Makin lama saya lihat Mojok jadi media kakean cangkem yang sok-sokan idealis. Kadang bela Jokowi, kadang nyerang Jokowi. Maunya apa coba? Mbok fokes. Kalau mau dukung, dukung terus, jilat pantatnya sampe bersih. Kalo mau kritik, ya cari-cari kesalahannya dong, jangan cuma ngritik secara sistematis dan terukur. Media kok ndak jelas? Sok suci!

Dulunya saya kira Mojok ini media barokah yang mengamalkan ilmu dan amaliah, gak taunya hanya kanal penulis yang hobinya marah-marah. Dulu saya kira Mojok ini media tempat kritik sosial yang sehat, ujung-ujung hanya jadi tempat curhat minim manfaat.

Tapi saya bersyukur, walopun Mojok suka mengejar klik dan kerap jadi media pemakan bangkai, kali ini diam saja tak membela kaum kutu-kupret miskin gak tau diri bernama buruh. Itu lho kelompok yang gak pernah mau bersukur. Kelompok pemalas yang hobinya demo menuntut naik gaji, banyak libur, dan manja. Udah miskin, sekolahnya rendahan, banyak maunya lagi. Lho gimana? Masak demo naik ninja, demo menuntut dibelikan parfum, dibelikan rice cooker. Apa gak sekalian aja minta dibeliin tiket Djakarta Warehouse Project? Melarat kok belagu.

Mbok Buruh itu belajar ikhlas dari guru tenaga honorer. Mereka sudah kerja keras, mengabdi demi kemajuan bangsa, tapi rela dan ikhlas digaji Rp.150.000 per bulan—malah kadang  berbulan-bulan gak dibayar tapi diem aja. Nah, buruh ini udah sekolahnya cetek, eh, malah sok ikutan serikat biar bisa menekan pengusaha buat nuruti maunya. Saya kira serikat buruh itu mesti dilarang saja di Indonesia. Biar mereka bisa diem dan nurut digaji semaunya kayak guru honorer!

Coba bayangkan kalo guru honorer punya serikat dan bikin organisasi? Mereka bisa melakukan solidaritas bersama, melakukan boikot mengajar, menekan pemerintah untuk memberikan hak mereka yang ditahan, dan yang paling buruk: guru-guru honorer ini bisa sadar bahwa mereka tak bisa ditindas! Oleh karena itu, saya sangat mendukung tindakan represif terhadap kelompok buruh yang berserikat. Mereka itu sok, sok bersolidaritas, sok berogranisasi, sok sadar akan hak. Tau apa mereka soal hak? Lulus SMP aja kadang nggak.

Para buruh itu pantesnya digaji rendah, dipaksa masuk 7 hari seminggu, disuruh lembur sampe tengah malam. Sapa suruh gak sekolah? Coba mereka sekolah tinggi kayak saya, bisa sampe perguruan tinggi, gak bakalan mereka ditindas kayak gitu.

Buruh itu semestinya bersyukur ke hadirat kelas menengah. Coba buruh-buruh miskin gak tau diri itu mikir, dikiranya yang memperjuangkan hak cuti hamil itu siapa? Kelas menengah! Siapa yang memperjuangkan hak kerja 8 jam perhari? Kelas menengah! Siapa yang memperjuangkan hak dapet Tunjangan Hari Raya? Kelas menengah semua.

Berkat perjuangan kelas menengahlah hak cuti hamil dan THR itu jadi peraturan pemerintah yang resmi. Mana mungkin buruh-buruh miskin yang gak lulus SMP itu bisa memperjuangkan hak kayak gitu? Itu semua dari kelas menengah. Harusnya kaum buruh ini berterima kasih ke kelas menengah yang sudah memberikan berbagai hak kemudahan dalam bekerja. Eh ini malah ngelunjak, sok menuntut hak lebih, minta gaji tinggilah, minta subsidi ini-itu. Buruh itu semestinya nerima digaji kecil dan ditindas, siapa suruh mereka miskin dan gak sekolah tinggi?

Enak aja buruh-buruh ini menuntut minta gaji 4,2 juta. Saya yang kelas menengah aja harus menjilat sana-sini, jegal sana-sini, kerja keras supaya bisa dapet gaji segitu. Eh ini sok-sokan berserikat dan bersolidaritas menekan pengusaha melalui pemerintah buat gaji tinggi.

