• 2K
    Shares

MOJOK.CO – Arab Saudi dan Cina sama-sama bersikap realistis dengan saling merangkul. Bahkan Saudi sampai bikin kurikulum Bahasa Cina di negaranya. Omaigat, antek aseng.

Tanpa banyak cincong, pada bait pertama puisi berjudul Gan Jiu (Mengenang Ikhwan Lama) yang ditulis Cao Shu, sastrawan Dinasti Jin Barat (266–316) itu langsung ngegas mengatakan, “Fu gui ta ren he, pin jian qin qi li.”

Terjemahan ngak-ngik-ngoknya kira-kira, “Siapa pun akan mendekat jika antum kaya. Keluarga pun akan menjauh bila antum miskin.”

Ana merasa kalimat tersebut cocok untuk mendeskripsikan bagaimana Cina, dengan kemasifan fulus hasil berjerih payah selama 40 tahun menerapkan kebijakan Reformasi dan Keterbukaan (gaige kaifang) yang dirancang mendiang Deng Xiaoping, telah menjelma semacam dedek-dedek gemes nan tajir yang dipepet terus-menerus oleh kaum tuna asmara sebumi datar.

Ana kira perumpamaan begitu tidaklah berlebihan. Pasalnya, antum mau berjihad mencari negara di dunia fana ini baik yang suci, lebih-lebih yang penuh dosa—yang tidak mbribik Cina, tampaknya akan menjadi “hil yang mustahal” belaka.

Karenanya, barang siapa yang muluk-muluk beretorika anti-aseng dan sok antek aseng, hampir bisa dipastikan—meminjam istilah filsuf Konghucu dalam kitab Lun Yu—merupakan usaha “bermanis-manis dalam perkataan, menandakan si pembicara krisis moralnya” (qiao yan ling se, xian yi ren).

Buktinya, bahkan Kerajaan Saudi yang senantiasa antum puja-puji kesuciannya itu tak mau ketinggalan bersikap realistis menjadi negara yang turut merangkul Cina. Nggak percaya? Oh, baru beberapa waktu lalu kejadian kok mereka jadi “antek aseng”.

Begini. Usai kunjungan rombongan Ketua Parlemen Iran ke Cina, Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman atau yang akrab disapa MBS, mengakhiri lawatannya ke Asia dengan mengunjungi Cina pula. Seolah-olah nggak mau kalah sama negara sahabat yang syiah itu.

Kepentingan ekonomi sudah barang tentu merupakan motif utama anjangsana MBS ke Cina.

Seperti dikemukakan Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, dalam wawancaranya dengan Asharq al-Awsat, koran berbahasa Arab yang berbasis di London, perniagaan Saudi dengan Cina pada 2018 mencapai 63,33 miliar dolar Amerika.

Baca juga:  Pendapat NU dan Muhammadiyah Soal Konflik Uighur yang Tak Mau Kita Dengar

Jadi selama 18 tahun berturut-turut, Saudi berperan sebagai mitra dagang terbesar Cina di Timur Tengah dan Afrika. Belum lagi investasi Cina di Saudi yang subhanallah jorjorannya.

Seumpama suatu saat antum berkesempatan naik kereta cepat Mekah-Madinah yang resmi beroperasi pada penghujung tahun 2018, panjatkanlah doa “jazākallāh aḥsana al-jazā” untuk Cina, sebab mereka lah investornya.

Kendati ingin sembuh dari “Penyakit Belanda” (Dutch Disease) lantaran ketergantungannya pada minyak, walau bagaimana pun Saudi tetap butuh pembeli minyaknya dan penanam modal yang handal untuk mewujudkan “Visi 2030” yang diluncurkan MBS.

Oleh sebab itu, sebagaimana diriwayatkan dari sanad kantor berita Saudi SPA, MBS datang dan menjadi antek aseng untuk menandatangani 35 perjanjian kerja sama ekonomi dengan Cina lebih dari 28 miliar dolar Amerika.

