Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Halo Buzzer Jokowi, Sori Ya, Aksi ‘Gejayan Memanggil’ Tak Sesuai Harapan Kalian

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
24 September 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Seruan garang berkali-kali muncul dari para buzzer Jokowi di media sosial untuk mengganggu aksi “Gejayan Memanggil”. Kalau aksi ini nggak sesuai harapan kalian, maaf ya. Tapi boong.

“Demone neng sebelah endi e, Mas?” Demonya di sebelah mana, Mas?

Iklan

Seorang anak kecil naik sepeda BMX, mungkin kelas 3-4 SD, bertanya mendekati saya. Saya masih terengah-engah untuk menjawabnya, maklum saat itu posisi saya sedang berjalan cukup jauh dari bilangan Jembatan Merah menuju titik aksi “Gejayan Memanggil” di pertigaan Gejayan, Yogyakarta.

“Emange ngopo?” (Memangnya kenapa?) tanya saya.

“Meh nonton,” katanya sambil haha-hihi lalu menjauh begitu saja.

Punggung si anak yang mulai basah menandai berapa lama ia sudah seharian bermain di luar rumah. Usai mendekati saya, si anak ini mendekati lagi satu demi satu perserta aksi “Gejayan Memanggil” di depan saya. Kami memang masih terpisah-pisah menjadi kelompok-kelompok kecil sebelum bertemu di titik kumpul.

Melihat punggung anak kecil yang semakin menjauh itu, ingatan saya kembali pada dua dekade silam. Kenangan yang diam-diam kembali menyelinap.

Di pertigaan IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN), seorang anak kecil dengan sepeda Federal berputar-putar melihat aksi mahasiswa 1998 yang berakhir rusuh. Mungkin anak pada 1998 itu 3-4 tahun lebih tua dari si anak BMX. Saya tahu persis. Iya, sangat tahu, karena anak kecil pada 1998 pakai sepeda Federal itu saya sendiri.

Ada sedikit kesamaan antara saya pada 1998 dengan si anak yang mendatangi saya pada aksi “Gejayan Memanggil” 2019. Kami berdua sama-sama tidak takut. Tidak khawatir. Tidak ada sedikitpun kegelisahan kalau aksi yang akan kami tonton bakal berakhir ricuh, rusuh, chaos, lalu sampai mengakibatkan banyak massa terluka.

Kami sama-sama cuma penasaran melihat mahasiswa dan massa berkumpul sebegitu banyaknya. Benar-benar tontonan wahana bermain yang mengasyikkan, dan bekal yang pantas dibawa ke sekolah untuk diceritakan esok hari.

Maka, aksi-aksi organik “Gejayan Memanggil” semacam itu tak ubahnya sebuah pagelaran yang menyenangkan. Mungkin karena memang tak menampilkan banyak wajah-wajah garang seperti yang dibayangkan banyak orang.

Wajah-wajah yang—bahkan—masih kalah garang ketimbang wajah-wajah akun pendukung Jokowi atau buzzer pemerintah dengan seruan-seruan mereka di media sosial. Seruan-seruan garang yang menunjukkan sikap tak simpatik dengan aksi “Gejayan Memanggil”.

Bisa jadi mereka khawatir. Khawatir kalau rusuh. Atau bisa jadi mereka memang ogah Presiden dan Wakil Rakyat mereka kena kritik. Atau mereka percaya bahwa agenda memprotes UU KPK, RKUHP, RUU Pertanahan, dan ditundanya pengesahan RUU PKS adalah agenda-agenda “Taliban” atau aksi mencoba melawan negara.

Ini cukup mengherankan. Sebab, tak sedikit para buzzer Jokowi yang mencibir aksi “Gejayan Memanggil” itu merupakan aktor intelektual yang ikut urun rembuk saat aksi 1998 silam. Bahkan beberapa di antaranya juga menjadi peserta aksi melawan Soeharto secara langsung. Tapi siapa sangka, kini mereka malah jadi Harmoko-Harmoko baru.

Iklan

Memang betul, situasi 1998 dengan 2019 sangat jauh berbeda. Sangat jauh. Keduanya tak bisa dibandingkan, dan memang tak bisa disamakan. Maka, biarlah senior-senior yang kini jadi buzzer Jokowi itu mengagumi kenangannya. Biarkan mereka menyembah kebanggaan itu.

Biarkan senior-senior itu berevolusi jadi senior fasis. Senior yang berharap bisa mengendalikan semua. Termasuk pikiran mahasiswa-mahasiswa yang lebih muda dari mereka. Memandang dengan sikap remeh karena merasa pernah jadi aktor sejarah. Padahal, segala macam privilege yang mereka peroleh saat ini tak lain hanya karena alasan sederhana: lahir lebih dulu.

Itu yang bikin aksi “Gejayan Memanggil” dari anak-anak muda kemarin tak ingin saya ganggu. Pun dengan beberapa “senior 1998” yang ikut turun gunung. Berbeda dengan senior fasis di gedung ber-AC, mereka yang ikut ke jalan ini sukses menahan diri. Sukses bertansformasi jadi sosok orang tua.

