• 405
    Shares

MOJOK.COMarie Kondo, lewat medote KonMari, mengajarkan kita tentang hidup minimalis. Yang namanya ajaran, kenapa kamu serang sedemikian rupa? Ribet amat!

Apakah Marie Kondo itu kapitalis Jepang perampok duit pemalas? Ahh, itu pikiran cupet kamu saja, haters KonMari yang hidupnya begitu ribet. Apa-apa kok disambungkan, dihubung-hubungkan dengan sebuah “keharusan”.

Apa yang salah dengan sosok wanita, suka tersenyum, dan ramah kepada semua orang? Mungkin kamu terlalu sering berada di dalam rumah, tertindih barang-barang tidak berguna, tetapi begitu menikmatinya sampai-sampai nggak suka dengan orang yang menganjurkan kita untuk beberes kamar atau rumah.

Mungkin kamu jarang bertemu orang. Jadinya nggak butuh-butuh amat tersenyum untuk menunjukkan keramahan hati. Sampai-sampai, melihat wanita suka tersenyum saja menganggapnya sebagai creepy. Mungkin yang creepy itu hati dan hidupmu.

Tidying Up with Marie Kondo diserang banyak orang. Cara berpikirnya dianggap terlalu ribet ketika mempraktikkan metode yang berasal dari ajaran tradisonal Jepang, Shintoisme. Begini proses “KonMari”:

Sebelum beberes rumah, Marie Kondo mengajak pemilik rumah atau kamar untuk mengheningkan cipta. Marie mengajak pemilik rumah untuk membangun koneksi dengan rumah, sekaligus berterima kasih kepada rumah yang telah melindungi dari panas dan hujan. Apakah proses awal ini begitu ribet? Ya, tapi itu buat kamu.

Marie hanya mempraktikkan budaya Jepang, yang percaya bahwa jiwa itu ada di mana-mana. Kalau kamu anggap ini terlalu ribet, ya nggak usah dilakukan. Pusing bekerja? Ya nggak usah bekerja. Begitu saja repot sampai bikin tulisan ndakik-ndakik. Kalau kamu nggak mau mengheningkap cipta, ya langsung skip saja ke proses selanjutnya.

Nah, setelah mengheningkap cipta, pemilik rumah diminta mengumpulkan barang menjadi satu tumpukan besar. Barang yang akan disortir dibuatkan kategori. Pertama baju, lalu buku, kertas, komono (barang di dapur, kamar mandi, garasi, serta barang-barang pelengkap), lalu barang yang sentimentil atau mengandung memori.

Setelah sudah mengumpulkan barang-barang tersebut, sortir dimulai. Ketika sebuah baju memicu kebahagiaan saat dipegang, maka baju itu layak disimpan. Jika tidak, maka harus disingkirkan. Kamu bisa membuangnya atau menyumbangkan baju tersebut sebagai bentuk derma.

Nah, apa yang salah dengan anjuran ini? Ingat, KonMari itu sebatas anjuran, bukan tuntutan, apalagi kewajiban. Misalnya begini. Bukan karena konsumtif, tetapi karena tujuan “pertemanan”, saya suka membeli kaos produksi kawan sendiri. Misalnya produk fashion dari Mojok Store, atau toko online kawan sendiri.

Baca juga:  Memperjuangkan Impian Melanjutkan Studi ke Jepang

Jelas, kebahagiaan saya akan terpicu setelah barang itu sampai di rumah, apalagi ketika memegangnya. Membantu nglarisi dagangan teman itu, bagi saya, sebuah kebahagiaan. Maka, ketika kita mensortirnya dan semua baju “spark joy”, ya tinggal simpan saja. Atau kalau mau didermakan, justru semakin bagus. kebahagiaannya dobel.

Sederhana, bukan? Nggak perlu ribet sampai pusing memikirkan anjuran Marie Kondo. Toh itu barang kita sendiri. Pikir gampang saja, ndes.

Ada yang berpendapat bahwa di sini konflik berpotensi terjadi. Misalnya ketika setelah capek membereskan rumah seharian, terlalu dalam merenungkan kembali soal kepemilikan barang, sampai khawatir tidak bisa menata isi garasi atau dapur sesuai standar Marie Kondo. Bahkan ada yang khawatir tidak bisa melipat baju secara vertikal serta tersimpan dalam posisi serta urutan yang lebih keren di lemari.