Sebagai karyawan, ya bedalah status sosial saya dengan buruh. Buruh itu sekolahnya rendah, saya sekolahnya tinggi. Buruh kerja di pabrik, saya di kantor yang ada AC-nya. Buruh itu atasannya mandor, atasan saya bos. Bedalah. Mana ada yang sama?

Saya kira buruh ini perlu ditindak tegas. Pake pentungan kalo perlu. Biar ngerti disiplin. Masak teriak gaji kurang tapi demo naik Ninja. Gaji itu harusnya cukup kalau gaya hidupnya gak berlebihan. Buruh kok pengen punya gajet mahal, punya kendaraan, punya baju bagus, punya jam mewah dan pengen liburan. Belajarlah dari kesederhanaan kelas menengah seperti saya. Mana pernah saya pake kartu kredit buat beli iPhone dengan cicilan setahun? Mana pernah saya beli mobil dengan cicilan 5 tahun?

Gaji saya, sebagai kelas menengah, ya ditabung buat kebutuhan sehari-hari, gak berlebihan kayak nongkrong di café mahal, ngutang buat beli tiket ke Ibiza, apalagi beli benda-benda gak penting melebihi gaji demi pamer ke orang lain. Yang punya kelakuan kayak gitu kan cuma buruh. Buruh itu ya gitu, hobinya ngabis-ngabisin duit gaji buat hal-hal yang gak perlu. Kelas menengah, mana ada yang kayak gitu? Kami ini orang yang selalu bersyukur, tak pernah pamer, dan bersahaja dalam hidup.

Lagipula ngapain sih demo? Kenapa gak pake hashtag aja? Memangnya buruh gak tahu ada yang namanya twitter? Protes itu ya lewat media sosial. Demo kok panas-panas di jalan-raya bikin macet. Cukup ngetwit aja, bikin trending topik, sewa buzzer kek, buat angkat isu buruh. Masak hal penting kaya gini aja gak tahu? Gerakan sosial praksis di lapangan itu so last year. Gerakan sosial ya lewat facebook, twitter, dan petisi online. Kayak kalo demo di jalan bakal efektif aja, emang pengusaha dan penguasa mau denger? Ya gak bakalan lah.

Di atas itu semua, apa buruh gak mikir: kalo demo terus apa gak kasian sama pengusaha? Pengusaha itu mana ada yang cari untung banyak, mereka itu cari untung serupiah demi rupiah. Mana ada pengusaha yang ambil nilai tambah benda dengan marjin tinggi? Mana ada pengusaha yang bikin produk yang sampe gak bisa dibeli sama buruhnya sendiri? Jadi pengusaha itu untungnya dikit, makanya mereka itu hanya bisa kasih upah murah.

Mana ada pengusaha yang ambil keuntungan dari nilai produksi ratusan kali lipat? Kalo bisa melakukan ini untung perusahaan ya tinggi, tentu mereka bisa menggaji buruh dengan tinggi pula. Sayangnya, di Indonesia, pengusaha-pengusaha malang kita itu untungnya kecil-kecil, untuk makan saja mereka susah. Mana ada pengusaha yang demikian kaya, yang keuntungan perusahaannya bisa mensubsidi gaji buruh lebih tinggi dan masih bisa meraup laba? Gak ada, pengusaha Indonesia itu ya melarat juga.

Untuk itu, saya peringatkan sekali lagi kepada kaum buruh: jangan demo-demo lagi. Kasihanilah para pengusaha malang ini, dan belajarlah kesederhanaan serta gaya hidup bersahaja dari kelas menengah.

  • nasruddin

    terlalu satir om.. sampe saya ragu… satir apa memang lagi maki-maki buruh.. kehilangan fokes nih…

    • sastrooooo

      bagian maki2 buruh mungkin memang makian, mungkin lho ya. sekaligus si “saya” memaki dirinya sendiri karena sosok kelas menengah tersebut tidak sadar (pingsan kali) kalau dirinya juga buruh.

      Definisi/arti kata ‘buruh’ di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah

      Bagian pengusaha sederhana yang ngga mungkin untung banyak itulah satir sesungguhnya

      • buruh/bu·ruh/ n orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah

        karyawan/kar·ya·wan/ n orang yang bekerja pada suatu lembaga (kantor, perusahaan, dan sebagainya) dengan mendapat gaji

        beda upah dengan gaji
        kelas menengah itu digaji bukan diupah

        • Rokhim

          kalo kerja dulu baru dikasih imbalan namanya upah
          kalo dikasih imbalan dulu baru kerja namanya gaji
          mungkin gitu..

    • Firmansyah Layla Puspitak

      sama saya juga bingung bacanya , ini satir atau apa , serang sana sini , depan belakang , atas bawah

  • Satire sampai akhir! Tertanda, kelas menengah!

  • Rizki Irfandi

    ndak jelas ah ~

  • PW

    Wagu tulisan ini. Ga jelas ga fokes.

  • Perjuangan buruh gaul: Memasukkan variabel gawai dan tiket bioskop sebagai kebutuhan primer…!! 🙂
    Kata pengusaha: Mending prabriknya pindah ke Vietnam…!! 🙁

    Tapi ini masih sejalan dengan cita-cita Bung Karno; jangan jadi negara Kuli…!!
    (Makanya, sekolah yang tinggi bro…!! seperti “si kelas menengah” dalam artikel ini….)

  • Andreas Kusumajaya

    Tampaknya Ada Yang Ambigu Dalam Tulisan Ini…………Tapi Jika Ini Benar-Benar SIFAT ASLI Maka Si Penulis Akan DIJEMPUT PAKSA Pada Malam 30 September Untuk Dibawa Ke Sumur Terdekat Hehehe.

  • Gita Pratiwi

    Tulisan di mojok ini lagi ngetren ya gantung2 ga jelas juntrung. Asal ada post aja tiap hari. #Difilteraja

  • Lobo Guapo

    Tulisan gak jelas

    • atau anda yang tidak sampai?

      • Rokhim

        emang anda “sampai”?

  • Y O E D H

    Ini sekali dayung berapa pulau ya yg dilewati?
    Beruntung saya sudah install app autofokes.
    Buat yang masih gagalpaham buruan upgrade your ‘gajet’

  • Ruh Lelana

    sudahlah untuk para komentator, mestinya belajar satire dong, biar cerdas kayak penulis di atas, saking cerdasnya sampe berhasil menjadi “satir”. mestinya baca tulisan penulis di atas yang ada di blognya tentang satire, kita2 ini selera humornya terlalu rendah, saking rendahnya, ga layak jadi pembaca mojok. makanya sekolah, biar bisa minterin orang kayak penulis di atas. makanya selera humornya mesti tinggi, biar bisa nulis keren kayak Arman Dhani. dasar bego!

    • Rokhim

      mungkin di awal masuk website perlu dikasih kuis IQ, biar yang IQnya rendah ga bisa baca tulisan yg terlalu cerdas spt diatas

      • Ruh Lelana

        beda tipis antara cerdas, keras kepala, dan besar kepala.

  • zidny taqiyya

    saya suka tulisannya, meski satir tetapi terlihat keberpihakan penulis dan berusaha mengimbangi argumen yang dibangunnya .. 🙂

  • demo mah demo aja, mental orang bedabeda. kaloan investor ogahan naikin gaji mah pindah tempat, gitu kok repot…

    • investor pindah, perusahaan tutup, karyawan PHK, pengangguran
      alhamdulillah banyak yang mau jadi pengangguran

      • ya kaloan gak mau nganggur, wiraswastika kek. ngotot ikut orang? terimalah kalo digaji standar.

  • Ekman Zudha

    Menteri ente lulusan smp loh pak? Penemu-penemu hebat jaman dulu juga tidak sekolah. Artikel gak jelas ini

  • Abdel Malik

    Ini semacam makian plus penyesalan kaum menengah yang tak mampu saingi kekuatan buruh menekan pemerintah. Mudah disalahpahami. Siapkan mental dan keihlasan buat sedikit mumet buat menikmati maksud tersirat tulisan satir ini.

  • satir nonjok, bisa gagal paham ini

  • Setsuna F Seiei

    khas seperti biasa…satir nya..sampe tumpe tumpe…i like it

  • Harso Rza

    Hidup Kelas Menengah!!

No more articles