MOJOK.CO – Sebagai muslim yang menetap di Amerika, tidak mungkin saya tidak khawatir mendengar teror di Selandia Baru. Tiap salat jumat rasanya jadi mengerikan.

Tidak ada yang pernah menduga pembunuhan brutal di Kota Christchurch, Selandia Baru, kecuali si bajingan Brenton Tarrant. Selandia Baru adalah tempat yang telah dikenal lama sebagai tempat yang damai bagi semuanya. Bahkan tingkat pembunuhan di negara itu mencapai titik terendah selama 40 tahun terakhir tahun 2017.

Penembakan biadab terhadap jamaah yang dilakukan oleh pendukung White Supremacy itu, di saat bersamaan juga menaikkan tensi kekhawatiran dan ketakutan umat muslim di seluruh dunia. Terutama sekali di negara di mana umat muslim adalah minoritas.

Nyatanya tak ada yang benar-benar aman dari ancaman ini. Sekali lagi, Selandia Baru yang dikenal damai itu buktinya. Apalagi di negara yang terkenal dengan Islamofobia seperti Amerika Serikat, senjata dengan mudah diperoleh, dan eksistensi White Supremacy yang meningkat terutama sejak Donald Trump terpilih. Presiden yang doyan sekali dengan isu SARA.

Saya tahu Carbondale—kota kecil tempat tinggal saya di Amerika ini—cukup aman. Maklum, Carbondale masuk wilayah “darah biru”. Istilah yang merujuk pada daerah pendukung mayoritas Partai Demokrat yang terkenal mendukung pluralisme atau keberagaman. Belum ada sejarah penembakan brutal. Semoga selalu begitu.

Tetapi keadaan ini tidak bisa benar-benar jadi garansi. Kenyataannya, Kota Christchurch yang terkenal damai itu menjadi bukti bahwa daerah yang selama ini tenang-tenang saja tidak menjamin selamanya baik-baik saja.

Sejak peristiwa di Selandia Baru, ketika saya ke masjid itu dan menyadari sedang di negara lain, saya menguatkan hati dan menyerahkan sepenuh-penuhnya pada Tuhan. Bahwa apa saja bisa terjadi. Kematian bisa datang tanpa isyarat dan permisi.

Kekhawatiran semacam itu bahkan sering muncul terutama ketika Salat Jumat ke kota-kota besar. Apalagi jika kota besar itu terkenal dengan tingkat rasisme yang tinggi.

Di Kota Saint Louis, tak jauh dari kota kecil saya. Ketika saya kebetulan Salat Jumat di salah satu masjid di sana, saya semakin menguatkan diri sekaligus memasrahkan diri sedapat-dapatnya kalau-kalau sesuatu terjadi. Di luar masjid selalu ada polisi yag berjaga. Lengkap dengan senjata dan mobil polisinya yang terparkir.

Bukan hanya imigran atau pendatang saja yang sering menyimpan rasa khawatir dalam dadanya. Orang lokal kulit putih pun bisa merasakan hal serupa.

Baca juga:  Soal Tagar Kosongkan GBK, Karena Suporter Selalu Salah dan PSSI Selalu Benar

Holly, seorang mualaf kulit putih lokal tempat saya tinggal, sering harus melepas jilbabnya ketika ke luar kota kami. Beruntung, kota tempat tinggal saya—sebagaimana kota-kota pendidikan—memang tidak serasis kota-kota lainnya.

Suatu kali, keluarga Holly dan saya menghadiri sebuah festival di Centralia. Kota kecil kecil ini dihuni mayoritas kulit putih (homogen). Saluran informasi atau berita mereka bisa jadi hanya satu siaran.

Ketika mendekati tempat acara, Holly melepas jilbabnya karena merasa tidak aman. Hal yang sama dilakukan beberapa muslimah ketika Trump baru-baru terpilih tahun 2017 lalu. Maka saya mengerti ketika ada beberapa hendak ke Amerika dan mengkhawatirkan apakah boleh berjilbab atau tidak.

Tentu saja tulisan ini tidak dapat menggeneralisasi apa yang terjadi di Amerika. Sebab, pada umumnya, negara seperti Amerika sebenarnya masih tempat yang ramah mengenakan jilbab.

Beberapa teman saya bahkan bercadar. Dan akan selalu ada orang-orang yang membela ketika ada yang mencoba melarangnya. Setidaknya di beberapa tempat. Sebab tingkat rasisme tiap kota juga berbeda. Tetapi ketakutan dan kekhawatiran tetap saja selalu datang—terutama sejak kejadian penembakan masjid di Selandia Baru.

