Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Hidup Memang Tak Semudah ‘Cocote’ Mario Teguh

Agus Nonot Supriyanto oleh Agus Nonot Supriyanto
9 September 2016
A A
Hidup Memang Tak Semudah Cocote Mario Teguh

Hidup Memang Tak Semudah Cocote Mario Teguh

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa waktu lalu, ada seseorang yang saya lupa siapa, berbagi sebuah foto di media sosial. Foto itu cukup populer di ranah online dan sering dijadikan materi perang gambar di berbagai forum online di Facebook. Foto yang saya maksud adalah foto seorang perempuan cantik, tampak belakang (tampak belakang kok bisa tahu kalau cantik? Iyalah, dari body-nya yang semledot sudah kelihatan. Selain itu, faktor feeling, dan feeling lelaki soal wanita biasanya pantang salah), memakai kaus putih bertuliskan “Hidup Tak Semudah ‘Cocote’ Mario Teguh”.

Bagi saya yang asli Jawa, kata ‘cocote’ terasa sangat-sangat kasar, apalagi bila disandingkan dengan nama Mario Teguh, sosok yang selalu menebar nasihat-nasihat indah kunci sukses kehidupan.

Iklan

Setega itukah orang membuat desain kaus yang mencibir orang seperti Mario Teguh?

Waktu itu saya masih suka melihat Mario Teguh menyampaikan “Salam Super” di salah satu TV swasta. Itu jauh sebelum TV swasta penuh dengan berita Ahok, Jessica, atau pernikahan artis entah siapa yang saya sangat tidak peduli dengan beritanya.

Kata-kata Mario Teguh sungguh penuh makna. Sering membuat saya ternganga karena pintu sukses berkehidupan seolah-olah baru saja terbuka lebar di depan mata saya. Seperti seolah terjaga dari mimpi buruk kehidupan dan terbangun melihat matahari pagi bersinar cerah.

Maka, segeralah tertanam di kepala saya bahwa orang ini sungguh luar biasa. Dan wajar jika kemudian saya agak kesal terhadap pembuat tulisan di kaus itu (pembuat tulisannya, bukan pemakai kausnya).

Para motivator, tidak hanya Mario Teguh, tentu adalah orang-orang yang penuh hikmah. Pastilah sangat banyak pengalaman hidup yang sudah mereka jalani sehingga kemudian mampu mengambil hikmah pelajarannya, menyarikannya dalam rumus kehidupan, dan kemudian menyebarkan rumus-rumus tersebut ke semua orang agar orang lain mampu menjalani hidup dengan lebih baik, lebih sukses, lebih bahagia. Sungguh sangat mulia.

Namun benarkah demikian? Sekali lagi tulisan di kaus itu terasa menggelitik saya. Dalam salah satu episodenya, Mario Tegus pernah berkata di depan para pengikutnya:

“Anda pilih mana? Salah tapi cepat atau benar tapi lambat?”

Saya yang menyaksikannya di layar TV di rumah pun ikut berpikir. Dan sebelum menemukan jawabannya, Mario Teguh sudah bersabda lagi:

“Pilihlah yang salah tapi cepat. Karena cepat, walaupun salah, setidaknya Anda punya waktu yang cepat juga untuk melakukan koreksi. Salam super.”

“Wah benar sekali,” batin saya. Maka sabda itu saya pegang dan saya terapkan di pekerjaan kantor saya. Hasilnya? Saya dimarahi habis-habisan oleh atasan saya.

“Kerja itu yang bener. Kalau masih salah ya jangan diberikan ke saya. Menyesatkan itu namanya,” teriak atasan saya.

Modiarrr….

Iklan

Maka tulisan di kaus itu terasa pas benar sekarang. “Hidup Tak Semudah ‘Cocote’ Mario Teguh”. Apa yang disampaikan Mario Teguh adalah konsep penyederhanaan masalah. Ada kalanya benar bahwa masalah harus disederhanakan agar kita bisa lebih jelas melihat akar permasalahan dan mencari solusinya dengan tepat.

Namun, apabila semua masalah diselesaikan dengan rumus yang sama, apa bedanya dengan tukang obat di pasar yang menjual minyak tangkur buaya dan bilang kalau semua penyakit, dari panu sampai gagal ginjal, dari jerawat sampai cuci darah, bisa diobati dengan minyak tangkur buaya? Preeettt.

