MOJOK.COMola TV resmi menjadi official OTT Broadcaster untuk Euro 2020. Sebagai persiapan, ada baiknya Mola TV mendengarkan curhatan pemburu link streaming ilegal.

Breaking news. Mola TV resmi menjadi official OTT Broadcaster untuk Euro 2020. Di Indonesia, Mola TV akan menjadi satu-satunya kanal yang menayangkan seluruh pertandingan dari babak kualifikasi grup hingga final. Kualifikasi yang sekarang sudah berjalan pun hanya bisa disaksikan lewat saluran Mola TV.

Menariknya, salah satu followers Mola TV di Instagram berpendapat ini bukan “breaking news”, tapi “bad news”. Sebuah ungkapan perasaan yang saya yakin mewakili isi hati banyak penikmat sepak bola di Indonesia. Mola TV dianggap cuma merepotkan saja, gagal memberikan kenyamanan.

Perlu saya tegaskan. Penonton layar kaca di Indonesia sudah dimanjakan dengan fasilitas siaran langsung yang disediakan broadcaster resmi sebelum Mola TV masuk. Hanya dengan langganan penyedia jasa internet, penonton layar kaca bisa menikmati paket lengkap. Mulai dari nonton Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, film-film box office, dan seabrek saluran televisi berbayar lainnya.

Zona nyaman memang melenakan. Pastinya orang nggak mau begitu saja sumber kenyamanan mereka diusik. Orang yang dipersulit untuk mendapatkan sumber kebahagiaan pastinya akan melawan. Nah, bagi mereka yang sebal begitu sama Mola TV, ramai-ramai berburu link streaming ilegal.

Berikut beberapa curhatan para pemburu link streaming ilegal yang saya dengar secara langsung.

Mola TV mahal dan nggak bisa beli ketengan

Untuk berlangganan Mola TV, per orang kudu menyiapkan dana satu juta rupiah. Biaya itu harus disiapkan di depan. Mereka yang sudah langganan penyedia jasa internet, harga itu terlalu mahal karena harus dibayarkan di depan. Secara psikologis, mereka akan lebih mau berlangganan kalau bisa membayar, misalnya, Rp100 ribu per bulan.

Memang, jika dibagi menjadi 12 bulan, biaya langganan Mola TV hanya sekitar Rp80 ribu saja. Tapi, seperti yang saya bilang, karena tidak bisa dibeli secara ketengan, maka biaya Mola menjadi mahal. Opsi mencicil pun tidak disediakan. Padahal ini bisa menjadi pemancing calon pelanggan untuk mencoba.

Baca juga:  Tsunami Selat Sunda x Mesut Ozil: Antara Ketulusan Hati, Relasi, dan Bisnis

Nggak semua komunitas fans punya duit

Bagi komunitas fans yang ingin menggelar nonton bareng, Mola TV mewajibkan mereka untuk membeli lisensi senilai Rp10 juta rupiah. Nggak semua komunitas fans ini punya duit segitu banyak. Uang tiket yang dikenakan bagi penonton pun tidak bisa menutup biaya lisensi. Hasilnya, banyak komunitas yang mencoba curi-curi kesempatan untuk nonton bareng lewat layanan streaming ilegal.

Perlu Mola TV ketahui, pengurus komunitas fans ini kebanyakan masih mahasiswa atau pekerja dengan upah standar. Tentunya sangat berat bagi mereka untuk patungan sampai Rp10 juta demi beli lisensi.

Bagaimana kalau nggak balik modal? Nggak semua acara nonton bareng dibanjiri penonton. Apalagi kalau tim kesayangan mereka cuma lawan tim-tim semenjana atau main di dini hari. Saya bisa pastikan kalau acara itu bakal sepi.

Sebetulnya, mereka waswas kalau polisi datang. Maklum, ketika perkenalan, Mola TV langsung menggandeng polisi. Bagi komunitas yang ketahuan nonton bareng tanpa beli lisensi bakal kena gulung. Intinya, pengurus komunitas ini nggak masalah berlangganan penyedia streaming legal seperti Mola . Cuma, nggak semua orang mau bakar duit demi lisensi.

Saran saya sederhana saja. Bagi pelanggan individu atau komunitas, dibuka layanan beli ketengan atau bisa mencicil. Antusias nonton sepak bola di Indonesia itu sangat besar. Saya yakin mereka akan sukarela dan iklas mencicil, misalnya Rp150 ribu per bulan. Mola nggak akan rugi karena potensi pasar akan terbuka lebih lebar.

Mola TV dianggap ribet.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, kalau sudah nyaman, akan sulit beralih ke lain hati. Nyaman di sini juga berkaitan dengan kemudahan menonton. Hanya ada dua cara untuk menikmati pertandingan Liga Inggris di Indonesia, yaitu berlangganan Mola Matrix Pay TV berbayar atau membeli perangkat Mola Polytron.

Baca juga:  Duka Leicester City: Perginya “Si Marry Poppins” Bernama Vichai Srivaddhanaprabha

Chief of Distribution and Broadcast Mola TV Ayi Farid Wajdi kepada Asumsi mengungkapkan penjualan alat untuk menonton itu demi kualitas. “Kenapa? Banyak faktor, sih. Yang pertama adalah soal kualitas. Dengan apps Mola embed di perangkat tersebut, kami bisa menjamin quality delivery-nya, video quality-nya, dan audio quality-nya. Kalaupun nanti ditaruh di backscreen, giant screen, gambar nggak akan pecah. Tapi tetap tergantung jaringan internet, ya.”

Perlu Ayi ketahui, salah satu teman saya mengunggah sebuah video pendek di Twitter. Dia mengeluh siaran Mola nggak keluar gambarnya dan cuma suara yang muncul. Ini mau nonton bola atau mendengarkan radio? Kedua, kualitas jaringan internet di Indonesia masih belum rata dan stabil.

Menonton layanan streaming di televisi dengan gambar yang tersendat-sendat jadi keribetan baru. Apalagi sekarang ini banyak orang yang lebih suka nonton di gawai mereka, bukan televisi. Sembari ngopi di kafe, ngobrol sama teman, mereka juga asyik nonton lewat gawai.

Link streaming ilegal menawarkan kemudahan itu. Hanya perlu buka situsweb tertentu, modal wifi paketan yang murah meriah, bawa colokan charger hape, mereka sudah bisa nonton “siaran langsung”.

Saya sih senang kalau kita bisa nonton lewat layanan legal karena untuk kualitas memang tidak ada yang murah. Namun, kalau kualitas yang dijanjikan itu belum bisa dihadirkan, banyak pelanggan akan berpikir dua kali untuk beli.

Euro 2020 masih tahun depan. Masih ada waktu bagi Mola untuk berbenah. Tenang saja, seiring kemudahan dan kualitas, penonton sepak bola yang militan itu pasti akan berlangganan. Lebih baik bayar Rp150 ribu per bulan demi Liga Inggris, Liga Italia, dan Liga Spanyol ketimbang nonton sinetron Indonesia yang payah dan tidak mendidik itu.

BACA JUGA Agar Nonton Film Bareng Pasangan Bisa Lebih Berarti atau artikel Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles