MOJOK.COSebuah bendera raksasa terbentang. Sebuah pesan dan dorongan tersemat di dalamnya. Untuk BCS kepada PSS Sleman untuk bersama-sama menuju Liga 1.

Sekira kurang dari dua jam sepak mula pertandingan, saya sudah semakin dekat dengan Stadion Maguwoharjo. Dari arah timur, tampak atap tribun timur yang bergelombang dan berwarna biru. Melewati daerah Tajem, Sleman, saya menantikan paduan koreo megah dan pertandingan yang memuaskan dari laga PSS Sleman vs PSBS Biak.

Misi saya Senin (10/9) sore adalah bertemu dengan media guide dari Brigata Curva Sud atau BCS, suporter PSS yang mendapatkan apresiasi sebagai ultras terbaik se-Asia pada tahun 2017 versi Copa90.

Semakin dekat dengan stadion, lagu “Not Afraid” dari Eminem berdentam di telinga lewat headset yang saya pakai. Lagu tentang usaha mendobrak rasa takut, seperti koreo yang konon akan digelar BCS sore itu. Bukan rasa takut tentang pertentangan atau kerusuhan, melainkan tidak takut untuk bermimpi setinggi mungkin dan bekerja secara cerdas untuk mewujudkannya.

Sesampainya di dalam stadion, tidak nampak persiapan dari BCS. Semuanya normal saja. Bahkan ketika pertandingan sudah dimulai, chant, gerak, dan nyanyian suporter juga terasa “biasa”. Stadion Maguwoharjo langsung bergemuruh hebat ketika pertandingan belum berjalan satu menit saat PSS mencetak gol cepat lewat kaki Ichsan Pratama. Kombinasi umpan pendek dan cepat berhasil merobek pertahanan PSBS yang terlihat belum siap.

PSS sendiri tidak terlalu bekerja keras untuk mengalahkan PSBS. Kepercayaan diri dari setiap pemain, blunder pemain PSBS, hingga kondisi fisik pemain lawan memudahkan kerja PSS sore itu. Skor akhir pertandingan adalah 3-0 untuk kemenangan Super Elang Jawa. Kemenangan yang membuat mereka sukses mengkudeta Madura FC dari puncak klasemen Wilayah Timur Liga 2.

Waktu itu jeda pertandingan, ketika orang yang saya tunggu akhirnya datang. Aand Andrean, media guide BCS menemui saya di tribun media. Tepat ketika Aand datang, babak kedua sudah akan mulai, ketika BCS mulai menata koreo.

Mereka memenuhi tribun selatan, posisi yang membuat istilah “curva sud” disematkan ke nama mereka. Pertama-tama, para suporter yang berada di dua sisi tribun selatan menerima potongan kertas berwarna putih berbentuk persegi. Rata, semua menerima potongan kertas itu. Lalu, dari tengah, sebuah bendera raksasa, giant flag, siap dibentangkan.

Baca juga:  Prediksi PSM vs Persebaya: PSM Kudeta Puncak

Ini yang saya tunggu. Koreo bendera besar. Sampai ketika bendera besar itu siap dibentangkan, saya belum tahu pesan di dalamnya. Ketika wasit meniup peluit tanda mulainya babak kedua, tepat di tengah tribun selatan, bendera raksasa itu mulai ditentangkan. Tidak terlalu cepat, tidak pula lambat, bendera raksasa merambat terbentang.

Dari jauh, nampak warna dasar yang digunakan adalah abu-abu dengan ornamen lipatan yang digambar dengan baik. Ketika bendera raksasa itu terbentang sempurna, gambar dua tangan tengah membuka sebuah tirai terlihat dengan jelas. Dua tangan itu adalah analogi dari harapan BCS. Dua tangan itu terlihat tegas membuka tirai di mana logo Gojek Liga 1 terpampang jelas di bagian tengah.

