Saya tak ingat saya masih berusia berapa saat itu. Yang jelas saya masih SD kelas 1, 2, atau 3. Saya datang bersama ibu dan adik saya ke sebuah sekolah. Tak ada siswa di sana, sebab memang hari minggu. Sekacau-kacaunya bangsa ini, belum ada siswa dan guru yang cukup rajin —atau cukup bodoh— sehingga sampai masuk sekolah di hari minggu.

Di sekolah itulah, saya, ibu, dan adik saya akan melepas keluarga Pakdhe saya yang akan bertransmigrasi ke Kalimantan. Dari halaman sekolah itulah, dua bus besar bakal mengantar belasan keluarga untuk berpetualang menjalani hidup di pulau yang baru. Pulau yang tentu saja masih asing bagi mereka.

Pakdhe saya namanya Dul. Saya tak tahu nama lengkapnya, dan memang saya tak terlalu ingin tahu.

Pakdhe Dul adalah lelaki dengan tampang yang bersahabat. Setidaknya, itulah yang masih bisa saya ingat darinya di masa ketika saya masih kecil. Ia punya dua orang anak. Satu lelaki, satu perempuan. Yang lelaki namanya Mifron, sedangkan yang perempuan saya lupa namanya.

Di Magelang, Pakdhe Dul punya sebuah rumah yang sederhana. Rumah kayu berukuran tak seberapa dengan sungai berair jernih yang mengalir di sebelahnya. Sungai yang membuat rumah Pakdhe Dul menyerupai deskripsi kitab suci atas surga: mengalir di bawahnya sungai-sungai.

Kelak, surga itu ternyata ditinggalkan oleh Pakdhe Dul. Ia, sudah mengambil keputusan. Ia sadar bahwa hidup adalah pertaruhan. Dan mempertaruhakan surga yang kecil itu adalah salah satu keputusan yang besar dan berani bagi Pakdhe Dul. Tentu saja, di tanah yang baru, ia berharap bisa membangun dan mendapatkan surga yang jauh lebih baik ketimbang surganya yang kecil di Magelang itu.

Baca juga:  Pendidikan Seks dan Cermin Kelakuan Kita

Dan ketika pertaruhan itu diambil, saya ikut menjadi saksi dan bahkan mengantarkan keputusannya.

Saya bersalaman dengan Pakdhe Dul sesaat sebelum berangkat. Saya bersalaman juga dengan Budhe Dul, dan dua anaknya itu. Kami berpelukan seperti seorang keluarga melepas sanaknya yang tentara untuk berangkat perang. Pada kenyataanya, yang terjadi memang demikian. Pakdhe Dul memang seorang tentara yang akan berangkat perang menghadapi musuh yang tidak punya senapan namun tetap sama-sama mematikan. Musuh yang bukan hanya bakal menembak tubuh, namun juga menembak harga diri.

Saat bus yang mengantarkan para pejuang itu benar-benar berangkat, saya melirik ibu saya. Ia menangis. Kesedihan yang tentu saja sangat beralasan karena ia bakal ditinggal oleh kakak lelakinya.

Saya tak tahu apa itu transmigrasi saat itu. Yang saya tahu, dari penjelasan ibu saya, Pakdhe Dul dibelikan rumah dan tanah oleh pemerintah dan boleh mengolahnya sesuka hatinya. Kata ibu, di tanahnya yang baru, Pakdhe bakal menanam singkong dan semangka yang banyak sekali. Ia akan membawakannya barang satu atau dua gelundung kalau kelak ia pulang saat lebaran.

Bertahun-tahun kemudian, tak pernah ada kabar tentang Pakdhe Dul. Orangtua pakdhe alias nenek saya berkali-kali menanyakan nasib anaknya itu, namun tentu saja selalu jawaban kosong yang ia dapatkan. Pakdhe Dul tak pernah pulang saat lebaran.

Baca juga:  Pilkada Katingan yang Rumit karena Semua Paslonnya Punya Hubungan Keluarga

Ketidakpulangannya yang terus menerus itu membuat kami kemudian tak pernah terlalu berharap pada kepulangannya.

Dua tahun lalu, Pakdhe Dul mendadak pulang. Ia pulang sendirian, tidak dengan istri dan dua anaknya.

Ia tak membawa banyak uang. Juga tak membawa satu atau dua gelundung semangka.

Kepada nenek, ia berkata, di tanah perantauan, hidupnya sulit, sehingga untuk beli tiket pulang untuk satu keluarga saja rasanya sungguh berat. Itulah kenapa ia hanya pulang sendirian, sekadar melepas kangen pada tanah kelahiran dan juga pada sanak saudaranya di kampung yang sudah benar-benar tak tertahankan.

Pakdhe hanya tinggal satu hari di Magelang. Di hari kedua, ia pulang kembali ke tanah transmigrasinya.

“Tinggallah lebih lama di sini, Kang,” kata Ibu saya di malam saat Pakdhe mengatakan bahwa esok ia akan pulang. “Seminggu lagi, biar kangennya tuntas, marem.”

Tapi Pakdhe tetap kukuh pada pendiriannya.

Saya paham betul dengan keputusannya itu. Ia sudah kalah dalam perang. Dan sebagai lelaki, jiwa kelelakiannya pasti terusik saat kekalahannya ditatap lekat-lekat dan lama.

Pada akhirnya, saya dan ibu saya harus kembali melepas Pakdhe Dul. Ibu saya masih seperti yang dulu. ia tetap menangis. Namun kali ini dengan tangis yang tampaknya lebih deras dari tangis pada pelepasan yang sebelumnya.

Dan pada pelepasannya kali ini, saya masih berharap semoga kelak Pakdhe Dul pulang dan membawakan saya satu atau dua gelinding semangka.