Orang tua yang bangga terhadap anak-anaknya. Karena mereka tahu, “Gejayan Memanggil” adalah panggung anak-anak mereka.

Meski panas matahari begitu terik sampai bikin aspal jadi seperti lempeng seterika, tapi kepala anak-anak muda mahasiswa ini begitu dingin. Tenang. Seperti air. Hal yang mungkin bikin massa jadi bisa begitu cair.

Anak-anak muda ini berhasil menurunkan egonya untuk mengibarkan identitas almamater atau organisasi masing-masing. Semua membaur. Jadi satu. Benar-benar seperti nonton konser saja. Saling melempar senyum dan saling menawari minum. Aksi yang menggembirakan.

Mungkin mood yang segar ini ditularkan juga dari warga sekitar. Di perjalanan menuju titik aksi saja, setiap warga yang saya lewati selalu meneriakkan kalimat-kalimat menyegarkan. “Semangat ya, Mas. Sarapan dulu, Mas, biar nggak lemes,” kata mereka.

Apa sambutan hangat ini pantas diremehkan? Apa senior-senior fasis itu perlu bertanya ke warga sekitar, “Eee, anu, Bapak tahu nggak ini demo soal apa? Bapak baca RUU-nya semua nggak?” Apa reaksi anak-anak yang menyapa saya dan ikut tersenyum menyambut massa aksi juga harus diremehkan?

Mereka tahu kok. Mereka punya pemahamannya sendiri, pemerintah sedang tak berjalan dengan baik-baik saja. Mereka tahu.

Soal apakah pengetahuan mereka lebih sedikit dari kalian, buzzer Jokowi atau senior fasis, itu kan kalau dari standar kalian saja. Mereka juga punya pengalamannya sendiri, punya pengetahuannya sendiri.

Lagipula, pemandangan di lapangan sangat jauh dari ketakutan-ketakutan buzzer Jokowi dan senior-senior fasis sebelumnya. Kalaupun akhirnya ada yang nebeng sampai menyampanyekan #turunkanJokowi di tengah-tengah tagar #GejayanMemanggil, yakin sama saya, itu bukan dari anak-anak muda ini.

Di tengah ribuan massa, harus diakui, sangat sulit memang membuat aksi “Gejayan Memanggil” tetap steril. Jujur saja, saya menemukan beberapa orang yang mengenakan atribut “bendera tauhid”. Saya melihat mereka langsung. Kira-kira 2-3 orang. Tapi toh, mereka menyingkir. Tersingkir secara alami.

Aksi rusuh yang dikhawatirkan juga tak terjadi. Sebelum pukul 5 sore, anak-anak muda ini pulang dengan tertib. Tak ada aksi kekerasan. Semua pulang dengan senyum. Pesan sudah disampaikan dari Yogyakarta untuk mereka di Senayan sana.

Saatnya anak-anak muda ini pulang ke habitatnya di warung kopi dan diskusi-diskusi. Karena mereka tahu, mendidik penguasa tak bisa dilakukan dengan hanya presensi sempurna atau IPK tiga koma lima.

Terakhir, mungkin untuk mewakili teman-teman mahasiswa, saya ingin sampaikan permintaan maaf untuk para buzzer Jokowi di luar sana. Maaf. Maaf sekali kalau aksi “Gejayan Memanggil” tak sesuai dengan harapan kalian semua. Mungkin kalian tak menduga, ternyata semua berjalan sesuai rencana dan pesan bisa disampaikan secara paripurna.

Sekali lagi. Maaf. Kalian belum beruntung, silakan coba lagi.

#GejayanMemanggil pic.twitter.com/Jtqn511XCM

— MOJOK.co (@mojokdotco) September 23, 2019

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Buzzer Jokowi atau artikel Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 24 September 2019 oleh

Tags: #gejayanMemanggilbuzzer JokowiGejayan Memanggil
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Hujan Bulan Juni untuk Samadi: Es Krim yang Mencair di tengah Aksi Rakyat Memanggil dan Kenaikan Harga yang Bikin Ngelu MOJOK.CO
Sosok

Hujan Bulan Juni untuk Samadi: Es Krim yang Mencair di Tengah Aksi Rakyat Memanggil dan Kenaikan Harga yang Bikin Ngelu

14 Juni 2026
"Bunyikan Klakson Kalau Kalian Resah sama Pemerintah" - Massa Aksi di Gejayan Soroti Harga BBM hingga Pelemahan Rupiah.MOJOK.CO
Kabar

‘Bunyikan Klakson Kalau Kalian Resah sama Pemerintah’ – Massa Aksi di Gejayan Soroti Harga BBM hingga Pelemahan Rupiah

13 Juni 2026
Pemilik Kos Mahasiswa UNY dan UGM di Karangmalang Jadi Penyelamat Demonstran Gejayan 98 MOJOK.CO
Kampus

Pemilik Kos Mahasiswa UNY dan UGM di Karangmalang Jadi Penyelamat Demonstran Gejayan 98

10 November 2023
Affandi dalam Pusaran bulan Mei dan PKI
Video

Affandi dalam Pusaran Bulan Mei dan PKI

23 Mei 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.