MOJOK.COTidak ada manfaatnya ketika menyerang Arteta secara personal dengan kata-kata sampah. Fans Arsenal perlu mengenal yang namanya aktivitas berpikir.

Fans Arsenal akhirnya bisa melihat trio lini tengah yang dianggap paling seimbang: Granit Xhaka, Thomas Partey, dan Dani Ceballos. Sayang, di tengah kegairahan itu, Mikel Arteta justru membuat “blunder”. Ketika skuat (yang dianggap) terbaik sudah dicoba, The Gunners justru kehabisan solusi.

Sebelum laga dimulai, rasa khawatir itu sudah mulai saya rasakan. Ketika mencoba sistem baru, ada semacam kecenderungan dari Mikel Arteta untuk berpikir terlalu rumit. Sebuah kebiasaan yang juga menjadi kelemahan Pep Guardiola. Kebiasaan yang kali ini membawa dampak negatif bagi Arsenal.

Saya tidak akan menjelaskan secara detail overthinking yang dilakukan Arteta di sini. Toh percuma juga fans Arsenal diberi penjelasan secara logis mengingat kebanyakan dari mereka tidak bisa membedakan mana kritik mana unjuk kebodohan ketika menyerang pelatih secara personal sampai menuntut pemecatan.

Intinya begini, di babak pertama, untuk mengatasi lini tengah yang “menumpuk” Arteta menginstruksikan Xhaka dan Ceballos untuk bermain melebar ketika Arsenal menguasai bola. Salah satu yang ingin dicapai adalah keunggulan jumlah di sisi lapangan. Xhaka, ditemani Kieran Tierney dan Bukayo Saka di kiri. Sementara itu, Ceballos mendekati Hector Bellerin dan Aubameyang di kanan.

Ketika Saka atau Aubameyang bergerak ke dalam, dua bek sayap Arsenal (Tierney dan Bellerin) akan mendapatkan ruang yang lega di sisi lapangan. Ketika situasi itu terjadi, David Luiz, bek tengah, mengirimkan bola diagonal, misalnya ke sisi Tierney. Dengan begitu, Arsenal sangat mudah mendapatkan situasi umpan silang.

Beberapa kali Arsenal mendapatkan peluang dari umpan silang atau pergerakan Tierney dan Bellerin di belakang garis pertahanan lawan. Sayang, final ball dan finishing tidak terasah dengan baik. Jika situasi ini bisa dimaksimalkan, saya yakin unjuk kebodohan fans Arsenal tidak akan disuarakan.

Selama satu babak, Arsenal sangat dominan. Bahkan hingga menit 30 saja, mereka sudah membuat delapan peluang gol. Kecenderungan berbahaya untuk mental terjadi sini, yaitu ketika merasa dominan tetapi upaya yang dilakukan selalu mentok. Perlahan, keyakinan diri akan cara yang tengah dilakukan menjadi pupus.

Pupusnya keyakinan diri itu terlihat di 10 menit awal babak kedua. Perlahan, rata-rata ruang jelajah Aubameyang semakin rendah. Padahal, idealnya, Aubameyang hampir sejajar dengan Saka di sisi kiri. Ingat, gerakan pancingan dua pemain ini yang membebaskan dua bek sayap di sisi lapangan.

Pemain dan pelatih itu, menurut saya, satu entitas, ada dua tetapi sebetulnya satu kesatuan. Pemain menerjemahkan ide pelatih di atas lapangan, sementara pelatih merancang ide yang memudahkan pemain untuk menang. Apa yang terjadi ketika pemain kehilangan keyakinan akan ide yang tengah dipakai?

Dalam situasi yang sederhana, pilihannya ada dua. Pertama, mengganti pemain sehingga sistem yang sama tetap bisa dipakai. Kedua, mengganti sistem supaya pemain tetap yakin bahwa mereka bermain untuk menang. Di sini, blunder terjadi, ketika Arteta terlalu lama mengambil keputusan. Mutlak, Arsenal kehilangan momentum ketika David Luiz cedera.

Ironis, sumber kreativitas Arsenal adalah dua bek tengah; Luiz dan Gabriel, yang berani melepas umpan-umpan vertikal. Sementara itu, di tengah Thomas Partey terlihat kesal karena ketika Luiz cedera, Shkodran Mustafi dan Gabriel bermain terlalu “aman”. Ketika Partey minta bola di daerah berbahaya, keduanya ragu untuk memberikannya.

