Pada mulanya Mojok saya kira adalah situs yang lucu. Situs yang menghibur. Namun belakangan saya melihat Mojok semakin sok, semakin menghakimi, dan merasa paling benar. Puncaknya adalah ketika Mojok menaikkan tulisan tidak bermutu dari Azhar Irfansyah tentang sarjana abal-abal.

Apa maksudnya, coba, menayangkan tulisan semacam itu? Mau sok kritis terhadap sistem pendidikan Indonesia? Mau sok bela wong cilik? Tulisan pretensius kok dimuat. Mojok telah menghina dan merendahkan jutaan sarjana yang sudah berusaha keras meraih pendidikan tinggi.

Dalam tulisan itu, Azhar menuduh bahwa para pengejek wisudawan abal-abal sebagai sarjana yang tidak sadar kelas, tidak memiliki empati, dan yang lebih buruk: menyebut kami sarjana abal-abal. Ini maksudnya apa? Generalisasi semacam ini kan berbahaya. Tidak semua sarjana itu serius ketika kuliah, tidak semua sarjana saat kuliah berniat mencari ilmu. Saya, misalnya, kuliah ya niatnya melepas keperjakaan. Sialnya sampe lulus juga enggak lepas-lepas ini keperjakaan.

Saya rasa saya ini sarjana beneran. Lha wong saya ikut SPMB. Jangan disamakan dong dengan orang miskin-bodoh yang cuma mampu membeli gelar. Emangnya kalo biaya kuliah mahal itu salah saya? Salah temen-temen saya?

Kalo pendidikan tinggi kita lebih milih mereka yang punya duit daripada yang nggak punya duit, salah saya? Kalo pendidikan tinggi kita menawarkan jaminan kerja daripada jaminan pengetahuan dan pemahaman keilmuan, salah saya juga? Mikir dong, Bung Azhar. Gak usah sok berempati sama sarjana abal-abal.

Salah mereka dong kalo beli gelar. Mereka wajib dipermalukan oleh saya yang lebih baik dan lebih suci. Waktu kuliah saya ini nggak pernah telat masuk kelas, selalu ngerjain tugas sendiri—gak pernah bayar temen. Tugas yang dikerjakan pun murni hasil baca buku dan pemikiran saya, bukan hasil copy-paste dari wikipedia atau blog.

Saya ini sarjana berdarah murni, jangan samakan dengan kelompok darah lumpur pembeli gelar yang rendah itu.

Kenapa? Gak terima kata-kata kasar saya? Lho, saya sarjana asli, bebas dong menghina… Wong saya sudah ikut proses secara benar.

Saya ini kuliah karena ingin mendapatkan ilmu pengetahuan. Bukan mencari gelar supaya bisa dapat kerja. Jangan samakan dengan para pembeli gelar yang tak bermartabat itu. Kalo misalnya saya kuliah di kampus pertanian atau teknik terus kerja di Bank, ya itu kan cuma kebetulan saja. Perkara ketika nanti keilmuan yang saya pelajari di kampus nggak guna itu kan urusan nanti. Masa iya teller bank bahas metode menanam padi atau membangun gedung? Intinya saya ini kuliah mencari ilmu, bukan cari gelar buat dapat kerjaan, apalagi cari almamater buat cari jaringan kepentingan.

Saya sebenarnya gak mau nulis begini. Tapi Mojok makin hari makin kurang ajar. Apa maksudnya menulis soal sarjana abal-abal, coba? Biar dikira peduli? Dikira satir? Menunjukkan kepintarannya ke orang yang lebih bodoh?

Pokoknya saya ini lebih mulia karena sudah mengerjakan tugas, rajin belajar, ikut kelas, bayar uang bangku, uang SPP. Para pembeli gelar itu kok enak banget hidupnya gak ikut semua proses itu?

Bung Azhar tahu, berapa uang yang telah orang tua saya keluarkan untuk biaya kuliah? Mahal, Bung. Mahal! Ini dengan modal 15 juta kok bisa beli gelar, enak aja. Emang Bung pikir kuliah itu murah, apa? Belum lagi kalau kami harus mengulang mata kuliah yang jelek, beli buku mahal yang hanya dipake satu dosen, apalagi kalau ada studi tour yang outputnya gak jelas. Memangnya duit itu bisa dipetik dari pohon? Mikir, Bung Azhar, mikir!

Kalo alasannya miskin lantas gak bisa kuliah, itu kan alasan yang dibuat-buat. Toh ada beasiswa, ada Bidik Misi, ada berbagai kemudahan yang bisa digunakan. Beasiswa di kampus-kampus itu pasti tepat sasaran. Memangnya ada beasiswa yang dinikmati sama orang kaya di Indonesia? Memangnya ada beasiswa subsidi BBM, misalnya, yang dinikmati sama orang yang punya motor mahal? Gak ada itu. Semua beasiswa di Indonesia itu tepat sasaran.

Beasiswa Bidik Misi, misalnya, itu kan jumlahnya jutaan. Masa nggak bisa tembus? Kalo gak bisa tembus ya bodoh. Udah miskin, bodoh lagi. Ya udah terima nasib gak usah kuliah, pake belagak beli gelar biar dapet kerjaan. Nasib miskin mah miskin aja. Jadi supir Go-Jek kek, atau entrepreneur kek, gak usah kuliah. Sadar nasib, dong. Kalo semua orang di negeri ini sarjana, siapa yang jadi babu, jadi pelayan? Mau jadi insinyur dan sarjana semua? Mimpi!

Kuliah itu cuma buat yang mampu. Makanya jangan heran jika kampus-kampus top di Indonesia parkirannya berisi mobil-mobil mewah. Karena yang boleh dan bisa kuliah di Indonesia itu cuma orang kaya. Ya ada sih orang orang miskin, tapi gak banyak. Gak percaya? Coba bikin statistik di UGM, UI, ITB, dan ITS, berapa jumlah mahasiswa miskin dan kaya? Banyakan miskin apa kaya? Banyakan yang dapet beasiswa apa yang kaya raya? Mikir, Bung, Mikir!

Para wisudawan aba-abal itu pantes dibuli dan dicibir. Mereka itu bukan korban dari sistem pendidikan kita yang buruk. Salah siapa miskin? Salah siapa gak pinter kayak saya yang bisa lolos SPMB?

Sebagai kelas menengah, saya jelas tersinggung dituduh tidak bisa menertawai diri sendiri. Memang salah kalo saya kuliah cuma buat cari gelar? Cuma buat menyenangkan orang tua? Meski saya pribadi kuliah untuk mengabdi pada ilmu pengetahuan, bukan cari gelar buat kerja, saya merasa tersinggung dengan tuduhan Azhar.

Apa bukti omongan Anda, coba? Hanya asumsi, kan? Sekadar tuduhan tidak berdasar, tipikal mahasiswa sok aktivis kiri pengangguran yang kebanyakan baca Karl Marx. Kerja dulu yang bener, baru ngomong.

Mohon ke depannya Mojok lebih selektif dalam memilih naskah. Janganlah merendahkan saya sebagai kelompok kelas menengah terdidik. Apa-apaan, saya disamakan dengan pembeli gelar. Ngawur. Sembarangan. Saya ini sarjana otentik, yang telah menempuh perkuliahan dengan baik dan benar. Mengerjakan tugas, gak pernah dugem, masuk kampus pun gak pake joki.

Saya mengancam, kalo Mojok masih menulis soal kelas menengah yang ngehek, saya akan berhenti membaca situs ini.

Sent from iPhone 13.

  • ayatayatadit

    Mlipir…

    Jaman sekarang bayangan romantis soal kawula yang berjuang susah payah ikut ujian yang diadakan negara di jaman kerajaan Tiongkok demi mendapat ijazah (status) masih ada ndak yah?

  • Mz dhan…sabar mbok ya jangan marah-marah….sinih ngisi TTS aja sama akuh 🙂

  • fickry afriansyah

    Saya sebagai lulusan BSI merasa senang dan terhibur membaca tulisan bung azhar dan bung dhani..

    Sembari menunggu komentar dari masing2 kubu petarung gengsi intelektual ini, gw pesen pisang goreng dulu

  • ray

    sabar mas.. sabar.. saya juga merasa tersinggung dengan perkataan sarjana abal-abal. bung azhar terlalu menggeneralisir srmua sarjana menjadi sarjana abal-abal. Jika beliau berangkat dari kuliah yang serius, masuk kuliah, kerjakan tugas sendiri, buat riset atau alat untuk kerja praktek atau tugas akhir, mengejar dosen ke kampus lain tempat dosen tersebut mengajar sambilan atau melanjutkan studi, tak mungkin bung azhar bisa berpikir seperti itu.