Ribet banget, sih, hidup haters KonMari. Pertama-tama, orang capek lebih mudah marah itu manusiawi. Kalau sudah meniatkan hati untuk beberes rumah, pastinya ia paham akan capek. Gampang, kan? Kayak gitu kok harus dipermasalahkan. Mereka menangis dan marahan kan ya hidup mereka. Ngapain kamu yang perlu khawatir dan ikut-ikutan resah karena banyak yang ikut KonMari?

Kamu, haters Marie Kondo, resah karena banyak yang terobsesi dengan cara melipat baju secara vertikal? Ribet amat! Lha wong kami, yang suka dengan Marie Kondo, kalau tidak bisa melipat secara vertikal ya sudah. Ini kan anjuran, bukan seperti kewajiban bayar SPP kuliah. Intinya itu biar rumah lebih tertata rapi. Pun, kalau tidak bisa menjadi minimalis, ya kami nggak pernah memaksa diri. Kami tahu batasan diri dan ketebalan dompet, kok.

Ada yang menulis kalau KonMari ini penuh jebakan. Metode itu dituduh mempromosikan gaya hidup anti-konsumerisme yang menjunjung filosofi minimalisme. Filosofi ini, ketika dihitung kembali, tetap saja bakal menguras kantong.

Lalu, KonMari semakin dianggap negatif ketika Marie Kondo jualan barang-barang pendukung metode. Mulai dari boks kecil dan pernak-pernik lainnya. Harga barang-barang ini dipatok $89 atau sekitar Rp1,26 juta per set, alias lebih mahal dari harga normal.

Baca juga:  Prediksi Jepang vs Polandia: Nippon Cahaya Asia?

Padahal, di bukunya, Marie Kondo menganjurkan pemilik rumah untuk menggunakan barang pendukung seadanya. Ia kemudian berdalih bahwa barang pendukung di Amerika Serikat tidak standar Jepang, sehingga ia menjual yang berstandar Jepang. Secara tersirat: yang lebih cocok untuk program KonMari.

Gini, lho. Pertama, kami juga paham kok kalau filosofi minimalisme itu sebetulnya nggak murah. Namun, kami ini juga paham dengan kedalaman kantong dan ketebalan dompet sendiri. Apa ya Marie Kondo itu ahli hipnotis yang bisa bikin kita beli barang produksinya yang mahal itu?

Kedua, kalau barang produksi penunjang KonMari itu mahal, ya jangan dibeli! Marie Kondo menganjurkan pakai barang seadanya. Ya sudah, pakai yang ada di rumahmu.

Misalnya kotak kardus bekas Indomie, kamu warnai lagi dengan cap semprot berbagai warna biar lebih enak dipandang mata. Atau bisa kamu lukis dengan berbagai motif. Kalau nggak kreatif, jatuhnya cuma bisa mencibir. Dikiranya manusia tidak itu tidak bisa menentukan skala prioritasnya sendiri?

Atau mungkin masalahnya ada pada haters KonMari sendiri. Mereka nggak paham dengan ketajaman mata melihat ceruk bisnis. Atau mungkin karena kalian ini sebetulnya cuma miskin saja. Jadi iri dan panas hati melihat seseorang keluar banyak duit sebagai bentuk usaha hidup minimalis.

Kalau masalah sudah ini, mending jangan habiskan waktu kalian dengan menjadi haters konsultan beberes rumah. Mending kalian kerja! Ini sudah 2019, jenis pekerjaan sudah semakin beragam seiring perkembangan dunia digital. Marie Kondo sukses membungkus metode tradisional Jepang dengan kemajuan teknologi. Kamu yang enggak kreatif dan miskin inovasi hanya bisa mencibir.

Program Tidying Up with Marie Kondo itu bukan sesi ceramah agama yang patut kamu turuti kata per kata. Kamu dan kita punya batasan masing-masing, punya kehendak bebas masing-masing. Kalau ada yang dirasa tidak cocok, ya jangan dituruti. Kalau ada yang cocok, ya diterapkan.

Sangat sederhana, bukan? Hidup kalian saja yang terlalu ribet. Mungkin isi hatimu itu yang perlu di-Marie Kondo-kan.