Bedanya hanya soal tarif. Penjual obat menjual obatnya seharga Rp10.000 per botol, sedangkan motivator bisa diundang dengan harga Rp100.000.000 per jam.

Mengenai tarif ini juga menggelitik saya. Jika seseorang yang meresepkan rumus-rumus sederhana (atau menyederhanakan) dalam menghadapi persoalan hidup, diambil dari pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain, kenapa dijual dengan harga yang fantastis? Ataukah itu harga yang suka rela kita bayar hanya karena kita malas mengambil hikmah dari pengalaman kita sendiri maupun pengalaman orang-orang di sekitar kita?

Apakah setelah membayar sekian juta dan menerapkan rumus-rumus kehidupan tersebut hidup kita otomatis berubah menjadi lebih baik?

Entahlah. Kalau Anda yang membaca tulisan ini ingin mendapat rumus jitu menghadapi kehidupan, silakan datang ke rumah saya. Saya akan bagikan semua rumus kehidupan saya. Gratis, dan bahkan bakal saya suguhi kopi dan tempe kemul. Apakah lantas bisa diterapkan di kehidupan Anda? Yo mbuh.

Itulah enaknya jadi motivator. Ia bisa bekerja tanpa ada protap ataupun silabus tertentu. Ia bisa selalu berapi-api dengan minim tanggung jawab. Itu pula yang membedakan seorang motivator dengan dokter.

Motivator memberi resep dengan harga selangit tanpa ada kode etik per-motivator-an, tanpa ada risiko malpraktek, tanpa ada garansi uang kembali. Artinya jika terjadi seperti yang saya alami: saya dimarahi atasan karena menerapkan sabda motivator, maka saya tidak bisa protes atau menuntut. Silakan telan sendiri risikonya. Penak to? Yo pueeeeenaaaaak.

Ahhhh… tiba-tiba saya kok pengin jadi motivator ya. Dan, nama ‘Mario Nonot’ kelihatannya juga nggak jelek-jelek amat.

Terakhir diperbarui pada 4 Maret 2021 oleh

Tags: Mario Teguhmotivator
Agus Nonot Supriyanto

Agus Nonot Supriyanto

Fotografer yang suka menulis. Sering berbagi hasil motret di @mynonot

Artikel Terkait

Hidup Tak Semudah ‘Cocote’ Deddy Corbuzier
Esai

Hidup Tak Semudah ‘Cocote’ Deddy Corbuzier

2 Agustus 2021
Coach Bisnis kok Curigaan Karyawan Izin Sakit Dibilang Mau Sabotase, Coach-nya yang Kena Mental? MOJOK.CO
Pojokan

Coach Bisnis kok Curigaan Karyawan Izin Sakit Dibilang Mau Sabotase, Coach-nya yang Kena Mental?

31 Mei 2021
tetangga
Esai

Peran Ibu Kos sebagai Tonggak Lahirnya Identitas Bangsa

15 April 2020
Mario Teguh Prabowo kaum rebahan MOJOK.CO
Pojokan

Mario Teguh Kalau Nggak Tahu Kaum Rebahan Mending Ngobrol Dulu Sama Prabowo

6 Januari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha Terbaik Idola Orang Jambi MOJOK.CO

Setelah Melakukan Pengamatan, Saya Menemukan Fakta Bahwa Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha yang Menemukan Habitat Alaminya di Jambi

25 Juni 2026
gagal jastip saat war tiket konser BTS. MOJOK.CO

Pertama Kali War Tiket Konser BTS: Trust Issue Pakai Jastip karena Selalu Gagal, Justru Hoki Berkat Teman yang FOMO

23 Juni 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO

Punya WiFi di Rumah Desa Bikin Bocil Tetangga Jadi Kurang Ajar dan Hilang Adab, Saya yang Bayar Tagihan Cuma Dapat Emosinya

25 Juni 2026
Mahasiswa Unair kuliah di Polandia, Eropa dengan beasiswa pertukaran pelajar dari Erasmus. MOJOK.CO

Jalan-jalan ke 6 Negara di Eropa dengan Beasiswa Erasmus, Mahasiswa Unair Ini Dapat Pembelajaran Berharga dari Sekadar Belajar Musik

24 Juni 2026
Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

24 Juni 2026
Kisah pengusahaan binaan program UMiMAX dari Pertamina. MOJOK.CO

Kisah Para Ibu Jual Kopi Keliling usai Suami Kena PHK, Relakan “Cincin Terakhir” agar Anak Bisa Sekolah

26 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.