Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Harmoni Manado, Kota yang Diberkati Pelangi

Zulvina Narida Anom oleh Zulvina Narida Anom
17 November 2016
A A
Harmoni Manado, Kota yang Diberkati Pelangi

Harmoni Manado, Kota yang Diberkati Pelangi

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tragedi bom Samarinda sungguh menguras air mata saya sebagai seorang ibu dengan satu anak yang seumuran Intan Olivia. Membayangkan jadi mamanya, tak hanya sedih, bahkan rasanya ingin bertukar nyawa jika boleh. Ingatan saya pun melayang pada teman-teman sepermainan anak saya saat kami tinggal di Manado. Teman bermain yang mayoritas beragama Kristen, yang sering bermain di rumah saya lengkap dengan anjing peliharaannya menunggu di luar rumah. Tinggal di lingkungan dengan mayoritas beragama Kristen, otomatis teman bermain anak saya adalah anak-anak Sekolah Minggu atau Pondok Gembira. Saat bermain pun mereka kerap menyanyikan lagu-lagu anak Sekolah Minggu. Salah satu yang saya ingat seperti, “Hari ini harinya Yesus, mari kita bersuka ria….”

Khawatir anak saya hafal lagunya? Sedikit. Tapi, apalah arti kekhawatiran itu jika memang anak saya bergembira bersama mereka. Kegembiraan tanpa bahasa perbedaan. Yang ada hanyalah anak-anak yang asyik bermain sambil bernyanyi dan tertawa bersama.

Iklan

Dua tahun tinggal di Manado adalah kenangan paling menyenangkan. Orang Manado terkenal ramah dan bergaya hidup santai, tersenyum dan bertegur sapa saat saling bertemu walau tak saling kenal. “Selamat sore”, “selamat pagi”, “selamat siang” disertai senyuman kerap dilontarkan anak-anak maupun orang dewasa saat berpapasan jalan. Dan yang tak kalah penting, mereka selalu menomorsatukan penampilan. Maka, banyak jargon yang menggambarkan gaya hidup Orang Manado, seperti “Biar rumah so mo rubuh mar gaya tetap nomor satu” atau “Biar kalah nasi yang penting nyandak kalah aksi”.

Kebetulan saya tinggal di sebuah perumahan dengan empat rumah peribadatan yang berbeda. Gereja Masehi Injil di Minahasa (GMIM), Gereja Advent, Gereja Pantekosta, dan sebuah masjid. Kami terbiasa dengan riuhnya suara kegiatan ibadah dari masing-masing tempat ibadah tersebut. Bagi jemaat GMIM, hampir setiap sore ada pengumuman melalui TOA dari rumah seorang pendeta tentang ibadah malam hari di rumah salah seorang jemaat. Setiap Subuh bersamaan dengan azan salat Subuh dari masjid, terdengar pula ceramah pendeta Pantekosta melalui TOA. Adapun Gereja Advent tidak pernah saya mendengar pengumuman atau kegiatan ibadah melalui TOA. Harmoni kehidupan sehari-hari sungguh indah dan nyaris tanpa gangguan. Jika saya ceritakan semua kehidupan indah dalam perbedaan di Manado, buku diary saya bakal penuh.

Berbeda dengan ketiga gereja yang berdiri megah di beberapa sudut gagah perumahan, terdapat sebuah masjid yang letaknya nyempil. Masjid kecil setengah tembok, setengah tripleks dan beratap seng tanpa plafon. Terletak di tanah menjorok ke bawah di tepi sungai, di situlah lahan yang disediakan oleh developer perumahan untuk rumah ibadah umat islam. Secuil tanah di pinggir sungai itu pada awalnya dipermasalahkan. Warga perumahan berdalih tanah itu disediakan developer untuk lahan olahraga. Setelah melalui proses perjuangan panjang warga muslim di perumahan, akhirnya tanah tersebut sah mengantongi IMB sebagai bangunan masjid. Itu berkat kemenangan pasangan walikota non-muslim yang didukung umat muslim di perumahan, serta lobi takmir masjid tentunya.

Lepas dari itu, harmoni kehidupan tetap berjalan indah beriringan. Pada saat Natal, anak-anak muslim ikut merayakan dengan berpesiar (bertamu) ke rumah-rumah umat Kristen demi mendapat angpau, dan saat Lebaran Idul Fitri, anak-anak Kristen ganti berpesiar ke rumah-rumah umat muslim demi mendapat angpau. Orang dewasa saling berkunjung saat Natal dan Lebaran Idul Fitri. Hari raya agama adalah juga hari pesiar bersama. Saya yang muslim turut merasakan kegembiraan yang sama baik saat Natal maupun Idul Fitri.

