Habis baca cerita curhatan temannya Mas Moddie Wicaksono yang jadi dosen tentang etika mahasiswa zaman sekarang berkomunikasi dengan dosen mereka, dugaan yang muncul kali pertama di benak saya sih ya, Bapak dan Ibu Dosen temannya Mas Moddie itu baperan.

Lha, gimana nggak menduga begitu, masak cuma ditanya, “Pak, kira-kira sampai kampus jam berapa?” langsung curhat. Itu kan nggak seberapa, Mas, dibanding “Bapak di mana? Sama siapa? Lagi ngapain? Plis kalo di-WA-in cepetan bales dong, Pak” yang masih juga ditambah miskol belasan kali.

Tapi, baperannya teman Mas Moddie juga nggak seberapa dibanding alma mater Bu Menkeu yang sampai bikin aturan cara ngontak dosen segala. Solusi macam apa coba, kok dikit-dikit ngelarang, dikit-dikit bikin peraturan? Mau ngajar apa mau jadi anggota legislatif neh kalau leh taw?

Sebelum dosen dan kampus lain ikut-ikutan bikin peraturan, izinkanlah saya dalam kesempatan kali ini, ehem, mewakili dedek-dedek mahasiswa jaman now untuk menyampaikan pleidoi kami.

Pertama, dari curhatan dosen di tulisan Mas Moddie, inti keberatan mereka ialah kelakuan kami yang nanya tanpa sopan santun via pesan di ponsel membuat mereka risih dan terganggu. Hmm, apakah bapak dan ibu dosen pas imunisasi dulu titip absen sehingga gagal paham bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati?

Bapak dan ibu dosen mestinya bukan baru sebulan dua bulan kan punya HP? Pastinya ngehlah, komunikasi via teks itu seneng-seneng-sebel. Ada enaknya, ada nggak enaknya.

Yang nggak enak itu ya, misal: kadang yang di sana sukanya nyingkat-nyingkat, dikit-dikit pakai titik, dikit-dikit pakai tanda seru, jawab “ya” cuma dengan “Y” (eh, dosen dan gebetan kejam sih yang suka begini), tata bahasa tulisnya amburadul, kebanyakan emot keriting-keriting (udah lewat, cuma pas era BB), dan segala macam hal bisa bikin kita ingin berkata kasar.

Sederhananya, ini memang risiko ngobrol di pesan singkat. Jadi, solusinya, mending nggak usah nyebar nomor pribadi ke mahasiswa. Cukup ngumumin alamat email aja. Percaya deh, psikologi orang nulis email itu beda dibanding nulis di WhatsApp, sebagaimana psikologi orang yang sama bisa beda ketika nulis buat Mojok dan ketika nulis buat Kompasiana, karena yang satu dapat honor, yang satu nggak, hehehe.

BACA JUGA:  Ada Nunuk Nuraini dalam Setiap Porsi Indomiemu

Dengan email, simptom sak penake dhewe-nya mahasiswa mestinya bakal berkurang karena kami-kami ini otomatis harus nyusun dan bolak-balik ngoreksi kalimat agar padat, sintal, dan lengkap dulu sebelum email-nya dikirim.

Ngomong-ngomong, usulan itu sebenarnya cuma hasil ngopas. Ceritanya ini lagi pakai prinsipnya Ustadz Edi AH Iyubenu, al-muhafazhatu ‘ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Dari mana usulan itu saya kopas? Ceritanya lengkapnya begini.

Kebetulan saya yang biasanya jadi buruh swasta di Ibu Kota beberapa bulan belakangan cuti pelesiran belajar di kampungnya Robin van Persie. Di tempat sekolah baru ini, ada dosen yang sebut saja bernama Henk karena memang itulah namanya.

Di awal perkuliahan, dia memperkenalkan diri dengan lengkap tapi nggak mblabar-mblabar, artinya tetap di konteks akademik: nggak sampai ke berapa jumlah anak, jumlah istri, alamat tinggal, dan termasuk … nomor HP! Lha, terus kalau mau nanya bagaimana? Ya tinggal ngacung aja pas di kelas, atau samperin setelah selesai sesi kuliah, atau silakan kirim email.

Soal komunikasi langsung, jangan dibandingin sama Indonesialah. Kami memang bisa-bisa aja, dan tetep etis, ketika manggil dia “Henk” aja tanpa embel-embel apa pun. Kan ukuran etis-nggak etis memang ada batasan ruang dan waktu. Belum lagi di akhir semester Henk mengajak semua mahasiswanya ngebir bareng di paviljoen kampus sambil ngobrol-ngobrol santai. Cheers!!! Duk! (Bunyi gelas teman ditabrakkan dengan botol air mineral saya.)

Lak yo penak to ngunu kui? Kami bisa ngobrol ngalor-ngidul sambil sesekali cekikikan sama Henk tanpa harus nunduk-nunduk, tapi juga nggak lantas sak penake dhewe meneror melalui chat-chat WA. Kami tetep hormat sehormat-hormatnya sama blio.

Jadi, bapak dan ibu dosen juga kudu menyadari, ini sudah bukan masanya Mbak Cindy Dewiana main Saras 008 lagi. Jaman now, orang lebih seneng baca Mojok yang selow ketimbang opini Kompas yang begitu itu. Cita-cita kami bukan lagi jadi PNS, polisi, tentara, dokter, atau bidan, tapi jadi seleb medsos kayak Iqbal Aji Daryono sambil kerja yang sesuai passion yang nggak mesti mengikuti standar gengsi zaman dulu (jadi sopir, misalnya).

Ukuran etis atau nggak itu kan kepantasan umum, problemnya, ukurannya sudah mulai geser. Bikin peraturan, dan bukannya dialog dengan mahasiswa, biar kami-kami ini ngerti cara nge-chat yang baik itu, percayalah, sama seperti nyuruh bocah yang lagi naik pohon agar turun alias nggak bakal mempan.

Sekarang beralih ke soal konteks motif. Kenapa sih mahasiswa sampai harus berisik banget neror dosen buat nanya jadwal, posisi, dan kesibukan?

BACA JUGA:  I Stand with Boby Febrik Sedianto

Itu karena, dan ini udah kayak mitos legendaris, Bapak dan Ibu Dosen itu jadwalnya amburadul. Serba nggak pasti. Coba keberadaan dan kesibukan mereka jelas sejak awal, mahasiswa pasti lebih memilih chatting-an di grup kelas atau sama gebetan ketimbang nge-chat dosen yang kadang di-read doang :'(

Nanya atau nggak nanya pun kadang tetap kecele kok. Bisa dibayangkan kan, betapa KZL-nya kami ketika nongkrong ke jurusan di jam kerja, ternyata dosennya sudah pulang karena udah kelar ngajar? Atau sudah janjian di dekanat, terus disamperin ke sana, yang jauh pula, hanya demi tanda tangan, eh ternyata dosennya pindah rapat di rektorat. Giliran disamperin ke rektorat, blionya keluar maksi bareng Pak Rektor.

Bukannya bakal bikin kedua belah pihak sama-sama gampang dan sama-sama disiplin kalau jadwal bimbingan jelas hari, tanggal, dan jamnya? Jelas durasi yang available berapa lama, terus pakai aturan first come-first served. Kalau kampus belum punya sistem terpadu untuk memfasilitasinya, bisa pakai jaringan SMS berantai ala komting (masih eksis nggak sih istilah ini?), broadcast di grup WA, atau pasang pengumuman di papan informasi jurusan macam jadwal piket zaman SD. Tinggal disesuaikan aja, mana yang pas sama anggarannya.

Fair kan? Dua-duanya ngerti jadwal dan porsi responsibility masing-masing. Dedek-dedek mahasiswa harus komit untuk ngumpulin naskah tiga hari sebelum jadwal bimbingan dan datang on time sesuai jadwal, Bapak dan Ibu Dosen juga komit untuk on desk dengan naskah yang full coret-coretan.

Dan jangan lupa yang tadi, nggak usah pake nyebar nomor pribadi.

Kalau sudah segitunya dan masih ada mahasiswa yang riwil, itu pasti bukan dari golongan yang saya wakili. Hehehe~

No more articles