• 915
    Shares

MOJOK.CO – Beberapa waktu lalu muncul wacana Poros Mekah vs Poros Beijing untuk desain Pilpres 2019. Nama Presiden Jokowi disebut berada di Poros Beijing, dan lawannya—siapa pun nantinya—di pihak Poros Mekah. Lha kok enak~

Sejak ocehan mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu dianggap menista agama dan berbuntut demo akbar berjilid-jilid di jalanan ibu kota, sampai sekarang masih ada saja pihak-pihak tertentu yang tak henti-hentinya membenturkan Islam dengan hampir segala hal yang berbau Cina.

Betapa tyda?

Selepas bersilaturahmi ke kediaman Yang Mulia Habib Rizieq Shihab di Saudi Arabia pada bulan Juni 2018 silam, Muhamad Idrus selaku sekjen Sekretariat Bersama Indonesia (beranggotakan Gerindra, PKS, dan PAN) menyatakan bahwa “mengharapkan dalam Pilpres 2019 ke depan hanya ada dua poros yang berlaga.”

Politikus separtai dengan bekas Menkominfo Tifatul Sembiring—yang lantaran mempertanyakan pentingnya internet cepat sehingga baru ngeh kalau Gus Yahya Cholil Staquf adalah kiai—tersebut menuturkan, dua poros yang dimaksud ialah Poros Mekah dan Poros Beijing.

Poros Mekah, sebagaimana fatwa Habib Rizieq yang diriwayatkan Idrus, yaitu poros yang “tetap konsisten terus mengusung agenda umat yang mana tidak mengkriminalisasi agama dan memenjarakan ulama.”

Oke, kita catat baik-baik dulu tiga kata kuncinya: (1) agenda umat; (2) tidak mengkriminalisasi agama; (3) tidak memenjarakan ulama.

Kebalikannya, terang Idrus, Poros Beijing disematkan khusus buat kubu petahana Jokowi yang makin hari makin terlihat mesra dengan Cina. Buktinya, Jokowi mendukung penuh program penggalakan interkonektivitas infrastruktur global One Belt One Road (OBOR) besutan Presiden Xi Jinping yang menyebabkan Indonesia diserbu pekerja-pekerja dari Cina.

Cebong sekolam pastilah kejang-kejang lantaran tak bisa lagi mengelak info valid nan sahih ini!

Sayangnya, Idrus sebagai perawi tak membeberkan lebih lanjut titah suci habibana tercinta. Padahal, andai dijabarkan lebih detail, orang awam macam ana akan merasa tercerahkan dan syukur-syukur meyakini bahwa dikotomi dua poros yang diajukan bukan untuk menambah kusut tenun kebangsaan kita.

Berangkat dari niat baik itu, bagaimanapun, ana kudu memberanikan diri mempertanyakan kejelasannya. Namun, mohon jangan dihitung dosa ya? Ya kalau dosa ya dikit aja, biar bisa disetip.

Baiklah, langsung saja. Pertama, bisakah disebutkan apa saja “agenda umat” yang bakal diusung Poros Mekah kelak? Ini krusial. Soalnya program-program Poros Beijing sudah cukup kita ketahui selama empat tahun Jokowi memerintah. Kan enggak lucu kalau “agenda umat” yang kita saksikan selama ini cuma berupa unjuk rasa dan sweeping atas nama amar makruf terhadap siapa saja yang dianggap berseberangan paham.

Kedua, siapa yang “mengkriminalisasi agama”? Jika oknum yang dimaksud adalah Jokowi, lantas agama apa yang dikriminalisasi? Jawabannya penting diketahui sebab sependek pengetahuan ana sejauh ini belum ada agama atau pula penganut agama apapun yang diusik keberadaannya oleh pemerintahan Jokowi. Ya kecuali terhadap yang hobinya menebar kebencian atau yang ngamuk-ngamuk tak jelas juntrungannya—mungkin ada.

Negeri sekeramat Saudi saja, melalui Menlunya kala Oktober tahun lalu cuap-cuap di Rusia dan garang mengumumkan, “kami tidak akan membiarkan siapapun menyebarkan ideologi kebencian dan mendukung ideologi terorisme atau semacam itu.”

Tak tanggung-tanggung, dipecatlah ribuan imam masjid yang dalam khotbahnya dianggap mengampanyekan radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme. Riyadh bahkan rela bekerja sama dengan negara asal komunisme dalam perang melawan terorisme.

Antum mestinya mafhum bahwa menjamurnya “segala jenis orang-orang hipokrit yang pandai bersilat lidah” (kullu munāfiqin ‘alīmi al-lisān) adalah wabah yang paling ditakutkan Rasulullah menimpa umatnya. Sebagaimana sabdanya, Inna akhwafa mā akhāfu ‘alā ummatī kullu munāfiqin ‘alīmi al-lisān.

Dan, dalam An-Nisā’ ayat 145, mengancam akan memanggang para munafik di lapisan terbawah neraka di mana tak bakal ada siapa pun yang bisa menolong (Inna al-munāfiqīna fī al-darki al-asfali mina al-nāri wa lan tajida lahum naṣīrā). Pokoknya, jahannam is waiting for you, Brother, kalau kata Zakir Naik, junjungan antum, ketus.

Ketiga, ulama mana yang dipenjarakan Jokowi? Kalau yang dimaksud adalah Habib Rizieq, pemecah rekor umrah terlama sepanjang zaman tersebut justru dikirimi parsel lebaran berupa Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) kasus percakapan mesum yang disangkakan melibatkan dirinya dengan seseorang berinisial FH.

