Tanya

Dear Mas Agus,

Saya wanita, pekerja startup di ibu kota Jawa Tengah yang kerjaannya cuma nulis konten sesuai permintaan client. Penghasilan saya ga gede-gede amat, ga punya uang tunjangan juga. Tapi alhamdulilah selalu hidup berkecukupan. Oke, masuk ke inti cerita ya mas.

Saya punya calon mertua, yang sepertinya bercita-cita menginginkan menantu yang berseragam kantoran alias PNS. Saya selalu saja disindir mengapa saya tidak ikut tes CPNS atau tes-tes lainnya yang bersangkutan dengan PNS. Sebelum saya bekerja sebagai anak startup, saya sudah mencoba tes sana sini BUMN atau kantor-kantor besar lainnya… Tapi, namanya belum rezeki ya saya belum bisa mendapatkan hal tersebut. Dengan cara lain saya mencari cara agar bisa mendekatkan diri dengan mertua, saya penuhi keinginan mereka yaitu merantau ke Semarang tempat pacar dan mertua saya tinggal. Saya berfikir dengan begini saya sudah bisa mengambil hati mereka, tetapi masih saja…. Saya dipandang sebelah mata.

Hiks, sedih. Aku yo kudu piye…

Padahal pacar saya yaa sama seperti saya, pegawai startup bedanya dia sudah status Leader. Padahal orang tua saya yaa sudah terima-terima saja saya kerja dimanapun asal halal dan bisa bertaggung jawab dengan diri sendiri. Karna embel-embel PNS tersebut saya dan pasangan saya semacam takut untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, karna saya takut mertua saya belum bisa menerima saya yang belum ada apa-apanya ini.

Segitu dulu curhatnya mas, panjang ya… iya saya soalnya suka yang panjang-panjang ceritanya… Menurut mas Agus saya harus gimana ya? Saya jadi pesimis gitu mas….

~Des

 

Jawab

Dear, Des.

Begini. Saya meyakini bahwa setiap pekerjaan itu sejatinya memang sawang-sinawang. Apa pun itu. Pekerjaan setinggi apa pun, serendah apa pun.

Setiap pekerjaan punya sisi lebih dan kurangnya. Tergantung dari bagaimana kita memandangnya. Sayangnya, banyak orang yang hanya memandang dari hanya satu sisi saja. Kita semua mungkin mengira bahwa bekerja di pertambangan minyak lepas laut adalah pekerjaan yang keren dan menjanjikan banyak uang, tapi kita kerap luput bahwa ada konsekuensi atas banyak uang tersebut, misal harus bersedia jauh dari keluarga, tidak bisa mengisi waktu luang sambil ngopi-ngopi santuy di kafe, tidak bisa futsal (lagian di lepas laut, mau futsal sama siapa? satpam istana laut selatan?), dan sederet konsekuensi-konsekuensi lainnya.

Begitu pula dengan pekerjaan lain. Kita mungkin menganggap enak sekali jadi dokter bedah sebab uangnya banyak, tapi kita tak pernah terpikir betapa ia selalu menghadapi pergolakan batin yang dahsyat tiap kali ia gagal menyelamatkan hidup pasien.

Kita bahkan mungkin menganggap enak pekerjaan dukun santet yang tinggal ngirim paku, kawat, dan alat perkakas lainnya doang bisa dapat duit, tanpa kita memperhitungkan bahwa ada risiko paku dan kawan-kawannya itu punya potensi kembali ke perut si dukun kalau ternyata korbannya nggak terima trus order santet ke dukun yang lebih sakti dan punya jam terbang yang lebih tinggi.

Nah, kembali ke pokok kasus ini Sampeyan ini, kita perlu mem-break down, apa sisi lebih dari PNS yang membuat calon mertua Sampeyan itu begitu menginginkan menantu seorang PNS.

Caranya gimana? Tentu saja lewat kekasih Sampeyan. Jangan lewat dukun, kasihan, dia baru saja kena santet balik. Suruh kekasih Sampeyan ngobrol sama orangtuanya untuk memancing pembicaraan, kenapa orangtuanya sangat menyukai profesi PNS.

Dari situ, nanti Sampeyan bisa mengambil tindakan lanjut yakni memberi pengertian mertua Sampeyan tentang apa saja sisi kurang PNS, dan apa saja keunggulan pekerjaan Sampeyan saat ini. Kalau perlu, terangkan beberapa sanggahan tentang pandangan mertua Sampeyan akan PNS. Kalau tidak secara langsung, sekali lagi, bisa melalui kekasih Sampeyan.

Misal, mertua Sampeyan ternyata sangat menginginkan menantu PNS karena ada jaminan penghasilan yang lebih meyakinkan, maka mertua Sampeyan harus diberi pengertian bahwa PNS jaman sekarang tidak seperti dulu, misalnya, atau PNS gajinya tidak sebesar seperti yang dipikirkan oleh banyak orang.

Mertua Sampeyan juga perlu diberi pengertian tentang keunggulan pekerjaan Sampeyan, misal pekerjaan Sampeyan menjanjikan waktu luang yang lebih fleksibel, sehingga kalau ada urusan keluarga mendadak, izinnya bisa lebih mudah. Atau pekerjaan Sampeyan mampu menjanjikan kolaborasi proyek dengan kekasih sekaligus calon suami Sampeyan nantinya.

Mertua Sampeyan perlu tahu tentang betapa kerennya pekerjaan Sampeyan. Betapa hebatnya pekerjaan Sampeyan (walau kalau dari deskripsi Sampeyan, kelihatannya nggak ada hebat-hebatnya).

Saya pikir, itu cara terbaik untuk bisa mengubah pandangan mertua Sampeyan akan sebuah pekerjaan.

Saya tak tahu, cara tersebut bisa berhasil atau tidak. Kalau berhasil, Alhamdulillah. Kalau tidak berhasil, ya mau bagaimana lagi. Tugas saya kan memang cuma ngasih nasihat, bukan ngasih solusi.

Lagipula, saya saat ini sudah punya mertua, jadi rasanya nggak elok kalau saya terlalu banyak ngurus mertua orang lain ketimbang mertua sendiri.

~Agus