Nah, bagian 10 miliarnya direncanakan untuk membangun kompleks penyulingan minyak dan petrokimia di Provinsi Liaoning, Cina, antara Aramco dan Norinco, perusahaan Cina yang terkenal dengan keahlian memproduksi senjata.

Sebenarnya, kalau antum mengikuti isu ini, kerja sama Aramco dan Norinco ini pernah diumumkan di sela-sela kunjungan Raja Salman ke Cina selepas dari Indonesia pada 2017 silam. Waktu itu, antum tahu, Saudi juga berkomitmen membangun kilang minyak di Cilacap, tetapi agaknya belum ada perkembangan berarti hingga kini. Malah yang di Cina yang akhirnya terus digenjot.

Kemarin, niat Aramco untuk membeli 9 persen saham perusahaan pengilangan minyak di Kota Zhoushan, Provinsi Zhejiang, pun dimatangkan.

Aramco barangkali ingin mengembalikan kedudukannya yang sejak 2000 sampai 2015 menjadi pemasok minyak nomor satu ke Cina, tapi kemudian didepak Rusia. Jadi begitulah. Meski kafir, besarnya pasar Cina memang selalu bikin ketagihan. Maklum, uang tidak mengenal agama dan ideologi. Bikin antek aseng itu malah seperti pujian.

Baca juga:  Cara Arab Saudi Memanggil Uang ke Negaranya dan Menyaingi Dubai

Kata Sastrawan Dinasti Jin Barat Lu Bao dalam tulisan satirenya yang bertajuk Qian Shen Lun (Tentang Uang dan Tuhan), “duit bisa menjinakkan setan, apalagi manusia” (you qian ke shi gui, er kuang yu ren hu).

Tidak berhenti di perminyakan, Kementerian Haji dan Umrah Saudi ikut meneken kesepakatan kerja sama dengan Huawei—yang oleh Amerika dituding sebagai perusahaan mata-mata Cina—untuk memfasilitasi rencana digitalisasi administrasi jemaah haji dan umrah muslim sedunia.

Belum puas, Saudi masih menandatangani perjanjian kerja sama dengan Cina sebesar 2,5 miliar riyal untuk membangun lebih dari 5 ribu unit perumahan penduduk di Riyadh.

Akan tetapi, semua itu kalah mencengangkan ketimbang rencana Saudi yang sepakat memasukkan bahasa Cina ke dalam kurikulum pendidikannya. Dengan demikian, di setiap jenjang sekolah di Saudi, dari yang terendah sampai yang tertinggi, akan diajari bahasa Cina.

Sekarang coba antum bayangkan, betapa makin terancamnya akidah umat kelak apabila negara sekeramat Saudi saja membiarkan Cina leluasa menelusuk ke setiap lini negaranya.

Makanya, wajib hukumnya bagi antum untuk sesegera mungkin bergerak mendemo Kedubes Cina agar tidak coba-coba memperdaya Saudi menjadi antek aseng yang kaffah. Gorenglah terus isu keagamaan etnis Uighur yang konon ditindas rezim komunis Cina dengan dalih kontraterorisme dan deradikalisasi buat mengompori massa.

Namun, maaf sekadar mengingatkan, kala bertemu Presiden Cina Xi Jinping, MBS berfatwa, “Liṣ-Ṣīni l-haqqi fit-tikhāżi tadābīra limukāfaḥati l-irhābi wattaṭarruf liḍmāni l-amni l-qaumī … As-Su’ūdiyyah taḥtarimuhā watad’amuhā wamsta’iddatu lita’zīzi t-ta’ āwun ma’ahā.”

Ana alihbahasakan secara ugal-ugalan: “Cina mempunyai hak untuk melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan guna memerangi terorisme dan ekstremisme demi menjaga keamanan nasionalnya… Saudi menghormati dan mendukung (langkah-langkah Cina dimaksud), serta bersiap untuk memperkuat kerja sama dengannya.”

Gimana, Akhi? Berani unjuk rasa di depan Kedubes Saudi untuk memprotes pernyataan MBS yang terdengar lebih memihak Cina dan jadi antek aseng itu?