Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mari Sukseskan Natal #SuperDamai2512

Yuri Nasution oleh Yuri Nasution
6 Desember 2016
A A
Mari Sukseskan Natal #SuperDamai2512

Mari Sukseskan Natal #SuperDamai2512

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Natal sebentar lagi tiba. Semaraknya sudah mulai terasa. Berbagai macam dekorasi khas Natal menghiasi pusat perbelanjaan. Lagu-lagu Natal berkumandang di angkot hingga bistro mewah. Meskipun saya pribadi sedih fenomena budaya ini tidak terjadi media sosial.

Bagi komunitas Kristen sendiri, terutama jemaah Protestaniyah, khususnya ladi di komunitas Batak, Natal sebenarnya sudah dirayakan jauh sebelum 25 Desember. Biasanya mulai heppot sekitar awal Desember. Dan perayaan Natal ini dilakukan di berbagai komunitas yang diikuti. Terhitung mulai tanggal 1–25 Desember, kalender akan dipenuhi dengan jadwal perayaan Natal yang mesti dihadiri. Mulai dari Natal gereja, Natal kampus, Natal punguan marga, Natal punguan marga suami, Natal organisasi, Natal alumni, Natal RT/RW, Natal oikumene, Natal gereja lain yang alirannya berbeda namun mendatangkan artis ibu kota favorit (ini biasanya kebiasaan mahasiswa), Natal gereja yang alirannya cukup asing di telinga namun menyediakan makanan enak (kebiasaan mahasiswa juga), dan masih panjang lagi daftarnya.

Iklan

Selalu menarik melihat kehebohan demi kehebohan dalam setiap perayaan hari besar agama. Saya sendiri cukup sering mengikuti perayaan Natal meski bukan berasal dari komunitas Kristen. Menyenangkan sekali. Saya terinspirasi melihat militansi mamak-mamak Batak yang rela menyasak rambut setiap harinya untuk mengikuti berbagai perayaan Natal. Berat kali lah kepala itu, Namboru. Juga terharu melihat anak-anak kecil yang semangatnya tinggi sekali mengikuti latihan kor dan drama natal bahkan sejak bulan September.

Yang menarik lagi adalah mengikuti tradisi martina di setiap perayaan natal. Martina merupakan singkatan dari marhallet tikki natal (memadu asmara ketika Natal). Jomblowan dan jomblowati Batak Kristen yang kerap frustrasi karena sering baper dengan lawan jenis yang ternyata beda agama, menemukan martina sebagai solusi mutakhir persoalan purba ini. Di gerejalah mereka punya peluang besar untuk menemukan tambatan hati yang seiman, cantik/ ganteng, dan (untungnya) sesama orang Batak lagi. Meski tak jarang tragedi SMP (Selesai Marnatal Putus) juga dialami kaum jomblo yang kerap sial ini.

Beberapa acara perayaan Natal ini memiliki konsep yang mirip dengan halalbihalal orang Islam saja sebenarnya. Ia lebih merupakan momen silaturahmi dan tidak melulu hanya ibadah. Jika mesti memilih, saya toh bisa menepi sejenak jika sesi ibadah sedang berjalan. Lalu ikut nimbrung lagi setelahnya. Merasakan sukacitanya, menikmati penganannya.  Soal polemik penganan halal-haram, saya yakin teman saya tidak akan menjerumuskan saya untuk memakan makanan yang haram. Saya cukup menanyakan saja. Makanan orang Kristen toh tak melulu haram. Dan saya juga tidak lah ge er-ge er amat akan “dijebak” atau “dikristenisasi” dengan suguhan babi. Babi itu enak, teman saya juga akan enggan berbagi, hehehe….

Terkhusus di wilayah pedesaan, makna Natal memiliki khas tersendiri. Ia lebih dari sekedar pesta besar yang mewah dengan penganan enak dan hiburan artis ibu kota. Solidaritas dan kekeluargaan sangat terasa melampaui sekat-sekat iman dan agama. Di Bungabondar, salah satu desa yang berjarak 10 jam perjalanan darat dari Medan, Natal (dan Lebaran) menjadi momen penuh sukacita bagi setiap warga. Warga Bungabondar punya tradisi berusia ratusan tahun yang disebut marjambar. Dalam tradisi itu, tanpa dikomando, saat perayaan Natal warga kristiani mengetuk rumah tetangganya yang beragama Islam untuk membagikan penganan khas Natal. Begitu pun sebaliknya di hari Lebaran. Asyik sekali.

Perayaan Natal di Bungabondar tidak hanya dihadiri warga kristiani. Warga muslim juga turut serta dan bahkan menjadi panitia pelaksana Natal. Ikut dalam kehebohan memasak di dapur untuk menyediakan penganan yang akan disajikan dalam acara Natal tersebut. Dan tradisi ini juga masih banyak dipraktikkan dalam masyarakat puak Batak lainnya. Di wilayah Karo, seluruh warga desa, baik Islam maupun Kristen, serentak berkumpul di jambur (balai desa) untuk merayakan Natal. Anda juga akan takjub melihat kakek-kakek di wilayah Toba dengan bangga menggunakan peci, yang sering disalahkaprahkan orang sebagai atribut Islam, ketika hendak merayakan Natal di gereja.