Ana yakin antum tidaklah amnesia bahwa yang pernah memenjarakan ulama—jika dalam hal ini Habib Rizieq—justru rezimnya SBY, tahun 2008 silam. Ajaibnya, waktu itu dan hingga hari ini antum tak mencak-mencak mengutuk Pepo telah mengkriminalisasi ulama. Mengapa? Mengapa bisa begitu Pak Beye? Jawaaab…

Oke, sudahi di situ dulu, yes, persoalan mengenai Poros Mekah. Selanjutnya kita korek-korek Poros Beijing.

Begini, seiring relatif menurunnya kekuatan ekonomi Amerika pasca-krisis 2008, hampir mustahil mencari negara di bumi datar ini yang enggak kepincut sama Cina yang tajir itu. Makanya, jika karena mesranya pemerintahan Jokowi dengan Cina lalu antum nyinyir mengecapnya Poros Beijing, maka sepatutnya antum juga kudu berani menyerapahi Saudi pakai tuduhan yang sama.

Lha gimana? Relasi Saudi dengan Cina juga amat intim, ya Akhi. Konkretnya, sebagaimana dinyatakan Xi Jinping dalam artikel yang ditulisnya dengan bahasa Arab di harian Al Riyadh edisi 18 Januari 2016 silam, Cina telah menjadi mitra dagang terbesar Saudi sejak 2013. Pada 2014, angka perniagaan bilateral Saudi-Cina mencapai hampir 70 miliar dolar Amerika, alias melonjak 230 kali lipat ketimbang ketika kedua negara resmi menjalin hubungan diplomatik pada 1990.

Karena itu, masih merujuk Xi Jinping, setiap 7 Riyal pendapatan ekspor Saudi, pasti 1 Riyal di antaranya berasal dari Cina. Sekali lagi, dari Cina, ya Ukhti! Astagfirullāh al-aẓīm.

Bagaimana mungkin penghasilan halal negeri sesuci Saudi bisa kenajisan fulus-fulus haram dari negeri komunis-kafir-laknatullah itu? Padahal, manakala yang halal dan yang haram bercampur, maka yang haramlah yang mendominasi, iżā -jtama’ al-halāl wa al-harām guliba al-harām. Piye jall kuwi?

Etapi, duit tidak berbau ding. Pecunia non olet.

Setali tiga uang, ploduk-ploduk murah asal Cina pun membanjiri pusat perbelanjaan Saudi semacam Bin Dawood, Pasar Zakfariah, Pasar Balad, Jalan Falestin, dan sebagainya.

Tak percaya? Sila periksa songkok, sajadah, sorban, tasbih, mainan berbentuk unta, laptop-laptopan yang bisa mengaji, manisan coklat, atau barang-barang apa saja pemberian orang-orang yang baru datang dari Tanah Suci, niscaya tak sulit antum temukan label “Made in China” atau aksara Arab “Ṣuniʿa fī al-Ṣīn” nyempil di sela-selanya.

Bukan cuma itu, tenaga kerja aseng (TKA) dari Cina yang entah apa agamanya, juga berduyun-duyun mengais rezeki Allah ke Saudi. Data Biro Statistik Nasional Cina merinci, saban warsa, buruh Cina yang dikirim ke Saudi terus mengalami peningkatan. Dari yang hanya 16.792 orang pada 2011, meroket menjadi 27.520 orang pada 2016. Lebih banyak ketimbang TKA Cina yang ke Indonesia, toh? Dan layaknya di Indonesia, mereka pun bekerja pada proyek-proyek yang digarap investor-investor Cina di sana.

Memang sepahit itulah faktanya: tak sedikit megaproyek—khususnya infrastruktur—Saudi yang pembangunannya dibiayai sekaligus dikerjakan oleh 10 juta TKA ilegal Cina. Coba saja kalau antum bepergian ke daerah Mina, Muzdalifah, atau Arafah misalnya, sekali-kali coba deh dongakkan kepala dan pelototi rel yang berkelak-kelok itu.

Na‘am, itu trayek kereta listrik Al Mashaaer Al Mugaddasah sepanjang 18 km yang dibangun Cina secara rugi khusus buat jemaah haji dari negara-negara sekitar Saudi. Subhanallah sekali, bukan?

Itu belum semuanya. Cina juga terlibat dalam proyek kereta cepat Haramain (qiṭār haramaīn al-sarī‘) yang menghubungkan Mekah dan Madinah. Kalau sesuai rencana, September 2019 esok kereta ini sudah mulai beroperasi.

Akhirnya perjalanan spiritual jutaan umat dari Mekah ke Madinah dan vice versa tentu tak akan semelelahkan seperti biasanya yang ditempuh sekitar 7 jam pakai bus sonder toilet. Ana yang beser pernah selama itu perih menahan pipis lantaran King Long, merek bus buatan Cina, yang ana tumpangi dari Mekah ke Madinah ngejos tak berhenti untuk sekadar mencari kamar mandi.

Begitulah, kalau dihitung-hitung, amal jariyah negeri komunis-kafir-laknatullah satu itu sangatlah luwar biyasa. Antum yang suci masa enggak iri kalau bisanya cuma main poros-porosan bernuansa SARA?

Coba deh, hibahkan ke Cina aja gih kapling-kapling surganya. Yakin sudah, pasti laku di sana. Daripada di sini cuma disembah-sembah dibayar murah, siapa tahu di sana malah bisa laku keras plus jadi jariyah. Lagian, ngapain juga sih surga dijualin jadi Tuhan yang disembah-sembah sampai dipagerin bendera-bendera partai? Duh, duh, kok ya sampai segitunya cari jamaah.

  • 915
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles