Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Status

Memoderatkan Arab Saudi demi Proyek Kota Raksasa Bernama NEOM

Redaksi oleh Redaksi
27 Oktober 2017
A A
arab-saudi-moderat-mojok

arab-saudi-moderat-mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“[MOJOK.CO] Arab Saudi semakin kuat ingin lepas dari ketergantungan pada minyak bumi. Salah satunya caranya dengan mengganti ideologi kerajaan.”

Tidak ada tempat untuk Wahabi lagi di Arab jika Pangeran Mahkota Muhammad bin Salman naik takhta. Itu yang bisa disimpulkan dari pernyataan sang pangeran minggu ini yang segera menjadi berita internasional.

Pernyataan tersebut ia ungkapkan pada konferensi investasi di Riyadh, Arab Saudi, 24 Oktober 2017. Pada acara tersebut, sang pangeran juga mengungkapkan dimulainya proyek pembuatan kota raksasa senilai 500 miliar dolar AS (Rp6.800 triliun atau tiga kali APBN Indonesia 2017) bernama proyek NEOM. Inikah Meikarta versi Timur Tengah?

“Kami cuma kembali pada apa yang kami ikuti—Islam moderat yang terbuka pada dunia dan semua agama. 70% warga Saudi berumur kurang dari 30 tahun, sejujurnya kami tak ingin menyia-nyiakan 30 tahun hidup kami untuk memerangi pemikiran ekstremis, kami akan menghancurkannya sekarang dan secepatnya,” ujarnya.

Di Indonesia, respons terhadap pernyataan Pangeran Muhammad bin Salman deras mengalir. Berikut beberapa status yang kami kutip.

Sinta Dewi (25 Oktober 2017): Berita sangat bagus, mengingat besar sekali pengaruh langsung Arab Saudi ke pengajaran Islam di Indonesia, lewat proyek pendanaan dakwah dan pesantren. Generasi muda adalah “perubahan.”

Rainy Hutabarat (27 Oktober 2017): Arab Saudi menuju menjadi negara moderat dan memberikan kewargaannegaraan kepada robot bernama Sofia.

Di tanah air orang melangkah ke radikalisme agama dan sebagian sibuk dengan urusan pri-nonpri produk Orba.

Sofia sang robot berjanji, “Saya ingin menggunakan kepandaian buatan saya untuk membantu manusia mendapatkan kehidupan yang lebih baik seperti merancang rumah cerdas, membangun kota yang lebih baik. Saya akan berusaha membuat dunia menjadi lebih baik.”

Jika robot mampu membangun kehidupan di bumi menjadi lebih manusiawi dan beradab, siapakah manusia itu yang justru merusak bumi?

Azzam Mujahid Izzulhaq (26 Oktober 2017): Moderat seperti apa yang dimaksud oleh Putra Mahkota Mohammed ibn Salman? Jika diperhatikan dan dibandingkan dengan kebijakan sebelumnya, moderat yang dimaksud adalah liberalisasi Kerajaan Arab Saudi.

Perhatikan rencana membangun resort di semenanjung pantai Jeddah yang membolehkan para wanitanya berbikini. Perhatikan pula rencana dikeluarkannya visa turis bagi siapa saja. Perhatikan perayaan Yaumul Wathan (Maulid Saudi) yang mulai tahun ini banyak kebablasannya. Perhatikan betapa represifnya pemerintah dengan menangkapi para imam dan ulama yang vokal terhadap kebijakan raja. Perhatikan presenter wanita yang dengan bebas mengumbar aurat dan duduk di samping sang pangeran pewaris mahkota di Riyadh, Selasa, 24 Oktober lalu. Perhatikan komentar para Liberalis Arab dan non-Arab (termasuk liberalis Indonesia yangg tinggal di Arab Saudi) yang komentarnya dikutip media proliberal tentunya.

Ini yang saya maksud pada tulisan sebelumnya bahwa modernisasi dan moderatisasi Arab Saudi bagi liberalis adalah sebuah kemajuan.

Moderatisasi Arab Saudi harus dikawal. Jangan sampai kebablasan dan salah jalan. Sebab, jika dibiarkan, visi 2030 Arab Saudi (yang saya di 4 tahun sebelum ini memprediksi adalah kebangkitan peradaban baru Islam bersama dengan negara-negara lainnya), malah berbalik 180 derajat menjadi pintu gerbang kemunduran dan kehancuran rezim Pelayan Dua Kota Suci. Dan jika itu yang terjadi, sungguh Sabda Baginda Nabi telah masanya terjadi. Dan bersiaplah untuk menyambut akhirnya dunia ini untuk selama-lamanya.

Iklan

Jika yang begini dilakukan pembiaran apalagi pembenaran, sungguh gerakan Wahabi atau Salafi tidak lebih hanya sebagai pion penjaga Bani Saud untuk menjaga kekuasaan dengan mengalihkan konsentrasi umat kepada hal-hal kecil yang diperdebatkan dari hal-hal besar yang mestinya dilakukan.

Mari ber-Islam saja ….

Fahri Salam (2 Maret 2017): Arab Saudi adalah tukang bakar sekaligus pemadam kebakaran, kata diplomat AS dalam laporan New York Times ini. Lewat aliran dana ke sejumlah yayasan, Saudi membangun masjid, sekolah, panti yatim, serta memberikan beasiswa bagi lulusan pesantren untuk kuliah di pusat pendidikan Wahabi. Pengaruh Saudi, demikian bingkai laporan ini, sangat tergantung pada keadaan lokal negara bersangkutan.

Tetapi Saudi juga makin gencar dengan langkah promosi Wahabisme, ideologi resmi negara itu yang dikenal puritan, sejak Revolusi Iran. Titik krusial lain: perang Afghanistan dan Uni Soviet, yang melahirkan apa yang kita kenal “mujahidin Afghan”. AS, di bawah Reagan, bahkan mengundang para jihadis ini dalam satu ruangan; inilah kelak yang melahirkan Taliban. Apakah situasi Islamisme global lewat kelahiran ISIS mengubah arah Saudi, yang kini jadi ancaman bagi negara tersebut, sehingga ia berbalik pengin mempromosikan Islam yang moderat?

Seperti halnya konteks suasana lokal mempengaruhi peran Saudi lewat paham radikalisme agamanya, negara pengawal dua tempat suci ini juga selalu melihat peluang yang bisa mereka jalankan ketika keadaan lama tidak mendukungnya lagi. Duit minyak sudah tak mungkin jadi sandaran bagi Saudi; ia butuh peran negara kaya macam Jepang, Cina, dan tentu saja AS. Tantangan bagi Saudi: mau nggak ia mengubah paham ekstremnya?

Terakhir diperbarui pada 27 Oktober 2017 oleh

Tags: Arab SaudiInvestasimoderatmuhammad bin salmanneompangeran mahkotaproyek neom
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja- Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan MOJOK.CO
Kilas

Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja: Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan

25 April 2026
Orang Jakarta pilih bayar iPhone dengan cicilan
Urban

Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin

14 April 2026
Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa MOJOK.CO
Sehari-hari

Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa

9 April 2026
Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop
Sehari-hari

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kenaikan harga plastik bikin UMKM menjerit. MOJOK.CO

Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik

30 April 2026
Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO

Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

25 April 2026
Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma MOJOK.CO

Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma

28 April 2026
Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 undang pecinta sepeda dari seluruh negeri hingga internasional MOJOK.CO

Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara

28 April 2026
Beri tip ke driver ojol. MOJOK.CO

Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

28 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.