Akan tetapi, ketakutan itu masih berbentuk pada level waspada. Bukan menjadi prasangka buruk yang terus-menerus dipelihara dan menjadi kebencian yang lain. Sebab kalau ketakutan semacam ini diteruskan, ia bisa jadi kebencian yang sama berbahayanya dengan para pengikut White Supremacy seperti Brenton Tarrant ini.

Brenton Tarrant tentu hanya satu di antaranya. Mereka mungkin sedikit tapi mereka berbahaya dan mematikan. Ya karena mereka tidak punya otak dan hati. Brenton bisa berduplikasi menjadi Brenton-brenton yang lain dengan wajah-wajah yang berbeda di tempat yang berbeda.

Pun begitu dengan White Supremacy. Ia hanya satu nama yang dapat berubah nama pada kelompok-kelompok yang berbeda namun berpaham serupa. Orang-orang yang merasa terancam dan diperlakukan tidak adil sambil merasa selain dirinya salah dan halal darahnya dibunuh.

Apa bedanya dengan mereka mengatasnamakan apapun termasuk agama untuk membunuh sesama manusia lainnya? Apa bedanya mereka dengan ISIS atau kelompok-kelompok serupa yang selalu merasa benar dengan dalih-dalih agama sembari membakar kebencian orang lain?

Brenton Tarrant dan White Supremacy dalam bentuk yang lain bisa ada di sekitar kita dan diam-diam menumbuh dan membesar. Sewaktu-waktu ia bisa melakukan hal yang sama. Bukankah gejala-gejala itu telah banyak terjadi di banyak tempat di dunia ini. Dan sering tidak terduga.

Baca juga:  Indonesia Tunabaca: Logika Rusak Ayat-Ayat Pencela Ahok

Peristiwa kelam di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood adalah kejadian yang rasa-rasanya sulit diterima. Namun, kemarahan kita semoga tidak sekadar berhenti menjadi kutukan dan kemarahan. Selalu ada hikmah di balik kejadian kecil apalagi besar.

Sebagai seorang muslim mayoritas yang dulu tinggal di Indonesia, pengalaman sebagai minoritas di negara Amerika membuat saya semakin bersyukur betapa rasa aman itu sungguh mahal harganya.

Di negara Indonesia yang damai, kita dapat melaksanakan Salat Jumat tanpa khawatir diberondong senjata. Saya bisa bersarung dengan peci di kepala ketika ke masjid. Bahkan saya dengan pakaian yang sama, bisa bebas ke toko-toko.

Suatu hal yang jarang dan hanya saya lakukan ketika isya atau subuh selama di Amerika. Padahal masjidnya hanya di seberang jalan. Ya saya tidak berani melakukannya di sini.

Di Indonesia, muslimah bebas mengenakan jilbab tanpa khawatir apapun. Bahkan terkadang pengenaan jilbab mempunyai kekuatan dan legitimasi tersendiri. Kita belum menyebut privilise lainnya yang saya miliki sebagai seorang muslim dan mayoritas.

Betapa menyenangkan dan damainya hidup di Indonesia sebagai seorang muslim. Bisa bikin acara-acara keagamaan dengan cukup terbuka, pengajian di mana-mana, aspirasi bisa disampaikan di jalanan. Kebebasan dan keramahan yang belum tentu bisa didapatkan di negara-negara asing—sekalipun itu di negara-negara Arab.

Masalahnya, di Indonesia sana, masih ada saja kelompok yang tidak bersyukur dengan kondisi seperti itu. Ada saja kelompok-kelompok yang masih ngotot bahwa kondisi saat ini adalah kondisi yang mengancaman umat muslim. Tidak puas dengan keadaan yang sekarang.

Padahal kalau mereka mau lihat, banyak negara-negara asing di luar sana (terutama yang mayoritas muslim) merasa iri dengan kondisi di Indonesia saat ini. Meski tetap ada konflik-konfil kecil, tapi tetap tidak pernah sampai membuat terpecah-belah sebagai sebuah bangsa.

Bisa dibilang, masyarakat muslim yang paling beruntung di dunia ini adalah mereka yang tinggal di Indonesia. Sebuah bangsa yang berhasil menggabungkan demokrasi namun tetap berpegang teguh dengan nilai-nilai Islam. Belum ada bangsa lain yang bisa melakukannya sebaik Indonesia.

Dan sudah seharusnya kita bersyukur akan itu. Bukan malah berencana akan menghancurkannya.