    • fickry afriansyah

      sbenernya yang bikin mz dhani jengkel bukan cuma azhar nya bung, tpi (mungkin saja) karena jenuh dan kesal dengan isi konten mojok.co

      sepenglihatan saya, mz dhan ingin nyemprot azhar dan (quality control artikel) mojok.co sekaligus.
      biar efisien

      • ray

        ya mas.. tapi editornya juga meloloskan artikel ini. apa jangan2 mojok pengen sesuatu yang kontroversi kaya tv-tv sebelah.. hehe

        • fickry afriansyah

          hahahahaa yang penting kita terhibur bagi mereka sudah cukup

  • Wahyu E.S.H

    Wakakak ini lebih satir

  • Black Baaz

    Ibarat kitab, ini kitab syarah dari kitab yang ditulis bung Azhar… manteb iki bung Dhani.. tp yg ndak ngerti bakal makin ndak ngerti :))

    • Cepi Sabre

      setuju dengan ini, dan nyatanya memang banyak yang makin gak ngerti… 🙂

  • Jo Jericho SiNaga

    keren neh tulisan, kayaknya pemred mojok minta dikudeta tuh…! wkwkwkwkkkkkk…………..

  • saya telo

    ini baru mojok namanya buakakakak

  • rozan

    Penulis mojok dikritik penulis mojok, yang sebenarnya mengkritik kelompok kelas menengah ngehek dengan gaya khasnya.
    Dan itu cuma ada dimojok.
    Mau tersinggung bagaimana, ternyata tingkah kita memang lucu ya….

    • amuzeirt

      bentar, emangnya ini penulisnya lagi ngritik penulis mojok yang lain? Bukannya ini dia lagi mendukung penulis sebelumnya? -_-“

  • Wahyu Sukardy

    Berapa persen kesempatan orang miskin bisa pintar?

    • Annisa Fauziah Jati

      Hayu saya ketemuin sama orang2 miskin yang pintar. Berani?
      Bapa saya dulu ga pernah pake alas kaki saking ga punya uang. Cita2nya jadi tukang becak. Penyakit langganannya disentri.
      Niat pengen ngerubah nasib, pergi ke kota. Tidur di atas dipan dinatas got antar rumah. Makan dari sisa2 orang. Bisa kuliah kok,bro.
      Nyari info beasiswa. Walau buat ongkos ke tempt tes nya harus rela ga makan dua hari. Lulus, kedua terbaik.

      Yakin orang

      • Wahyu Sukardy

        Salah satu faktor penting penunjang kecerdasan atau sebut saja kepintaran adalah kesehatan, saya melihat kemiskinan dan kesehatan berhubungan linier (meski belum lakukan survey yg valid). Nah kalo bilang orang miskin kurang usaha aja sampai gak bisa dapat beasiswa, usaha apa yang harus dilakukan.. Untuk makan dan jadi sehat aja susah…
        Jadi kembali lagi… Mungkin sangat kecil kemungkinan orang miskin bisa (kuliah) pintar… Saya gak bilang gak ada..

  • mahardika

    dagelan

  • Reisky Randanovian

    Saya alumni lulusan Universitas Indonesia
    Saya termasuk keluarga kurang mampu, tapi saya berusaha mencari keringanan biaya pendidikan dan beasiswa.

    Uang pangkal: 3jt rupiah
    Uang semester: 800rb rupiah
    (setelah mendapatkan keringanan)

    Total sampai lulus: 9,4jt rupiah

    Selain itu saya juga mendapatkan beasiswa BBM

    Bahkan biaya pendidikan saya di kampus resmi lebih murah daripada kampus abal-abal tersebut
    Terlihat jika mahasiswa abal-abal di kampus abal-abal tersebut hanya ingin mendapatkan gelar sarjana tanpa usaha
    Jadi jangan samakan mahasiswa yang kuliah dengan penuh keyakinan dengan mereka yang tidak mau berusaha
    Jangan samakan juga semua mahasiswa sesuai dengan pemikiran anda

    Jika kalian niat tulus dan ikhlas ingin mencari ilmu, maka insya Allah akan diberikan jalan dan kemudahan oleh Allah

    • zulfikar

      Pas

      • Andreas Kusumajaya

        Amin Dah Hahahahahaha. Jalannnya Ke Borobudur Atau Prambanan? Hehehe.

    • Sombongnya nanggung ah, sekalian prestasinya dong.

      • amuzeirt

        wah, suudzon ._.
        Nggak tau sih ya niatnya Bung @reiskyrandanovian:disqus dari hatinya yang terdalam dengan komen begitu apaan. Cuma dia dan Tuhan yang tau.

