Mola TV Mirip Timnas Inggris: Kurang Solutif, Meski Pada Akhirnya Tetap Menang MOJOK.CO
Mola TV Mirip Timnas Inggris: Kurang Solutif, Meski Pada Akhirnya Tetap Menang MOJOK.CO

Mola TV Mirip Timnas Inggris: Kurang Solutif, Meski Pada Akhirnya Tetap Menang

MOJOK.COTimnas Inggris menang tipis. Cara bermain mereka sempat membosankan, kurang solutif, seperti Mola TV yang tiba-tiba masuk angin.

Laga Grup D, big match, partai ulangan semifinal Piala Dunia 2018, Inggris vs Kroasia, berjalan dengan iringan gemuruh. Bukan karena nyanyian suporter atau teriakan para pemain. Gemuruh yang terdengar berasal dari timeline media sosial karena Mola TV tiba-tiba masuk angin.

Euro 2020 belum juga masuk matchday 2. Belum ada bigmatch di jam primetime. Semuanya berjalan dengan lancar. Saya menonton hampir semua pertandingan tanpa keluhan. Namun, apa ya, Mola TV tidak mengantisipasi bigmatch yang digelar di jam primetime? Sebagai broadcaster resmi Euro 2020, pertanyaan itu seharusnya tidak muncul.

Maklum kalau terjadi lonjakan jumlah penonton. Ada dua penyebab. Pertama, sudah jelas timnas Inggris adalah penyedot atensi. Apalagi mereka menjadi salah satu unggulan di Euro 2020 kali ini. Kedua, sejak Euro 2020 sepak mula, tidak ada gangguan ketika menonton Mola. Tidak heran jika semakin banyak pelanggan yang merekomendasikan Mola ke orang lain.


Ketika gangguan terjadi, sudah sewajarnya jika pelanggan melemparkan keluhannya kepada CS. Namun, hingga laga Inggris vs Kroasia berjalan 20 menit, bahkan sampai babak pertama selesai, CS Mola TV diam saja. Bahkan akun resmi di Twitter juga tidak memberikan keterangan. Diam. Sunyi. Seperti Wembley malam ini.

Baca juga:  Bukan Alisson, tapi Karma Diving Indah ala Balerina Mo Salah yang Bikin Liverpool Dibantai di Anfield

Atmosfer Wembley, yang menjadi panggung bigmatch Grup C antara Inggris vs Kroasia terasa ringan. Raungan penonton timbul-tenggelam. Tidak meriah. Biasa saja. Salah satu sebabnya adalah timnas Inggris bermain tanpa kreativitas. Padahal skuat mereka menjanjikan imaji itu.

Duet gelandang bertahan Kalvin Phillips dan Declan Rice memang tidak buruk. Keduanya jago memprediksi jalur serangan Kroasia, jago memotong arus serangan, dan jago mempertahankan bola.

Kedua pemain ini lebih nyaman menjadi solo gelandang bertahan, yang berdiri di “belakang bola”. Namun, formasi ini menuntu Kalvin Phillips untuk bermain agak tinggi seperti #8. Sayangnya, posisi dan peran pemain asal Leeds United ini terasa kurang cocok.

Hasilnya, Inggris menjadi kurang kreatif. Persis seperti Mola ketika gangguan terjadi. Seperti tidak ada mitigasi gangguan. Tidak cekatan meladeni gangguan. Padahal, jauh sebelum Euro 2020 sepak mula, Mola galak betul sama layanan streaming ilegal. Ketika semua orang mulai meninggalkan “jalur haram” demi Mola, malah penyedia layanan legal ini yang mengecewakan.

Iya, memang ini cuma satu pertandingan. Bisa saja Mola baik-baik saja setelah ini. Namun, tolong dicatat, pelanggan membayar sejumlah uang, tak peduli nominalnya, untuk mendapatkan layanan sesuai harga. Artinya, penyedia jasa bertanggung jawab menyediakan layanan terbaik di SEMUA menu yang ditawarkan. Normal, bukan? Wajar, kan?

Saya jadi penasaran, kalau pelanggan ini kecewa lalu menonton laga Inggris vs Kroasia dari kanal ilegal, apakah akan tetap kena denda sama Mola? Atau, apakah dosa-dosa menonton ilegal bakal ditanggung Mola?

Baca juga:  Sempak Terbalik, Wangsit Nyi Mblenduk dan Statistik di Judi Bola

Tentu tidak mungkin hooligans sepak bola rela ketinggalan laga Inggris vs Kroasia dan pasrah nonton Ikatan Cinta! Tiada sudi, Burhan! Mending berkubang dosa nonton lewat kanal ilegal

Oya, satu hal lagi yang menyebalkan adalah erornya Mola TV ternyata nggak rata. Ada pelanggan yang bisa menonton dengan lancar. Makin menyebalkan ketika mereka “pamer” di media sosial atau di grup WhatsApp. Padahal, teman-temannya lagi kesulitan nyari link streaming ilegal lewat Twitter dan akhirnya nyangkut di Facebook. Kalau mau eror, kok ya nggak kompak gitu, lho.

Timnas Inggris sendiri akhirnya memetik buah kesegaran ketika berani bersabar bermain dengan dua pivot. Meskipun membosankan di awal, Inggris berhasil unggul lewat Raheem Sterling. Yah, setidaknya, dua pivot ini lebih solutif ketimbang Mola TV, di mana sampai menit 65 masih masuk angin.

Arus pertandingan menjadi agak mirip seperti laga Turki vs Italia. Ketinggalan satu gol membuat Kroasia agak lebih terbuka, tentu untuk mengejar gol penyama kedudukan. Situasi yang menguntungkan Inggris di beberapa momen lewat serangan balik. Ruang yang lebih lega membuat kualitas individu lini depan menjadi lebih terlihat.

Seiring jalannya babak kedua, Declan Rice dan Kalvin Phillips menghadirkan rasa aman yang dibutuhkan sebuah tim. Terutama untuk sebuah tim yang ingin melaju jauh di Euro 2020 ini. Pada akhirnya, dua pivot memberi satu dimensi baru bagi timnas Inggris, pun masih disokong pemain cadangan yang lebih kreatif. Fleksibilitas ini tentu menyenangkan.

Baca juga:  Memahami Brexit untuk Orang Awam

Apakah Inggris terlihat meyakinkan? Agak sulit menilai seperti itu karena Kroasia tidak bermian di level tertinggi seperti di Piala Dunia 2018. Namun, dari sisi kedisiplinan, timnas Tiga Singa ini memang lebih stabil. Setidaknya satu hal itu bisa bekal mengarungi Euro 2020 yang berat ini.

Mola TV? Masih masuk angin. Tapi, Mola TV tetap “menang” selepas gangguan ini. Ya mau nggak menang kalau sudah banyak pelanggan yang subscribe karena butuh nonton Euro 2020. Mau dicaci pun, mereka tetap cuan, tetap menang. Hebat.

BACA JUGA Mola TV Perlu Mendengarkan Curhatan Pemburu Link Streaming Ilegal dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.