• 47
    Shares

MOJOK.CO Saya bertemu seorang teman yang protes soal pacarnya gara-gara keseringan ngomong kata “lucu” tanpa ada kejelasan makna kata “lucu” itu sendiri.

Teman saya, seorang laki-laki, bertanya sambil kebingungan saat saya mengomentari sesuatu secara refleks. Katanya, “Tunggu sebentar—kamu tadi bilang ‘lucu’ itu maksudnya apa?”

Jadi, konteksnya begini: saya bermaksud mendaftar kursus gitar selama satu bulan. Saat akan submit secara online, si teman—sebut saja namanya Yadi—memberi tahu bahwa sahabatnya bisa mengajari saya gitar dengan biaya yang lebih murah. Sistemnya pun mudah: kami bisa janjian di mana saja yang bisa dipakai untuk latihan, jadi tidak lebih merepotkan. Waktu latihannya fleksibel dan bisa disesuaikan dengan jadwal bermalas-malasan yang saya punya.

Demi mendengar penjelasan Yadi, saya langsung berseru, “Ih, lucu banget, sih, temenmu buka jasa les privat, gitu!”

“Maksudku,” tuntut Yadi yang sekarang dahinya berkerut-kerut, “’lucu’ itu kan memerlukan interaksi. Kamu merasa sesuatu lucu karena kamu mendengar lelucon, misalnya. Lantas, kamu ketawa. Tapi soal les gitar? Apa yang lucu dari temanku yang buka les gitar—yang bahkan belum kamu kenal sama sekali?”

Saya nggak tahu Yadi lagi PMS atau gimana, tapi siang itu dia menuntut penjelasan soal makna kata “lucu” yang kerap ia dengar dari kaum saya—para perempuan. Ia heran setengah mati karena pacarnya pernah bilang, “Ih, bajunya lucu banget, deh, Sayang!” atau, “Gila, itu cowok lucu banget, Sayang! Tapi lebih lucu kamu, sih. Hehe.”

Bahkan, menurut Yadi, kalau ada bantal dibungkus kresek hitam saja kayaknya tetap bakal dibilang lucu, deh, sama pacarnya!

Saya berdeham—memikirkan baik-baik apakah tulisan ini seharusnya saya tulis di rubrik Versus atau di Pojokan hari ini saja. Tapi, yah, karena saya merasa topik ini cukup lucu (nah, saya pakai kata itu lagi!), saya pun memutuskan menulis hari ini—supaya Yadi lebih bisa memahami pacarnya kelak.

Jadi, sebenarnya, apa sih makna kata “lucu” itu??? Hmm???

Menurut KBBI yang sekarang sudah bisa diakses pakai aplikasi mobile, “lucu” adalah “menggelikan hati; menimbulkan tertawa; jenaka”. Jelas, makna di KBBI ini adalah makna literal. Kalau ada lelucon yang lucu, kita ketawa. Kocak. Konyol. As simple as that~

Yang jadi pertanyaan Yadi—dan kira-kira 250 juta orang lainnya—kenapa hampir semua hal dianggap lucu oleh cewek-cewek? Cowok mana yang lewat di depan mata yang kemudian pantas disebut lucu? Apakah itu berarti si cowok tadi mukanya muka pelawak dan diyakini kalau ngomong bakal mengeluarkan punchline-punchline terbaik kayak redaktur-redaktur Mojok komika-komika temennya Raditya Dika???

Baca juga:  Hal yang Perlu Anda Ketahui Jika Jatuh Cinta pada Perempuan Batak

Jawabannya: bisa iya, bisa nggak.

Tenang, kamu nggak perlu menge-judge kami bakal menyebut cowok dengan gelar “lucu” hanya karena penampilan fisiknya yang rupawan kayak Nicholas Saputra. Nyatanya, kami bisa aja bilang “Ih, masnya lucu” karena dua hal: si cowok memang ganteng parah kelewatan, atau si cowok imut banget dan mukanya adalah tipe-tipe muka pelawak yang kalau dilihat aja udah bisa bikin pengin ketawa—atau minimal, ya, senyum-senyum, lah!

