MOJOK.COKini tersisa dua partai yang belum merapat ke koalisi pemerintah, yakni PAN dan PKS. Ketika PAN tampaknya mulai goyah, PKS terlihat yakin pada pendirian oposisi mereka.

“Iya lah (siap jadi oposisi sendiri). Kita kan sudah berpengalaman juga. Karena kita kemarin oposisi juga nggak ada apa-apa kan. Justru itu, karena udah berpengalaman, masak yang periode kedua malah menjadi mengkeret, nggak mungkin kan,” begitu kata Presiden PKS Sohibul Iman beberapa waktu yang lewat saat ditanya tentang kesiapan PKS menjadi partai oposisi.

Jawaban tersebut bukan kali pertama bagi para tokoh PKS. Jauh sebelum itu, PKS, melalui para elit-elitnya, memang sudah berkali-kali menyatakan siap menjadi oposisi sendirian. Bahkan setelah kabar Gerindra dan Demokrat yang bakal merapat ke pemerintah, PKS tetap pada pendiriannya. 

Saya pikir ini heroisme yg mungkin terlihat lebay, namun layak diapresiasi. 

Pemerintahan demokrasi yang sehat memang seharusnya mensyaratkan adanya oposisi yang bertindak sebagai pengawas dan juga pengritik. Dan PKS, dengan segala pertimbangannya, dengan jelas dan gamblang mengambil jalan tersebut.

Banyak yang nyinyir dengan langkah PKS. Salah satu nyinyiran yang datang adalah yang menyebut bahwa langkah PKS menjadi oposisi bukan semata karena faktor ideologi, melainkan karena memang nggak pihak pemerintah yang mau mengajak.

“Ah, itu sih bukan karena PKS-nya yang sok mau jadi oposisi, tapi karena memang tidak diajak saja!” begitu kira-kira.

Nyinyiran tersebut tak sepenuhnya salah memang, namun juga nggak bener-bener amat. 

Pihak Jokowi diketahui pernah mencoba mendekati PKS walau kemudian kandas di tengah jalan. Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Usman Kansong mengakui langkahnya untuk menjalin hubungan lebih jauh dengan PKS memang terhenti sebab PKS menunjukkan gelagat ketidaktertarikan.

“Kami lihat PKS itu konsisten untuk bersikap oposan, dan saya lihat mereka juga enggak memberikan sinyal,” terang Usman. 

Sikap tersebut berbeda dengan Demokrat, PAN, dan juga Gerindra, yang menurut Usman memang lebih cair dan punya sinyal-sinyal yang kuat untuk mau bergabung dengan pemerintah. 

Saat diundang ke istana oleh Jokowi beberapa waktu yang lalu pun, PKS menolak. Mereka bersedia bertemu nanti jika Jokowi sudah dilantik dan sudah mengumumkan komposisi kabinet pemerintahannya. Keputusan tersebut sebagai penegas bahwa PKS tetap berada di luar pemerintahan.

Pada titik tertentu, mau ideologi atau tidak, namun pilihan menjadi oposisi pada dasarnya adalah langkah yang berani. Menjadi oposisi artinya siap miskin, siap tidak mendapat kue. Dan tak banyak partai yang mau. Gerindra yang selama ini dianggap begitu kontra dengan pemerintah pun pada akhirnya mulai melunak. 

Sedari awal, PKS tampaknya memang ingin menjadi penantang pemerintah. Baik sendirian, maupun ada temennya.

Lagipula, langkah PKS untuk berani menyatakan diri menjadi partai oposisi tunggal sebenarnya adalah juga langkah yang cukup strategis. 

Selama ini, partai yang menjadi poros kontra terhadap pemerintah hanyalah Gerindra dan PKS, maka jika Gerindra ternyata merapat ke pemerintah, maka PKS bakal menjadi satu-satunya partai yang bakal menerima limpahan suara dari para pemilih “Anti Jokowi”. 

Urusan menjadi pemain single, PKS pun nggak buruk-buruk amat, bahkan boleh dibilang, cukup gemilang. Ia partai yang, walau pada titik tertentu menyebalkan, namun solid dan pemberani. Mesin partainya militan, utamanya di akar rumput.

Urusan bertarung sendirian dengan banyak partai pun PKS punya rekam jejak yang mengerikan. Yang paling tampak kolosal tentu saja Pilgub DKI 2007.

Saat itu, PKS mengusung pasangan Adang Daradjatun dan Dani Anwar. Mereka bertarung melawan Fauzi Bowo dan Prijanto yang diusung oleh 20 partai. Ya, 20 partai (PPP, Partai Demokrat, PDIP, Golkar, PDS, PBR, PBB, PPNUI, PPDK, PKPB, PPDI, PBSD, PPIB, Partai Merdeka, PKB, PAN, PPD, Partai Patriot Pancasila, PKPI, dan Partai Pelopor).

Pasangan yang diusung oleh PKS pada akhirnya memang kalah, namun suara yang berhasil mereka dapatkan sungguh bikin kita bergidik ngeri: 42,13 persen.

Bayangkan, 1 partai melawan 20, dan berhasil mendapatkan hampir setengah suara.

Hasil seperti itu tentu hanya bisa didapatkan oleh partai yang memang punya ketangguhan luar biasa. Dan PKS adalah contoh yang senyata-nyatanya.

PKS memang partai yang menyebalkan, apalagi saat ia menjadi partai yang begitu keras menolak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS), namun untuk urusan keputusan menjadi oposisi, saya terpaksa angkat topi.

BACA JUGA PKS dan Usahanya Membumikan Politik atau artikel Agus Mulyadi lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles