan cerita tanpa harus menyertakan adegan kasar, kejam, terlalu porno, dan segala rupa.

Kita tahu, sekarang ini, orang-orang seakan benci sekali dengan televisi. Mereka menjauhinya dan memilih untuk menonton layanan video streaming. Orang-orang merasa menonton Netflix, Viu, Disney+, dan layanan-layanan video streaming lainnya jauh lebih keren ketimbang televisi.

Kami harus bekerja sangat keras agar tayangan yang kami buat bisa berumur panjang. Yang mana artinya kami harus membuat tayangan dengan rating yang bagus. Selama rating bagus, iklan masuk, program bisa bertahan, orang-orang yang bekerja di balik layar seperti saya bisa makan.

Apakah viral berisi hujatan dan bully-an netizen membuat saya peduli? Jelas nggak. Yang membuat saya peduli adalah rating. Kalau judul atau potongan adegan FTV saya viral dan orang-orang yang selama ini meninggalkan tayangan televisi membuat mereka kembali atau seenggaknya menoleh sedikit saja, maka saya akan terus melakukan terobosan-terobosan dalam FTV-FTV lain yang saya tulis, sampai mereka tak membeda-bedakan lagi TV berbasis OTT (Over The Top) dengan TV konvensional.

Masalah orang menyebut saya jancok, bangsat dan blablabla, itu masalah moral dan mental mereka saja. Karena hujatan netizen (apalagi yang cuman nonton sepotong-sepotong), sama sekali nggak memengaruhi semangat saya menulis skenario.

Kalau saya kemudian disuruh introspeksi oleh netizen agar memperbaiki kualitas, maka itu percuma saja. Toh pada akhirnya, yang menentukan naskah akan dieksekusi atau tidak adalah tim kreatif, produser, dan bagian supervisi naskah.

Selebihnya, saya tentu akan lebih nurut kepada P3 SPS KPI dan Production House yang meng-hire saya ketimbang nurut kepada netizen pembully. Saya akan ikuti pakem dan aturan-aturan yang sudah ada terkait apa saja yang boleh dan tak boleh ditulis di skenario. Saya juga nggak akan patah semangat hanya karena dihujat, nggak akan pundung kalau dirundung, nggak peduli juga mau viral atau tidak.

Karena percayalah, bahwa kami (saya, sutradara, crew, aktor-aktris, PH dan TV) lebih bahagia kalau rating program bagus (yang mana artinya penontonnya banyak) daripada viral.

Apalagi kalau sudah viral, rating bagus, itu bonus. Karena rating dari Nielsen setiap harinya selalu saja jadi misteri. Yang bisa saya lakukan sebagai penulis skenario adalah tetap menulis, mencoba out of the box, tak monoton, dan sesekali menyentil hal-hal yang memang sedang kekinian seperti K-pop dan Tiktok.

BACA JUGA Membedah Anatomi Tayangan FTV ala SCTV yang Menggemaskan