Partey sadar bahwa Arsenal harus mencoba cara lain. Mereka harus berani mengambil risiko karena cara yang pertama sudah dibaca Leicester. Saya curiga, selain Gabriel, hanya Partey yang sadar kalau Leicester sudah menyiapkan jebakan ketika Brendan Rodgers memasukkan Jamie Vardy dan Cengiz Under secara berkala.

Setelah “kecolongan gol”, yang malah terjadi adalah kebingungan. Sisi ironi semakin terasa ketika Aubameyang, sumber gol Arsenal, justru menjadi pengirim umpan silang untuk bek tengah. Semua peluang emas yang disia-siakan Lacazette pasti sangat disesali Aubameyang. Striker kelas dunia yang terus-menerus dipaksa bermain melebar. Blunder Arteta semakin panjang hingga akhirnya pertandingan berakhir.

Saya rasa, puncak blunder Arteta adalah ketika memasukkan nama Mustafi ke dalam skuat. Mustafi tak mendengar peringatan Gabriel untuk mengawasi Vardy. Mustafi malah lari-lari santai menikmati keindahan alam ketika Vardy melesat di depannya. Saya curiga, Mustafi ini punya kebiasaan melamun di tengah pertandingan. Saya takut dia lagi mikir jorok lalu tiba-tiba coli di tengah lapangan.

Nah, sampai di sini, saya memaklumi bahkan mengharuskan fans Arsenal kritis kepada Arteta. Mulai dari terlambat mengubah sistem, lambat mengganti pemain, tidak berani mencoba Aubameyang sebagai striker tengah, dan tidak tegas kepada Lacazette. Ingat, fans memang harus kritis, bukan unjuk kebodohan.

Kebodohan pertama adalah menuntut Arsenal memecat Arteta. Saya sudah sampai di titik tidak bisa merasa kesal lagi dengan kebiasaan goblok begini. Kalau ada seorang pesohor yang mengumbar kebodohan, ya jangan didengarkan. Yang harus kamu dengarkan cuma dua, yaitu nasihat orang tua dan ajaran Tuhan. Mari belajar jadi fans yang logis.

Kebodohan kedua adalah menuntut Mesut Ozil dimainkan. Bodoh karena, pertama, kita tahu Ozil tidak akan bermain bukan karena keberadaan Arteta. Kondisi ini sudah di luar jangkauan fans. Kedua, dari sisi cara bermain, keberadaan #10 justru akan membuat “macet” karena Leicester menumpuk tiga gelandang di tengah.

Apalagi kita tahu kebiasaan Ozil kalau hampir selalu ditabrak, dilayani dengan kontak fisik secara intens. Jose Mourinho pernah mengkritik Ozil bahwa dua umpan cantik saja tidak akan menghasilkan sesuatu. Itu baru “kerja 50 persen”, padahal Arsenal menuntut komitmen 100 persen dari semua pemain, termasuk ketika melakukan pressing dan berkontribusi dalam proses bertahan.

Kebodohan ketiga adalah ketika merengek. Ada fans yang langsung menghakimi Thomas Partey itu hanya sekadar The Next Frimpong dan Mo Elneny “jauh” melebihi dirinya. Duh, Gusti Allah nu Agung. Saya tidak perlu menjelaskan kenapa ocehan ini jadi sebuah kebodohan, bukan?

Satu hal yang ingin saya tekankan kepada fans Arsenal adalah sepak bola sudah berkembang sedemikian kompleks. Saya maklum kalau bacot itu masih gratis dan paling mudah dilakukan karena kamu tidak perlu berpikir secara logis atau kompleks. Mungkin, aktivitas berpikir memang bukan untuk sembarang orang.

Tidak ada salahnya mempelajari perkembangan sepak bola. Supaya fans Arsenal bisa menyusun kritik secara proporsional. Kritik tidak harus “selalu membangun”. Namanya saja kritik. Namun, tidak ada manfaatnya menyerang Arteta secara personal dengan kata-kata sampah.

Arsenal tidak akan berubah langsung “cantik” hanya dengan sumpah serapah kepada Arteta. Yang terjadi adalah fans Arsenal terlihat makin beracun. Sampai di sini, saya semakin yakin, bahwa Arsenal tak hanya butuh pemain baru, tetapi sekumpulan fans baru yang mau diajak untuk sekadar berpikir. Ahh, maaf, berpikir itu berat, biar saya saja. Kamu berak saja dan buang tahi kebodohan itu di toilet.

BACA JUGA Pemain Arsenal Patah Kaki Bukan Tragedi, Pemain Liverpool Cedera Semua Menangis: Antara Media Munafik dan Wasit Goblok dan tulisan-tulisan lain dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Saka dan Ansu Fati: Menjadi Garam dan Terang Dunia Arsenal dan Barcelona