MOJOK.COSaya menyarankan Pak Mario Teguh buat ngobrol dulu sama Pak Prabowo perihal kaum rebahan. Siapa tahu Golden Ways bisa berubah jadi Diamond Ways. ITU!

Jujur saja, terakhir kali saya mendengar nama Mario Teguh itu kira-kira lima tahun yang lalu. Saya nggak tahu apakah waktu itu belau masih rajin wara-wiri di Metro TV atau sudah “pensiun”. Ternyata, Pak Golden Ways masih aktif di Twitter. Sudah centang biru, followers beliau bahkan menyentuh 9 juta orang. Kok saya nggak pernah dengar ya?

Setelah saya telusuri secara mendalam, ya kira-kira tiga kali scroll, ternyata Pak Mario Teguh mainan Twitter dengan cara lama. Caranya berkomunikasi masih seperti penyebar kutipan lama yang RT-nya bukan diklik, tetapi benar-benar ditulis “RT” di belakang kicauan yang diunggah. If you know what I mean….

Bapak lagi ngelucu?

Nah, sebagai influencer lawas dengan followers begitu banyak, maklum kalau beliau ingin rebranding. Salah satunya dengan ikut membahas narasi-narasi anak muda. Salah satunya yang disebut sebagai “kaum rebahan”.

Sayang betul, caranya berkomunikasi seperti cah lawas yang memandang kaum rebahan sebagai gerombolan orang-orang tidak produktif. Kamu tahu, kaum rebahan itu identik dengan milenial dan Gen Z.

Riset yang dilakukan oleh Ipsos MORI Social Research Institute menunjukkan bahwa perbedaan usia pada tiap generasi menimbulkan persepsi yang kontras. Bobby Duffy, Managing Director dari lembaga riset tersebut menyatakan, “Generasi muda selalu menjadi target ejekan dari generasi yang lebih tua.”

Baca juga:  Prabowo Telanjang Dada, Kapan Giliran Jokowi dan Fadli Zon?

Padahal, Pak Mario Teguh, setiap generasi memiliki karakteristik, kebiasaan, dan pola pikir berbeda. Milenial dibesarkan oleh kemajuan teknologi. Oleh sebab itu, milenial yang Bapak sebut kamu rebahan itu juga memiliki pola pikir yang berbeda dengan generasi Pak Mario Teguh.

Lahir dan dibesarkan pada saat gejolak ekonomi, politik, dan, sosial melanda Indonesia membuat para milenial tumbuh sebagai generasi open minded, kritis, menjunjung tinggi kebebasan, dan berani (BPS, 2018).

Sebagai subkultur, milenial memiliki identitas kolektif yang berbeda dari budaya Pak Mario Teguh. Identitas kolektif tersebut berguna untuk menepis stereotip negatif yang diberikan kepada milenial akibat munculnya istilah kaum rebahan.

Sudah banyak riset yang membantah stereotip pemalas, kok. Aktivitas berbaring bagi milenial dan Gen Z bukan hambatan untuk tetap produktif. Jadi, mau sambil berbaring, sembari lari di treadmill, bahkan sambil boker, milenial dan Gen Z bisa belajar, berbelanja, bersosialisasi, bahkan bekerja.

Jangan salah, kaum rebahan ini juga produktif, bahkan membuka lapangan pekerjaan secara online. Berdasarkan riset IDN Research Institute pada 2019, 7 dari 10 milenial mempunyai jiwa entrepreneurship yang tinggi. Bapak Jalan Emas malah bilang kalau kaum rebahan itu tidak peduli sukses. Udah nggak hype, Pak, yang kayak gitu. Niatnya menasehati, jatuhnya menggurui, bahkan menghakimi.

Dear Pak Mario Teguh, kamu rebahan itu–ini menurut saya ya–juga bisa diartikan sebagai orang-orang yang santai memandang kesulitan. Bukan literally lagi rebahan di kasur dan doing nothing. Mereka bisa merespons kesulitan dengan tenang. Nggak terseret arus atau dorongan publik. Misalnya, Bapak bisa ngobrol sama Pak Prabowo, deh.

Baca juga:  Gatot Nurmantyo yang Kini Jadi Rebutan

Ketika Cina masuk ke Natuna, bukannya gebrak-gebrak meja kayak lagi kampanye dulu, Pak Prabowo malah bilang “santai” aja ngadepin Cina. Dulu, sih, marah-marah ketika sumber daya alam dikeruk asing, sekarang santuy aja. Pak Mario Teguh tau istilah “santuy”?

Banyak yang marah sama pernyataan Pak Prabowo yang santai banget hadepin Cina. Dianggap penakut atau menjilat ludah sendiri. Pada nggak tahu aja, Pak Prabowo pasti lagi susun strategi. Di depan mah terlihat santi, di belakang, siapa tahu beliau gebrak-gebrak meja sambil bilang: “Saya mau yang enak!” kayak iklan Mi-Won zaman lawas kayak Pak Mario Teguh.

Cina itu kawan, kata Pak Prabowo. Ini jelas bentuk kepercayaan diri, bentuk keyakinan kalau beliau bisa mengubah lawan menjadi kawan. Bukankah kitab-kitab kuno zaman megalitikum mengajarkan hal itu. Di depan terlihat santai, di belakang main Warcraft sebagai pemanasan perang. Ini lho, Pak Mario Teguh, yang juga dinamakan kaum rebahan.

Saya menyarankan Pak Mario Teguh buat ngobrol dulu sama Pak Prabowo perihal kaum rebahan. Maksud saya itu, kalian kan satu frekuensi, eh maaf, generasi. Pak Prabowo saja meresapi makna kaum rebahan meskipun beliau seorang boomers. Saya yakin Pak Mario Teguh bisa sadar kalau kaum rebahan juga generasi kreatif dan optimis.

ITU!

BACA JUGA Hidup Memang Tak Semudah ‘Cocote’ Mario Teguh atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.