Toleransi sangat kuat terasa. Tak ada polemik haram atau tidaknya mengucapkan selamat Natal. Tidak ada yang takut imannya akan luntur hanya karena memakan kue Natal dan bersama mendengarkan hiburan musik tradisional Batak. Ia merupakan milik bersama. Oleh karena itu perayaan puncak untuk seluruh warga biasanya bukan diadakan di gereja, melainkan di balai desa. Dan bagi mereka, tidak ada yang terlalu prinsipil dalam konsep merayakan sesuatu dengan sukacita bersama tetangga. Karena leluhur mereka telah bersama dan bersaudara jauh sebelum agama Islam dan Kristen hadir menjadi identitas “pembeda”.

Mereka mempraktikkan kebinekaan yang sebenarnya tanpa mesti melakukan pawai artifisial memakai pakaian tradisional dan “identitas kebangsaan” yang banal lalu lanjut twitwar dan saling menjelekkan setelahnya. Hm.

Saya juga belum kenal satu orang pun yang lantas “murtad” karena mengikuti acara-acara seperti ini. Seperti ustaz di Bungabondar yang ikut duduk dalam setiap perayaan natal, lalu esoknya tetap mengajari anak-anak membaca Al-Quran dengan sepenuh jiwa dan raga. Memberi ceramah di mesjid bahkan hingga ke rumah-rumah warga. Tanpa memungut bayaran apa pun. Tanpa berteriak “Allahu Akbar” di mana-mana, apa lagi menangis di layar kaca untuk mendapat atensi semata.

Tulisan ini bukan untuk menulari Anda sipilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme) seperti yang banyak dituduhkan jamaah yang nganu loh ya. Saya hanya berbagi pengalaman-pengalaman saya sebagai antitesis atas pikiran kita yang telah dikotori dengan prasangka selama ini. Sentimen serba-anti yang disebarkan semakin parah dari tahun ke tahun. Seakan-akan pemeluk agama yang berbeda dengan kita tidak punya kerjaan lain selain hendak mengafirkan kita.

Seakan Natal adalah agenda kristenisasi mahabesar yang di dalamnya orang-orang Kristen bersumpah akan mengkristenkan orang yang belum menjadi pengikut Kristus. Perayaan Natal itu sama saja dengan perayaan hari besar lainnya. Anak-anak bersukacita, orang tua pusing membelikan baju hari raya. Ada makan-makan besar dan keharuan bertemu keluarga setelah sekian lama. Familier, bukan?

Faktanya, perayaan hari besar agama apa pun notabene memang bukan lagi milik hegemoni komunitas penganut agama tertentu. Ia lebih daripada itu. Ia bahkan mampu menjelma menjadi pesta budaya yang melibatkan dan memberi kebahagiaan bagi semua pihak. Kolak nan menggoda yang dijual menjelang buka puasa tak pelak akan membuat ngiler seorang ateis sekalipun, bukan? Sesederhana itu.

Dan terus terang, saya banyak belajar soal toleransi dari “orang-orang kampung” yang merayakan Natal dan juga Lebaran tadi. Di sinilah saya menemukan praktik toleransi yang sebenarnya. Ketika mereka memandang perayaan hari besar agama sebagai perekat dan bukan pemisah. Sebagai momen silaturahmi: hiburan pelepas penat setelah setahun terus-terusan bekerja.

Dari mereka saya belajar, bahwa toleransi tidak akan bisa muncul tanpa adanya rasa solidaritas. Rasa kebersamaan. Toleransi yang artifisial tidak akan menghasilkan apa pun. Ia tidak akan muncul hanya karena telah khatam teori-teori toleransi atau menjadi peserta dalam konferensi-konferensi pluralisme. Teman saya yang sudah pernah ikut pelatihan pluralisme toh kemudian masih enggan meminum air yang diberikan oleh orang yang berbeda agama. Menyedihkan. Ketiadaan solidaritas dalam model toleransi seperti itu layaknya bom waktu yang tentu akan semakin memisahkan kita sebagai bangsa Indonesia. Sebagai sesama manusia.

Oleh karena itu, mari singkirkan perbedaan dan bersenang-senang sajalah. Tunggu apa lagi, jangan sia-siakan kue Natal yang berhamburan di perayaan Natal itu. Atau habiskan liburan akhir tahun Anda untuk mengunjungi kampung-kampung yang toleransinya masih terasa ketika Natal tiba. Saya percaya, masih banyak orang-orang yang mempraktikkan toleransi yang luhur  di tengah fenomena penanaman masif prasangka-prasangka irasional tadi. Dan saya percaya, banyak dari kita yang merindukan dan mendambakan keceriaan merayakan Natal dan hari besar agama lainnya, bersama dengan saudara-saudara kita yang berbeda agama.

Selamat merayakan Natal, Jamaah Mojokiyah! Selamat kembali menonton Home Alone edisi Natal!

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: batakfeaturedIslamKristenMartinaNatalsuperdamaiToleransi
Yuri Nasution

Yuri Nasution

Artikel Terkait

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen yang Nggak Perlu Ngomongin Toleransi MOJOK.CO

Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen Kok Nggak Ngomongin Toleransi

2 Februari 2026
Natal dan Harapan yang Tak Datang dari Keheningan

Natal dan Harapan yang Tak Datang dari Keheningan

25 Desember 2025
Cerita Kebiasaan Orang Jawa yang Bikin Kaget Calon Pendeta MOJOK.CO

Cerita Calon Pendeta yang Kaget Diminta Mendoakan Motor Baru: Antara Heran dan Berusaha Memahami Kebiasaan Orang Jawa

21 November 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

24 Agustus 2026
Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet.MOJOK.CO

Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet

25 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

24 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.