Sumber: Divisi Kreatif BCS

Tidak terasa ada keraguan dari ilustrasi dua tangan yang tengah membuka tirai menuju Liga 1. Harapan untuk promosi, setelah musim lalu gagal secara dramatis, disampaikan dengan jernih oleh BCS. Di bawah bendera raksasa, sebuah banner raksasa bertuliskan “Mbuh piye carane kudu menang ra urusan” terbaca dengan jelas. Tulisan yang memuat ekspektasi tinggi untuk PSS.

Permukaan bendera raksasa itu hampir menutupi semua bagian tribun bagian tengah. Panjang bendera raksasa adalah 90 meter dengan lebar 21 meter. Kamu tahu, hanya butuh tiga hari untuk mengonsep dan mengerjakan bendera raksasa itu. “Waktu persiapan efektif tiga hari. Ada tujuh orang yang menggambar,” jelas Aand.

Selama ini, persiapan BCS untuk membuat bendera besar memang tidak lebih dari lima hari. Semuanya dikerjakan secara gotong royong. Termasuk mengumpulkan biaya yang dikeluarkan untuk membuat bendera raksasa itu.

BCS menggunakan cara yang halus. Jadi, setiap tiket yang dibeli secara langsung lewat mereka akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp2.000 saja. Tiket yang dikenakan tambahan biaya Rp2.000 tidak hanya tribun selatan, namun semua sektor tribun, asal membeli secara langsung ke BCS. Jika membeli lewat loket di stadion atau online, tentu saja tidak dikenakan tambahan biaya. Ini bentuk ajakan “berkorban” secara manusiawi. Tidak memaksa.

Sebuah nilai yang teramat kecil, namun bermakna besar dan bisa menghidupi kreativitas BCS. Lewat cara ini, semua Sleman Fans bisa mendukung secara langsung, baik lewat menonton ke stadion, maupun menyokong, menjadi bahan bakar kerja kreatif. Muaranya adalah dorongan mental yang luar biasa untuk PSS Sleman.

Baca juga:  PSS Sleman

Bendera raksasa yang diberi judul “We can’t wait any longer to be a winner” ini sendiri punya tujuan yang jelas. BCS menjelaskannya secara tegas. “Tema tersebut dipilih dengan maksud untuk mendorong atau memberi semangat kepada pemain PSS dan semua Sleman Fans agar terus yakin bahwa “naik ke Liga 1” itu prestasi, bukan sekadar narasi. Jadi, kami gambarkan dengan ilustrasi tangan membuka tirai, dan di dalam tirai tersebut terdapat logo Liga 1.”

Untuk mendukung sebuah tim, bagi setiap suporter tentu saja caranya berbeda-beda. BCS memilih cara yang begitu kreatif dan layak dicontoh banyak suporter tim lain. Adu kreasi adalah soal menjadi manusia yang memaksimalkan segala daya dan cipta secara komunal, bukan adu otot dan makian lewat media sosial.

Bersatu dalam kreativitas juga butuh nyali. Jangan salah, memilih untuk membuat bendera raksasa, misalnya, membutuhkan keberanian untuk memulai dan mempertahankannya. BCS, lewat Aand Andrean menegaskan bahwa cara ini akan tetap dilestarikan. Cara yang mulia dan menunjukkan sisi manusia yang sebenarnya, yaitu berkarya untuk bertahan hidup. Karya, bukan hanya soal kerja, namun juga pengabdian. Butuh nyali besar untuk melakukannya.

Pulang dari stadion, terjebak kemacetan bubaran suporter, lagi “Not Afraid” dari Eminem kembali menemani perjalanan.

I’m not afraid
To take a stand
Everybody, come take my hand
We’ll walk this road together, through the storm
Whatever weather, cold or warm
Just letting you know that, you’re not alone

PSS Sleman, suka dan duka, kejayaan atau kesedihan, tidak akan berjalan sendirian. Melewati badai, jalan yang berliku bersama Brigata Curva Sud dan semua Sleman Fans bersama-sama. Sebuah kisah pengabdian saya tutup sampai di sini.

Komentar
Kirim Artikel
No more articles