MOJOK.COOspek yang mempermalukan maba dan ala ala militer itu udah nggak zaman lagi. Ospek yang menyenangkan itu bukan mitos. Ini contohnya.

Ayo jujur saja diakui, kalau ospek (orientasi studi dan pengenalan kampus) itu nyebelin. Ribet betul. Pagi-pagi buta sudah harus sampai kampus. Pakai kemeja putih dan celana kain warna hitam. Pakai name tag dan topi ala ala. Ada yang sampai harus pakai caping. Coba bawa cangkul sekalian.

Yang lebih nyebelin lagi ketika ukuran name tag nggak boleh salah. Masih mending kalau maba dikasih tahu ukuran panjang dan lebar secara langsung. Ada sebuah kampus negeri di Jogja yang ukuran name tag harus dicari sendiri sama maba. Info panjang dan lebar name tag pakai rumus-rumus fisika. MAMAM!

Masih ada yang lebih nyebelin? Ya jelas ada. Ospek yang nggak manusiawi, yang merendahkan harkat manusia itu nggak cuma menyebalkan, tetapi perlu diberantas.

Beberapa hari yang lalu, nama Universitas Khairun di Ternate, Maluku Utara, jadi perbincangan. Sebabnya, ada maba yang disuruh merangkak melewati selangkangan seniornya lalu ramai-ramai minum air bercampur ludah. Ini sih bukan ospek, tetapi penyiksaan.

Ospek tidak manusiawi itu jadi perdebatan. Ada yang mencoba membela dengan narasi “Yang kayak gini sih masih enteng, dulu zaman gue lebih berat” atau “…yang digempur kan bukan fisik, tapi ngebentuk mental…” Saya sering bingung, kenapa sih ospek itu kudu menyiksa lahir dan batin maba? Ala ala militerisme itu udah ketinggalan zaman dan nggak pantas dilakukan.

Mental apa yang ingin dibentuk dari kegiatan mempermalukan orang dan merendahkan harkat maba? Mental pembalas dan pendendam? Mental pembenci kampus sendiri? Apakah ada ospek yang lebih menyenangkan? Saya yakin sudah banyak kampus yang punya model ospek menyenangkan. Saya beruntung bisa merasakan salah satunya.

Ini bukan promosi kampus ya. Dulu, saya kuliah di Sanata Dharma. Kami punya yang namanya Insadha atau Inisiasi Sanata Dharma selama tiga hari.

Hari pertama masih normal kayak ospek di tempat lainnya yang pakai kemeja putih lengan panjang dan celana kain warna hitam. Tapi, di hari kedua dan ketiga, kami bebas mau pakai apa, yang penting rapi dan sopan.

Insadha itu ngapain aja? Karena Sanata Dharma punya beberapa kampus, kami menjalani ospek di dua kampus, yaitu yang di Mrican dan Paingan. Isinya? Ya namanya saja ospek alias orientasi studi dan pengenalan kampus, jadi isinya ya “pengenalan kampus”. Kami diajari mendaftar jadi anggota perpus, cara meminjam buku, dan mengenal workstation, tempat kami bisa pakai komputer perpus untuk nugas atau bikin skripsi kelak.

Ini bagian dari ospek yang menyenangkan. Terutama karena beberapa dosen di Sastra Indonesia suka ngasih judul buku untuk dipelajari. Kami tinggal ke perpus untuk mencari. Makanya, Insadha itu memudahkan mahasiswa yang mau nugas karena sudah kenal perpus sejak dini. Cari buku di basement yang dingin betul, lalu ngetik di workstation.

Orientasi Insadha betul-betul mengenalkan kampus, bukan jalan jongkok pakai topi kerucut di tengah lapangan di bawah terik matahari. Kami dibagi-bagi lagi dalam kelompok kecil untuk mengerjakan beberapa tugas dan diskusi. Nggak ada hukuman jalan jongkok melewati selangkangan senior ketiga nggak jadi yang terbaik ketika garap tugas itu atau kudu minum air campur ludah.

Insadha juga punya ciri khas, namanya “Salam Insadha”. Saya sudah nggak ingat lagi “Salam Insadha” Angkatan 2005. Yang saya ingat, setiap kali Seksen (Seksi Kesenian–dulu sih bentuknya band) bawain “Salam Insadha”, di bagian reff, kami yang baris paling belakang malah moshing. Habis musiknya lumayan asyik buat moshing. WQWQWQ…

Di puncak ospek atau hari ketiga, isinya senang-senang. Malam harinya, di lapangan Realino atau Santiago Berdebu yang kini sudah ditanami rumput campuran sintetis, ada panggung buat semacam konser malam inisiasi. Selain Seksen, dulu yang main juga ada grup-grup musik kampus. Rasanya udah bukan ospek, tapi konser.

Well, intinya adalah, ospek yang menyenangkan itu bukan mitos. Saya rasa, inisiasi yang manusiawi akan lebih berkesan buat maba. Mental mereka juga terbentuk. Mental untuk studi dan belajar hidup di tengah orang banyak tanpa ada rasa menyesal pernah ikut ospek.

Cinta nggak pernah lahir dari bentakan, hukuman, dan paksaan. Cinta lahir dari perhatian dan penghargaan akan keberadaan orang lain.

Mau punya mental tangguh pun bisa dibentuk dari rasa sayang kepada kampus, bukan hanya dari bentakan dan hukuman. Nggak semua maba itu cocok dengan ospek ala militerisme. Ada yang bisa lebih sayang dengan ospek yang menyenangkan.

BACA JUGA Tentang Ospek yang Sebenarnya Nggak Bikin Hidupmu Ambyar atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles