MOJOK.COCinta memang abadi, tetapi manusia hanya bayangan fana. Mencintai Arsenal adalah usaha untuk ikhlas menerima kepergian Mesut Ozil.

Bersamaan dengan kedatangan Mikel Arteta ke Arsenal, nama Dani Ceballos semakin sering mewarnai lini tengah. Bagi Arteta, pemain asal Spanyol itu bagian penting dari sistem yang coba dia bangun. Bahkan Arteta memujinya dengan kalimat: “Dani Ceballos berlatih hewan buas.”

Pujian itu seperti sindiran “halus” untuk Mesut Ozil. Kreator utama Arsenal yang sudah tidak bermain sejak Maret 2020. Banyak analisis yang bisa kamu temukan di media sosial perihal keterasingan Mesut Ozil dari skuat Arsenal. Salah satunya adalah kedisiplinan dan lemahnya determinasi ketika berlatih.

Konon, seorang fans Arsenal menemukan fakta bahwa level karakter Ozil di game Apex sudah sangat tinggi. Jika menepikan keberadaan joki game, level tersebut bisa dicapai jika Ozil bermain secara intens. Padahal, kurang tidur adalah salah satu hal yang diharamkan bagi atlet, tidak cuma pesepak bola.

Temuan itu beriringan dengan salah satu alasan Ozil tidak bisa konsentrasi ketika latihan, yaitu harus menjaga anaknya yang baru lahir. Alasan ini dikemukakan oleh Per Mertesacker, mantan pemain Arsenal yang kini melatih tim akademi. Jadi, Ozil menghabiskan waktu di malam hari untuk bermain Apex atau menjaga anaknya? Hanya Tuhan yang tahu.

Namun, satu hal yang pasti, level determinasi Mesut Ozil di lapangan latihan masih di bawah pemain lain. Salah satunya Dani Ceballos, pemain pinjaman dari Real Madrid yang tengah punya misi. Ceballos ingin masa peminjamannya di Arsenal bisa maksimal karena tengah mengincar satu tempat di timnas Spanyol untuk Euro tahun depan.

Menjadi masuk akal kalau Dani Ceballos berlatih keras dan bermain sebagus mungkin. Dua hal yang dipandang sangat tinggi oleh Mikel Arteta.

Secara diplomatis, Arteta bilang bahwa kegagalan Ozil menembus tim utama adalah kegagalannya juga. Dia menegaskan, sebagai pelatih, sudah tugasnya untuk membantu pemain mencapai level tertinggi. Kegagalan pemain adalah kegagalan pelatih. Ah, kita tahu kalimat itu terlalu manis untuk menjadi kenyataan. Kita tahu, terlepas dari segala masalah, memang ada yang salah dengan diri Mesut Ozil.

Ketika Arsenal “mengikat” Dani Ceballos dan Thomas Partey dengan cara yang berbeda, kita seharusnya sadar kalau Mesut Ozil sudah “habis”. Dua pemain ini bisa menjadi komponen penting dalam dua sistem yang akan dipakai Arteta, yaitu 3-4-3 dan 4-3-3.

Tidak ada tempat untuk Mesut Ozil

Mari kita lupakan sejenak masalah kemanusiaan yang disinggung Ozil dalam surat terbukanya. Mari kita tengok kondisi lini tengah Arsenal. Harapan saya, penjelasan ini bisa menyudahi perdebatan soal tuntutan fans melihat Ozil bermain lagi untuk The Gunners.

Jika bermain dengan sistem 3-4-3, duet Dani Ceballos dan Granit Xhaka (sebelum Partey masuk) adalah duet paling ideal. Dua pemain ini beda tipe. Namun, karena berbeda itu, keduanya justru bisa saling melengkapi. Ceballos sebagai ball-carrier dan Xhaka sebagai penjaga kedalaman.

Duet lini tengah semakin berwarna ketika Mo Elneny kembali dari masa peminjaman dan Thomas Partey resmi bergabung. Kemampuan Elneny memang terbatas, tetapi cocok dengan profil yang diinginkan Arteta. Sementara itu, Partey adalah upgrade untuk semua gelandang yang dimiliki Arsenal. Secara singkat bisa kita sepakati bahwa Partey “bisa melakukan semua hal” di lapangan tengah.

Ketika bermain dengan sistem 4-3-3, trio Xhaka, Partey, dan Ceballos sudah sangat seimbang. Perpaduan penjaga kedalaman, box-to-box, dan advance #8. Perlu kamu ketahui, kemampuan Ceballos semakin bermanfaat ketika bermain dengan kebebasan di lapangan tengah. Sistem 4-3-3 akan sangat mendukung.

Ketika masih bermain untuk Real Betis (sebelum dibeli Madrid), Ceballos adalah salah satu ball-carrier muda terbaik di Eropa. Ketika berseragam Betis, dia mencatatkan rata-rata enam dribble sukses per 90 menit. Ketika bermain untuk Madrid, rata-ratanya turun, tetapi jumlah sentuhan di kotak penalti meningkat. Yang perlu dicatat adalah dribble sukses Ceballos masih tinggi dan dilakukan di level yang juga tinggi.

Kekuatan ini berhasil dia bawa ketika bermain untuk timnas Spanyol U-21. Kemampuannya bermain di antara lini lawan, kemampuan menerobos dengan dribble, keseimbangan ketika melakukannya, dan kesediaan melakukan cover di sisi lapangan membantu Ceballos menjadi salah satu pemain terbaik Spanyol U-21.

Bermain dalam skema 4-3-3, Ceballos (kemungkinan) bermain sebagai gelandang kiri. Dia akan banyak menerima bola di halfspace sebelah kiri. Ketika menerima bola dan memindahkannya ke kaki kanan, Arsenal akan punya pemain dengan pandangan luas. Sebuah keuntungan dari pemain berkaki kanan dan bermain di kiri.

Berikut catatan statistik Dani Ceballos ketika bermain di posisi ini: rata-rata umpan sukses mencapai 91 persen dengan dua umpan terobosan sukses per 90 menit. Dia pandai mengombinasikan kemampuan menggiring bola dan kemampuan melepaskan umpan terobosan ketika pertahanan lawan terbuka karena pergerakannya.

Dari semua kelebihan itu, satu aspek terbesar yang memaksa Mesut Ozil kehilangan tempat adalah kemampuan bertahan Ceballos. Jika kamu menyimak dengan seksama cara bermainnya, di situasi “tanpa bola”, Ceballos adalah physical player.

Dia lebih suka menekan lawan secepat mungkin, kalau perlu melakukan tekel, ketimbang intersep. Ketika tim kehilangan bola, komitmennya untuk tracking back sangat krusial untuk pertahanan. Ceballos juga pandai mengeksekusi tekel dari blind side lawan. Kesadaran ini yang kurang dimiliki Mesut Ozil. Determinasi ini yang disukai Mikel Arteta.

Ketika Arsenal bermain dengan medium block, Ceballos sadar bahwa ruang di belakang bek sayap sangat berbahaya. Dia bisa membaca dan menentukan kapan harus menekan lawan secepat mungkin atau langsung turun untuk memberikan cover di sisi lapangan.

Artinya, dari semua kelebihannya, Mikel Arteta ingin semua pemain bisa berkorban demi tim. Mau berlari lebih jauh dan bergerak lebih cepat. Corak sepak bola zaman sekarang memang begitu. Sangat physical, menuntut semua pemain untuk patuh dengan sistem. Satu pemain tidak melakukan pressing, sistem akan runtuh.

Dari penjelasan singkat di atas kita bisa membandingkan dengan kepala jernih bahwa Dani Ceballos (dan Partey serta Elneny) lebih sesuai dengan sistem Arsenal ketimbang Mesut Ozil. Pahit? Memang. Namun, kenyataan hidup memang terkadang seperti itu.

Saatnya fans Arsenal melupakan

Saya setuju dengan sebuah pendapat bahwa Mesut Ozil adalah pemain terbaik Arsenal di era Emirates Stadium. Dari sisi nostalgia dan imajinasi, sosoknya memang sulit untuk dilupakan begitu saja. Namun, bukankah titik tertinggi dari mencintai adalah mengikhlaskan?

Ketika namanya tidak masuk dalam daftar 25 pemain untuk Liga Inggris, tidak banyak yang bisa dilakukan fans. Tidak banyak pilihan bagi fans selain mendukung Arsenal sepenuh hati.

Pemain legenda datang dan pergi, terlepas dari caranya yang memang memilukan. Namun, kehidupan akan terus berjalan. Menghabiskan banyak energi untuk mencari siapa yang salah sudah tidak relevan lagi. Kalau memang mencintai, kamu harus berani belajar untuk melepaskan. Cinta memang abadi, tetapi manusia hanya bayangan yang fana.

BACA JUGA Mesut Ozil ‘Dibuang Sepenuhnya’ oleh Arsenal ketika Petr Cech Menampar Kepa, Kiper Termahal Chelsea dan tulisan-tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  El Clasico: Alasan Barcelona Bakal Mengalahkan Real Madrid