Oh, tapi jangan lupa: selalu ada kemungkinan yang lain. Bisa aja kami menyebut mas-mas tadi lucu karena kami melihat mas-mas ini memeluk kekasihnya yang sedang cemberut, atau membantu ibunya membawa belanjaan, atau mas-mas ini melempar candaan garing yang tak sengaja kita curi dengar.

Jadi, apa intinya?

Dari satu kata “lucu”, maknanya memang banyak banget, Kak, bagi kami. Dengan kata lain…

…ya bodo amat, lah, situ bingung maksudnya “lucu” itu apa, lah wong kita aja bingung ngejelasinnya!!!!!!1!1!!!!

Tapi, lagi-lagi, demi membantu Yadi—dan kira-kira 250 juta orang lainnya—saya akan teruskan tulisan ini dengan sebaik-baiknya.

Kata “lucu” bisa kami lempar sebagai pujian—itu pasti. Sungguh, kami tidak bermaksud menertawakan seseorang lewat kata ini sampai membuatnya merasa rendah diri.

Jadi, kalau kamu kami bilang lucu, bersyukurlah, Mas, bersyukurlah!!! Meskipun kamu nggak lucu secara literal alias garing kebangetan sekalipun, kalau kami memang merasa kamulah orang yang mampu membuat kami terpana, ya kami bakal bilang kamu lucu. Gitu. Titik.

Kata “lucu” juga bisa kami jadikan semacam kode bagi ekspresi yang berbunyi “Ih, aku juga pengin!!!” secara halus. Kalau melihat baju yang bagus di saat kondisi dompet sedang tidak bagus, misalnya, kami akan refleks nyeletuk, “Astagfirullah, bajunya lucu banget, ya, Gusti, tapi kenapa harus sekarang, ya Allah, kenapa???!!!”

Baca juga:  Sebaiknya BTP Tidak Bikin Masalah dengan Kaum Perempuan

Apakah ini berarti kami ingin minta dibelikan barang oleh pacar? O, tunggu dulu~

Banyak orang percaya bahwa ungkapan, “Ih, sayang, bajunya/sepatunya/kalungnya lucu, deh” yang kami ucapkan di depan kekasih selalu bermakna sama dengan “Sayang, beliin aku baju/sepatu/kalung itu, dong!”. Duh, please ya, memangnya kami se-desperate itu apa sampai minta-minta lewat sistem kode-kodean???

Padahal, maksud kami bilang “lucu” itu ya sebatas karena ada perasaan ingin memiliki saja. Perkara nanti pacar bakal ambil barangnya dan bayar di kasir adalah hal yang lain—syukur alhamdulillah kalau dikasih, tapi nggak masalah sama sekali kalau nggak dilakukan. Toh, awal bulan nanti udah masuk tanggal gajian. Ya kan, Ladies-ladies yang mandiri dan inspiratif???

Hal yang sama berlaku pula saat kami melihat drama romantis dan menemukan adegan pasangan yang saling memperjuangkan satu sama lain sampai bisa bersama dan berbahagia selamanya. Seruan, “Ih, lucu banget, ya Allah” bagi kami adalah serupa doa yang bunyinya “Gusti, kapan aku bisa kayak gitu???”

Pada intinya, dear Yadi dan jutaan orang lainnya, makna kata “lucu” memang banyak sekali, tapi percayalah: ia selalu bersifat positif dan penuh harapan optimis.

“Terus,” kata Yadi, “kamu belum jawab yang tadi: apa yang lucu dari temanku yang buka les gitar—yang bahkan belum kamu kenal sama sekali?”

Saya memandang Yadi tak percaya.

“Harus banget dijawab?”

“Ya iya, lah.”

“Ya aku nggak tahu, lucu aja gitu.”

“Ya lucu kenapa?”

“Ya lucu aja, ngadain les gitar. Fleksibel pula. Kan jarang-jarang.”

“Nggak ah, banyak kok guru les gitar. Kamunya aja yang nggak update. Dan itu nggak lucu, Li.”

“Ya udah, sih, buat aku itu lucu.”

“Ya lucu kenapa?”

“Ya lucu aja, ngadain les gitar. Fleksibel pula. Kan jarang-jarang.”

“Nggak ah, banyak kok guru les gitar. Kamunya aja yang nggak update. Dan itu nggak lucu, Li.”

“Ya udah, sih, buat aku itu lucu.”

“Ya lucu kena—UDAH AH, BODO AMAT.”