Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Coach Bisnis kok Curigaan Karyawan Izin Sakit Dibilang Mau Sabotase, Coach-nya yang Kena Mental?

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
31 Mei 2021
A A
Coach Bisnis kok Curigaan Karyawan Izin Sakit Dibilang Mau Sabotase, Coach-nya yang Kena Mental? MOJOK.CO

Coach Bisnis kok Curigaan Karyawan Izin Sakit Dibilang Mau Sabotase, Coach-nya yang Kena Mental? MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kata seorang coach, banyak izin sakit itu usaha sabotase kepada bisnis Anda. Sungguh opini yang keruh, Bapak. Serem banget, sih.

Setelah saya baca-baca, ternyata istilah motivator dan coach itu beda makna. Kalau motivator itu menggunakan pengalaman sebagai “alat kerja” untuk mencari solusi dan memberi nasihat. Coba kasih hal dari luar ke dalam. Kalau coach itu “bertanya”, menggali apa yang ada di dalam lalu keluar.

Iklan

Ribet ya bedanya? Iya, nggak tahu kenapa, terkadang ada gitu motivator atau coach yang belibet nyusun kalimat. Sukanya pakai kalimat bersayap, peserta disuruh mikir sendiri. Padahal kemampuan menjelaskan sesuatu dengan sederhana itu lebih penting ketimbang kata-kata mutiara yang ndakik-ndakik fafifuwasweswos.

Oya, perbedaan di atas itu diungkapkan oleh Lyra Puspa, pendiri Vanaya Institute, lembaga coaching di Indonesia. Jadi, perbedaan yang agak belibet itu bukan dari saya. Jangan salah.

Tapi, kalau diizikan sedikit memberi tafsir, seorang coach itu menggali kekuatan atau potensi dalam diri manusia. Kalau di dalam ekosistem perusahaan, mungkin bisa merujuk ke pernyataan kolosal yang bunyinya: “Jangan tanyakan apa yang sudah negara berikan untukmu, tetapi tanyakanlah sumbangsih apa yang telah kamu berikan pada negara.” Silakan ganti kata “negara” dengan “perusahaan”. Intinya sama saja.

Seorang coach, bisa jadi disewa untuk meningkatkan produktivitas karyawan. Misalnya dengan memperkuat rasa cinta kepada perusahaan. Sama persis kayak yang nama “nasionalisme” itu. Beda-beda tipis aja. Namun, rasa-rasanya kok aneh kalau ada coach yang sukanya “ngelamun jorok”, curigaan ke karyawan, terutama yang lagi izin nggak masuk kerja karena sakit dan dianggap mau sabotase kantornya sendiri.

“Saya tahu mungkin ada orang yang memang dikit-dikit sakit. Yang flu dikit-dikit batuk. Dikit-dikit panas. Dikit-dikit dan seterusnya,” kata seorang coach yang namanya cukup termasyhur.

Dikit-dikit sakit, dikit-dikit sakit. Panas kok dikit-dikit. Ah, maaf, saya nggak bisa menahan diri untuk nggak nulis jokes lawasan itu. Maaf.

Yang seru adalah ketika beliau mempertanyakan izin sakit yang diajukan anak buah.

“Pertanyaan saya nomer 1 adalah bisa bangun nggak? Bisa.”

Bisa jalan nggak? Bisa.

Bisa makan nggak? Bisa.

Bisa naik motor? Bisa.

Berarti bisa ke kantor.

Nah, kebanyakan orang yang izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, kebanyakan nggak benar-benar sakit. Mereka hanya ingin MENSABOTASE BISNIS ANDA.”

Hehe… hebat, ya. Coach yang sudah setara cenayang. Bisa tahu tanpa melihat. Atau, memang pada dasarnya cuma curigaan aja. Saya nggak tahu kok ada coach yang anggap izin sakit dianggap mau sabotase bisnis orang. Jangan-jangan, beliau punya trust issue sama anak buah yang izin sakit.

Satu hal lagi yang saya heran adalah izin sakit dan cuti kan memang hak karyawan. Bahkan diatur oleh Undang-Undang. Bisa jadi si karyawan memang punya kondisi tubuh di mana dirinya gampang masuk angin kalau kelamaan kena AC atau mendekati tanggal tua. Bisa jadi si karyawan salah makan terus kena diare.

Iya, kena diare.

Iklan

Kalau diare itu bisa jalan nggak? Bisa. Jalan ke toilet buat melepas sekumpulan tahi yang encer.

Bisa makan nggak? Bisa. Makan makanan yang dipercaya bisa menyembuhkan diare atau mungkin makan obat.

Bisa naik motor? Bisa. Paling entar cuma nabrak tiang listrik aja. Paling banter ya patah tangan sama kaki. Santai, ada BPJS.

Berarti bisa ke kantor. Bisa. Nggak kerja, tapi sibuk boker buat melepas sekumpulan tahi yang encer.

Niatnya mau tetap bekerja, tapi malah nggak produktif. Akhirnya? Karyawan jadi merasa tidak dibahagiakan oleh kantor. Akhirnya? Lahir isu kepercayaan antara kantor dan para karyawan. Kalau kayak gitu, siapa yang sebetulnya lagi sabotase siapa?

Lama-kelamaan, ada karyawan yang malas ke bekerja dan memilih mengambil jatah cuti cuma buat tiduran nonton Netflix. Ada juga yang malah push rank, atau izin cuti karena ada keluarga sakit, padahal work from Bali seperti usulan Pak Luhut tempo hari.

Kalau anak buah mulai nggak percaya dengan kantor, merasa tidak dijamin hak-haknya, produktivitas pasti turun. Kantor, yang nge-hire coach, malah disabotase sendiri sama coach yang curigaan. Jangan-jangan malah coach ini yang perlu ketemu sama motivator karena kena mental.

Yah, memang ada karyawan yang pada dasarnya malas. Namun, kita tahu, sungguh tiada bijak menyebut semua izin sakit sebagai sabotase. Lagian sabotase kok cuma banyak izin kerja. Bocorin data rahasia milik perusahaan ke kompetitor tuh lagi namanya sabotase.

Pemikiran yang keruh begitu nggak membantu produktivitas dan kelanggengan sebuah perusahaan. Kalau ada karyawan yang memang jahil suka izin sakit padahal sehat, ya tinggal kasih SP atau pecat. Bayar kompensasi lalu cari karyawan baru. Itu profesional. Nggak perlu bawa-bawa curigaan, deh, kayak lagi pacaran aja.

BACA JUGA Hak Cuti Haid dan Cuti Melahirkan Itu Merugikan Pengusaha Nggak Sih? dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Terakhir diperbarui pada 31 Mei 2021 oleh

Tags: coachhak cutihak karyawanizin sakitmotivatorsabotase
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

cuti haid dan melahirkan

Pentingnya Cuti Haid dan Melahirkan dalam Dimensi Keselamatan Kerja

18 Januari 2023
kepala suku

Setiap Orang Punya Batasnya Masing-Masing

31 Agustus 2018
Membela Mario Teguh

Membela Mario Teguh

11 September 2016
Hidup Memang Tak Semudah Cocote Mario Teguh

Hidup Memang Tak Semudah ‘Cocote’ Mario Teguh

9 September 2016
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
Minus punya rumah di sekitar Jalan Tunjungan, Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Jujur Janggal, Saat Orang Lain Bilang Punya Rumah di Pusat Kota Surabaya Itu Menguntungkan

19 Agustus 2026
14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

25 Agustus 2026
Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet.MOJOK.CO

Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet

25 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.