MOJOK.CO Uniknya, memercayai kabar hoaks sebagai kebenaran dalam era post-truth sering kali berkaitan erat dengan kondisi emosi sosial masyarakat.

“Aksioma:  pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian.”

Seorang teman menuliskan kalimat di atas dalam sebuah cuitannya. Tidak ada yang spesial, sebenarnya, karena saya tahu betul si Teman memang sedang menuliskan definisi-definisi kata bahasa Indonesia yang tidak terlalu familier. Namun, seolah sepakat dengan isi timeline saya yang rata-rata membahas perihal penolakan RUU dan aksi massa pada DPR, mau tidak mau saya jadi merenungi makna kata “aksioma” ini.

Hari-hari belakangan ini, gelombang kabar dan berita menyeruak dan tumpah ruah di lini masa media sosial. Soal aksi massa pekan lalu, misalnya: ada yang bilang ini murni gerakan independen mahasiswa dan masyarakat umum, ada juga yang bersikukuh meyakini gerakan rakyat telah ditunggangi pihak tertentu. Kabar soal ambulans membawa batu, kerusuhan yang disengaja, sampai diskusi publik yang telah diskenariokan, semuanya muncul mendadak dan tidak masuk akal seperti mantan hujan deras di musim kemarau.

Sulit membedakan mana kabar berita yang akurat dan valid, mana yang cuma sekadar hoaks numpang lewat. Di banyak grup WhatsApp keluarga, kabar-kabar hoaks malah disebarluaskan, lantas diyakini jadi kebenaran—persis sebagaimana dijelaskan oleh kata “aksioma”.

Taburan Aksioma di Era Post-Truth

Rasanya tak bakalan adil kalau menyebut nama “aksioma” tanpa menyinggung era post-truth. Nama post-truth sendiri bahkan telah didapuk menjadi word of the year dalam Kamus Oxford per tahun 2016. Dikutip dari Geotimes, istilah ini pertama kali digunakan oleh Steve Tesich dalam artikelnya yang berjudul The Government of Lies dalam majalah The Nation.

Tesich menggunakan latar belakang Skandal Watergate Amerika (1972-1974) maupun Perang Teluk Persia untuk menggambarkan apa yang ingin ia sampaikan: situasi masyarakat yang nyaman hidup dalam dunia yang penuh kebohongan. Semua pernyataan bohong dianggap sebagai kebenaran dan—itulah, Saudara-saudara—apa yang dinamakan dengan era post-truth~

Uniknya, memercayai kabar hoaks sebagai kebenaran dalam era post-truth sering kali berkaitan erat dengan kondisi emosi sosial masyarakat. Dengan kata lain, berita “abu-abu” yang disebarkan cenderung punya satu tujuan: menggerakkan emosi publik agar sebuah kelompok dapat memperoleh dukungan yang lebih besar lewat simpati massa.

Baca juga:  Dwi Hartanto, Kebohongan, dan Kebutuhan Akan Pengakuan

Bagaimana Internet Turut Andil Melahirkan Post-Truth

Internet membawa banyak sekali informasi kepada manusia. Di era ini, pengetahuan baru segera menjadi sesuatu yang instan dan mudah.

Sayangnya, sesuatu yang instan ini dibarengi dengan mager-nya kita semua untuk memilah-milah informasi. Asal muncul di timeline dan di-retweet sama teman, informasi baru langsung dianggap valid. Di grup WhatsApp keluarga, setiap hari ada pesan terusan yang dibagikan bapak, ibu, om, dan tante—semuanya dianggap sebagai kebenaran, setidaknya oleh separuh isi grup. Ckck!

Ada satu “rahasia” umum di era post-truth: yang menjadi sorotan pada sebuah berita bukan lagi soal “apakah-ini-kabar-hoaks-atau-bukan”, melainkan seberapa jauh berita ini viral dan menjadi perbincangan banyak orang.

Pengamat media Wisnu Prasetya Utomo, dalam artikel Selamat Datang di Era Post-Truth, menyebutkan bahwa era post-truth bukan hanya ditandai dengan beredar luasnya berita hoaks di media sosial. Perlu diketahui, yang menjadi salah satu korban utama dalam fenomena ini adalah media dan jurnalisme.

Sebagai penyambung kabar pada publik, media dan jurnalisme kerap menghadapi kebimbangan saat berhadapan dengan pernyataan-pernyataan bohong para politisi. Tapi, yah, politisi-politisi ini memang suka aneh sendiri, kok. Semakin banyak berita bohong yang disebar, malah semakin populer mereka, bahkan hingga mendatangkan benefit.

Eits, jangan ketawa—Donald Trump saja berhasil jadi presiden, ingat kan?

Omong-omong soal Donald Trump, The New York Times bahkan telah merancang metode tersendiri untuk melakukan pemeriksaan fakta, menanggapi pernyataan yang dikemukakan oleh sang Presiden. Yah, daripada ikut-ikutan menyiarkan kebohongan, mending sedia payung sebelum hujan, kan?

Baca juga:  Orang Tua Punya Akun Medsos adalah Hal Terakhir yang Kita Butuhkan

Di Indonesia, upaya menghadapi gelombang hoaks dalam era post-truth  ini salah satunya dengan adanya upaya Cek Fakta (seperti pada laman cekfakta.com) yang juga diadakan oleh banyak media online di Indonesia. Tujuannya apa?

Tentu saja sudah jelas: biar kita nggak capek-capek debat sama bapak, ibu, om, atau tante di grup WhatsApp keluarga. Takut kualat.

BACA JUGA Dandhy Laksono-Ananda Badudu Ditangkap, Penyebar Hoaks Ambulans Bawa Batu Malah Aman atau tulisan Aprilia Kumala lainnya.