MOJOK.CO –Setelah Sunda Empire dan Keraton Agung Sejagat, muncul King of The King. Kerajaan-kerajaan absurd sebagai cara panjat sosial paling mutakhir.

Setelah melewati proses kreatif dan diskusi panjang di Mojok Institute, kami sampai ke sebuah kesimpulan awal. Kami sudah melewati debat panjang tentang latar belakang kemunculan kerajaan-kerajaan absurd akhir-akhir ini.

Mulai dari Keraton Agung Sejagat, disusul Sunda Empire. Kini, menyusul muncul Kerajaan King of The King dan Kerajaan Warteg Bahagia.

membaca fenomena King of The King dan Kerajaan Warteg Bahagia, kami menyimpulkan bahwa kerajaan-kerajaan itu muncul sebagai sebuah usaha untuk panjat sosial atau pansos.

Seperti kamu ketahui, orang-orang di balik kerajaan absurd biasanya berasal dari generasi baby boomers. Generasi yang sudah puas dengan jokes receh seperti:

“Gajah apa yang baik hati?”

“Gajah sirkus?”

“Salah, yang benar itu gajahat”

HHHHHHHHHHHHHH…ya begitulah asal mula kemunculan kerajaan absurd seperti King of The King dan Kerajaan Warteg Bahagia. Usaha untuk menjadi lebih dikenal, punya banyak followers, menjadi semacam panutan, dimulai dari kegagalan memahami perkembangan zaman. Usaha panjat sosial dimulai dari kesadaran kalau mereka sudah tidak kompatibel dengan jokes abad 21.

Bagaiman cara kami mengambil kesimpulan atas fenomena zaman ini? Langkah pertama yang kami lakukan adalah menjadikan Keraton Agung Sejagat dan King of The King sebagai sampel penelitian.

Kami menyelidiki latar belakang dari Pak Totok Santoso, Sinuhun Keraton Agung Sejagat. Metode yang kami pakai adalah studi pustaka dengan satu sumber yang sangat valid: Tribun! Metode kedua yang kami gunakan adalah menyebar kuesioner kedua orang, yaitu saya dan Pemred Mojok, Prima Sulistya yang sempat tertarik menjadi ajudan Pak Totok Santoso karena keberhasilan Pak Totok beternak lele (bisa kamu cek ke Instagram beliau).

Nah, dari dua metode itu, kami menemukan sebuah missing link yang kami yakin kamu sudah tahu, antara Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire. Jadi, Pak Totok Santoso, adalah mantan anggota dari Sunda Empire. Entah karena tidak puas dengan sistem monarki absolut dari Sunda Empire atau entah karena masalah suksesi kerajaan, Pak Totok memisahkan diri.

Baca juga:  Tujuan Tersembunyi Keraton Agung Sejagat, Penerus Kerajaan Majapahit

Kami masih meyakini kalai Pak Totok adalah ahli waris kerajaan Sunda Empire. Namun, karena sebuah intrik keluarga kerajaan yang masih belum terbuka, Pak Totok coba ditendang. Demi sebuah pengakuan, tebersit sebuah ide cemerlang di kapala Pak Totok, yaitu mendirikan Keraton Agung Sejagat di Padang Karautan. Eh, maaf, di Purworejo.

Inilah langkah awal mencari pengakuan dari rakyat sekitar. Tentu saja, sebuah kerajaan baru bisa dibilang kerajaan kalau punya rakyat. Ya paling nggak punya 15 orang yang berhasil dikibuli. Sebuah langkah awal dari panjat sosial menuju zaman keemasan menjelang kiamat nanti.

Lalu, setelah disusun perangkat kerajaan, termasuk permasyuri dan patih, Pak Totok memakai cara lama untuk panjat sosial kerajaan absurd. Cara yang saya maksud adalah iming-iming uang atau imbalan dalam jumlah banyak. Sebuah kerajaan tentu membayar pekatik dan patih sesuai UMR. Tinggi lagi. Memangnya Jogja yang…hehehe….

Cara panjat sosial dengan iming-iming ini sudah sangat klasik. Keraton Agung Sejagat sukses menarik minat 15 orang untuk menjadi rakyat. Cara yang sama juga dilakukan oleh King of The King, sebuah kerajaan absurd lainnya yang muncul di Banten.

King of The King dipimpin oleh seorang Bapak bernama Juanda. Dia juga rangkap jabatan sebagai ketua IMD atau Indonesia Mercusuar Dunia. Kayak nama UMKM spesialis krupuk udang saja. Memang, Kerajaan King of The King di Banten ini kurang kreatif bikin nama. Namun, saya yakin mereka sadar dengan kekurangan itu. Makanya, mereka menjual “kampanye uang” secara hiperbolis.

King of The King mengklaim diri menguasai Rp60.000 triliun yang tersimpan di Bank Swiss. Duit selalu menjadi atribut panjat sosial yang ampuh. Memangnya cuma cuddling aja yang sekarang berbayar. Mahal lagi.

Baca juga:  Peran Ibu Kos sebagai Tonggak Lahirnya Identitas Bangsa

Raja King of the King yang mesra dipanggil Master Dony Pedro itu akan memanfaatkan Rp60.000 triliun untuk melunasi utang luar negeri Indonesia, menjatah setiap rakyat dengan uang senilai Rp3 miliar, dan beli alutsista. Menariknya, Master Pedro sudah mengutus Pak Prabowo untuk beli 3.000 jet tempur.

Hmm…terkuak sudah rahasia Jokowi merangkul Pak Prabowo menjadi Menteri Pertahanan. Apakah Pak Jokowi sudah di-briefing oleh Master Pedro? Selama ini kita mengira illuminati yang jadi invincible hand di kekacauan dunia. Ternyata, Master Pedro, Raja King of The King yang ada di balik semuanya. Sungguh invincible hand yang powerful. Bisa mempengaruhi kebijakan negara.

Teknik panjat sosial ini sangat efektif. Setidaknya kita jadi aware dengan keberadaan orang-orang absurd itu. Awalnya adalah dikenal, lalu diperdebatkan. Ketika ramai dan viral, artinya usaha panjat sosial mereka berhasil. Selama ini kita ditipu mentah-mentah.

Caper itu banyak caranya dan bikin THREAD viral di Twitter udah out of date. Kini, saatnya bikin kerajaan absurd segoblok mungkin.

Ketika sudah selesai memetakan kesimpulan sebab munculnya kerajaan-kerajaan absurd, kami dikejutkan dengan sebuah berita dari Depok. Di sana, muncul kerajaan baru bernama KERAJAAN WARTEG BAHAGIA! Sebuah fakta yang membuat analisis dan hipotesis kami menemui kebenarannya bahkan sebelum diuji di lapangan.

Bagi kamu yang desperate pingin terkenal tapi bingung menentukan teknik panjat sosial yang cocok, mulai sekarang pikirkan konsen kerajaan absurd. Misalnya pakai nama Keraton Penyembah Oseng Tempe.

Menguasai pemerintahan dunia dan uang warisan dari Bung Karno senilai Rp100.000 triliun. Duitnya bakal dibagi untuk menggalakkan kampanye makan tempe sebagai alternatif pengganti nasi putih. Kabari kami kalau kamu sudah sukses dapat akta dari notaris untuk pendirian UMKM model baru ini.

BACA JUGA Kiat Sukses Bikin Kerajaan Layaknya Keraton Agung atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.