        Cuman kalau di mata gue sih, instead of sombong, Bung Reis ini sedang mencoba memperlihatkan fakta (bukan cuma rangkaian kata opini yang disusun sedemikian rupa) sekaligus data dan angka yang semoga bisa dijadikan salah satu bahan pertimbangan lain bagi pembaca dalam membangun opininya setelah membaca opini dari penulis, terutama tentang poin kemungkinan-masyarakat-SES-rendah-mendapat-kesempatan-mendapat-pendidikan-tinggi-di-kampus-kampus-tersohor-itu-sangat-kecil yang tersirat dari tulisan Bung Azhar dan Bung Dhani (wow panjang bener gue bikin satu kalimat). Ya semoga aja yang gue tangkep sama yang diniatin sama Bung Reis itu sama.

        Cuman yang jelas, nggak semua orang yang memaparkan yang baik-baik tentang dirinya niatnya buat nyombongin diri loh. Gue rasa akan lebih baik jika kita tidak mudah menjudge orang, apapun kemasan judgement itu.

  • Mas Dhani sarjana beneran kan? Bukan sarjana yang boikot trus walk-out?
    Hahahaha 😀

  • Setsuna F Seiei

    tuh kan makin keliatan abal-abal pembaca nya….satir mah jangan serius2 bacanya… 😀 keep posting bos m/

  • Firdaus Putra

    wekwkekek

  • Ammar Akbar Fauzi

    Ini tulisan apaa.. Tolong bantu saya menerjemahkanya… Saya orang kurang mampu, pengen kuliah. Jngn nakut2in gitu dong..

    Sent from iPhone21

  • dimas

    “Sent from iPhone 13.”
    hahahahaha

  • Ryan Nugraha

    wuasuuu hahahahha

  • Satire dibalas datire, sarkas dibalas sarkas. Pinjem slogan tv sebelah ya: “Mojok memang beda”.

  • Marintje

    — komentarnya orang2 yg merasa tersinggung banyakan kasuistis, ga pada nangkep ini kritikan thd sistem pendidikan indonesia (kesenjangan, akses pendidikan antara si miskin dan yg kaya, akses pekerjaan, akses infrastruktur, marginalisasi thd si miskin, dsb dsb). ngapain sih bela diri, lah yg ngemengin soal ngana siape?

    • Wahyu Sukardy

      Plus masalah kesehatan (termasuk kesehatan jiwa) #lol

  • Dani Abas

    terlepas dari kisah tentang sarjana abal” yang di tulis di mojok.co , penulis memang tau bagaimana cara meanrik pembaca ke situs mereka. ibarat televisi, mereke sedang bermain drama pro dan antagonis, mereka lah bung azhar dan bung dani http://ceritakin.blogspot.com/2015/09/wisuda-abal-abal-dan-sarjana-palsu.html

  • uuk

    Whuahahaaa…tak sambung2ke ternyata juanjuk tenan he…iso ngguyu dwek…

  • Andreas Kusumajaya

    Kelas Menengah Marah-Marah. Masuk Ke Lubang Buaya Aja Pak Biar Adem Dikit Hehehe. Ngomong-Ngomong Fotonya Borjuis Banget Deh Pengen Banget Ana Amputasi Kepalanya Hehehe.

  • Halim Daddianto

    Ngebanyol tapi kena sasaran ya begini nih.. Btw ini drama pro vs antagonis yah? Seru juga..

  • Della Utomo

    leh uga nih qa
    cemunguddh ka
    cebel enak banget cihh bayar 15 jutz dapedh gelarr ..
    aku mahh ampe kuliah azaa blm luluss nich gelarr tiker azaa x yuaachh

  • Efa Priagung

    mafia pendidikan itu bergelar profesor dan master pendidikan, SALAH SIAPA?

  • uamirdejavu

    satir-nya striiike

  • Lib Flow

    local joke.. sumpah ga nyampe.

  • Alfa Omega

    Kelas menengah ngehek yang paham distribusi normal, wkwkwkwkwkwkwkwk…. Semoga lulus Rancob I dan II

  • Cilpoooiy

    Pertanyaan gue cuma satu:
    Koq ilustrasi sama isi artikelnya kaga nyambung gito daa?????
    #NgakakLaaDipojokan

  • Aburizal Fitry

    Saya, misalnya, kuliah ya niatnya melepas keperjakaan. Sialnya sampe lulus juga enggak lepas-lepas ini keperjakaan.<<< frase favorit dari kang arman haha

    • Andi Sules

      Turut prihatin….. IPK – nya dibawah standar kali

  • Naning S Abdullah

    😀

  • Satria

    Ssst gak usah ribut..berarti sampeyan juga golongan ningrat kemaruk pangkat kalo gini aja diributkan..sarjana itu pola pikir bukan gelar akademis..hehh..

  • satir mentok

  • Fajr

    sudah kuduga… satir ngehek, wakakakakaka
    #hesteg

No more articles