Ada satu kisah yang tak pernah saya lupa tentang seorang anak Kristen di perumahan saya. Setiap sore saya mengajar ngaji di masjid. Bersama buah hati saya, kami berjalan menyusuri dua blok untuk sampai ke masjid. Hampir setiap rumah memelihara anjing hingga saya terbiasa menghadapi gonggongan maupun serangan anjing. Cukup ambil batu, anjing pun menyingkir.

Tapi, ada satu rumah di dekat masjid yang memelihara anjing yang belum jinak. Jika orang yang lewat di muka rumah itu tidak dikenalnya, anjing galak itu akan mengejar orang tersebut.

Saat kami melintas suatu sore, anjing galak itu sedang berada di muka rumah tuannya. Saya dan anak saya beringsut mundur hendak memutar jalan. Tapi, seorang anak Kristen sekira umur 7 tahun menyapa saya dan menawarkan untuk mengantar ke masjid agar tidak diganggu anjing. “Mari jo, jalan deng kita, nyandak apa-apa kwa,” katanya.

Saya pun berjalan dengannya melewati anjing galak tersebut dengan santai. Besoknya, lusa, dan seterusnya, anak yang saya tak sempat tahu namanya itu selalu menunggu saya di depan rumahnya dan sedia mengantar saya hingga ke masjid. Hingga kemudian anjing galak itu diikat rantai oleh majikannya karena mungkin banyak yang komplain.

Anak-anak selalu punya bahasa yang indah untuk menunjukkan kepeduliannya. Hanya orang dewasa yang kadang terlalu turut campur dalam mengatur perilakunya. Untuk tidak dekat dengan anak nakal yang itu, untuk menjauhi si anu, dan untuk bergaul dengan yang ini saja. Lalu beranjak dewasa mulai memaknai perbedaan adalah untuk dilenyapkan. Bukankah lebih baik jika anak dibiasakan menerima perbedaan sebagai bukti kuasa Tuhan.

Di Manado, saya menyaksikan rangkaian indahnya perbedaan sebagai pelangi kehidupan. Maka pemandangan sore anak berlarian pulang mengaji berbaur dengan anak Pondok Gembira adalah pemandangan indah yang sulit ditemukan di belahan dunia lain.

Mengingat kejadian yang menimpa Intan Olivia dan beberapa anak korban ledakan Samarinda lainnya, rasanya Tuhan ingin mengingatkan. Bahwa korbannya adalah anak yang tak berdosa itu mampukah menampar perasaan sesal para “pejuang pengkapling surga”. Intan Olivia telah pergi, gambarnya bersayap malaikat menghiasi foto profil di medsos. Sedang teman bermainnya yang kini masih berjuang melawan pedihnya luka bakar akan tetap menanggung luka sepanjang hidupnya. Semoga banyak keajaiban hidup yang akan dianugerahkan Tuhan kepada mereka.

Amin.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: Intan Olivia MarbunManadoToleransi
Zulvina Narida Anom

Zulvina Narida Anom

Artikel Terkait

Dari Pakistan, Menemukan Cinta di Universitas Sanata Dharma MOJOK.CO

Kisah Seorang Pengelana dari Pakistan yang Menemukan Indahnya Toleransi di Universitas Sanata Dharma

19 November 2025
Tugu Pagoda dan Kisah Membaurnya Etnis Tionghoa dan Jawa di Wates MOJOK.CO

Tugu Pagoda Wates dan Kisah Membaurnya Etnis Tionghoa dan Jawa di Kulon Progo

19 September 2023
kristen muhammadiyah mojok.co

Muncul Kristen Muhammadiyah di Daerah Terpencil, Apa Itu?

29 Mei 2023
200 Warga Padukuhan di Sleman Syawalan dan Paskahan Bersama. MOJOK.CO

200 Warga Padukuhan di Sleman Syawalan dan Paskahan Bersama

29 April 2023
singkawang mojok.co

Meneladani Singkawang, Kota Paling Toleran di Indonesia

14 April 2023
Ilustrasi daerah di Indonesia yang tidak toleran. MOJOK.CO

10 Kota Paling Tidak Toleran di Indonesia, Cilegon Nomor Pertama

14 April 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

25 Agustus 2026
Kenangan Honda Astrea Grand 1996 di Surabaya. MOJOK.CO

Astrea Grand 1996 Milik Bapak: Saksi Bisu Ketangguhan Orang Tua Saya, Kini Tetap Slay Menyibak Kemacetan Surabaya

27 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
budidaya kenari

Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

26 Agustus 2026
Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.