MOJOK.COBanyak ironi di sepanjang sejarah sepak bola. Namun, saya berani bertaruh, ironi Mesut Ozil, Arsenal, dan Petr Cech ini setidaknya masuk 10 besar ironi paling menyedihkan di dunia.

Arsene Wenger terlihat sedikit gusar ketika memberikan pendapat soal situasi Mesut Ozil dan Arsenal. Menurutnya, Ozil, pemain juara dunia itu, seharusnya diberi kesempatan bermain, bukan “diasingkan” seperti ini. Bahkan, menyimak nada bicaranya, Wenger terdengar “memaksa” Mikel Arteta untuk mencari cara supaya Ozil bisa masuk skuat.

Mungkin, Arsene Wenger belum sepenuhnya sadar bahwa dirinya dan Mesut Ozil sudah bukan lagi bagian dari Arsenal. Ya, dari sisi nostalgia dan kenangan, selamanya, Wenger akan diasosiasikan dengan Arsenal. Namun, secara aktual, dia tidak lagi punya kuasa. Secara aktual, Ozil pun bisa dianggap bukan lagi bagian The Gunners.

Mesut Ozil sudah tidak bermain sejak Maret 2020. Dia masih menjadi pemain reguler sebelum pandemi menjadi keprihatinan dunia. Kita bisa berdebat satu hari penuh untuk mencari tahu alasan Arsenal membuang Ozil dan tidak akan menemukan jawaban yang bisa memuaskan semua orang.

Dari sisi klub, Arsenal butuh pemain yang tidak menghindar dari kontak fisik, mau berlari kesetanan menekan lawan, dan, meminjam kalimat Jonathan Liew kolumnis The Guardian, tidak bikin kesal pemerintah Cina lewat Twitter. Dari sisi pemain, Mesut Ozil tidak bisa berbuat banyak selain berburu engagement media sosial dengan mencuit kata “Sabar”.

Kini, Mesut Ozil sudah “dibuang sepenuhnya” ketika namanya tidak masuk dalam daftar 25 pemain untuk Liga Inggris. Pertaruhannya tinggal di Januari 2021 nanti ketika pendaftaran dibuka kembali. Jika namanya tidak bisa ditemukan di sana, fans Arsenal seharusnya sadar melanjutkan perdebatan “yang salah mana, pemain atau klub” sudah tidak relevan lagi.

Banyak yang bilang kalau sepak bola adalah cermin kehidupan. Salah satu bayangan yang terpantul dari analogi tersebut adalah sisi ironi. Mesut Ozil adalah pemain dengan level flair tertinggi di Arsenal. Ketika kreativitas dan imajinasi sedang lesap, solusinya ada di dalam diri sendiri. Namun, Arsenal, dalam hal ini Mikel Arteta, tidak bisa memaksimalkan sumber imaji itu.

Ironis….

Sisi ironi itu tidak hanya dihadapi Arsenal, Mikel Arteta, dan Mesut Ozil. Tetangga mereka, Chelsea, tidak lepas dari sisi manusia satu ini. Ketika mendaftarkan 25 pemain untuk Liga Inggris, Chelsea memasukkan nama Petr Cech. Kiper berusia 38 tahun ini sudah pensiun dan kini memegang jabatan Penasihat Teknis dan Performa Pemain.

Namun, ketika lapangan hijau memanggil pulang, sepertinya tidak ada pemain yang bisa menampik godaan itu. Apalagi ketika dirinya merasa sedang sangat dibutuhkan. Ketika sisi ironi tengah mewarnai. Ketika Kepa, kiper termahal Chelsea dan dunia, lebih rutin membuat blunder ketimbang penyelamatan penting.

Chelsea boleh beralasan bahwa pandemi membuat mereka harus punya cadangan pemain. Frank Lampard boleh berkilah bahwa Petr Cech masih menikmati aktivitas latihan dan bukan pilihan sulit untuk memasukkan namanya ke dalam skuat. Namun, dunia tahu kalau Chelsea sedang krisis kualitas kiper.

Kepa, sangat tidak konsisten dan lebih mesra dengan blunder. Edouard Mendy, kiper baru yang baru pulih dari cedera. Willy Caballero, kiper ketiga yang seperti “ada dan tiada”. Menariknya, usia Caballero lebih tua beberapa bulan ketimbang Petr Cech.

Yah, apa pun alasannya, Chelsea memang berhak dan bisa mendaftarkan Petr Cech. Terlepas dari fakta kalau mereka tengah menjadi bahan tertawaan, keberadaan pemain legenda tidak selalu buruk. Toh Arsenal juga pernah melakukannya ketika mengizinkan Robert Pires berlatih bersama tim utama.

Konyolnya, Robert Pires bukan bagian resmi dari manajemen Arsenal. Pada titik tertentu, Pires terlihat sedang menjaga kebugaran saja di “usia senja”.

Bicara soal ironi dan kekonyolan, Mesut Ozil dan Petr Cech adalah bagian dari skuat Arsenal yang dipermalukan Chelsea di final Europa League. Keduanya kena kritik keras karena bermain di bawah standar.

Ozil, seperti biasanya, dianggap selalu “menghilang” di laga penting. Sementara itu, Cech, tidak tampil sesuai ekspektasi. Beberapa gol Chelsea sebetulnya bisa dicegah jika Petr Cech “lebih mau” merentangkan tangannya. Di bangku cadangan, Bernd Leno, “malaikat Arsenal” menatap blunder di laga final itu dengan raut wajah penuh ketidakpercayaan.

Konyolnya, setelah laga, Cech memutuskan pensiun dan menerima tawaran Chelsea untuk masuk manajemen. Betul-betul konyol. Pada titik tertentu, mohon maaf sebelumnya, Arsenal tak ubahnya seperti badut saja. Menjadi bahan tertawaan dunia.

Kini, ketika Petr Cech kembali dari masa pensiun, Mesut Ozil “dipaksa” untuk pensiun dari Arsenal. Pemain yang sudah lewat masa kejayaan, diseret untuk menemani kiper muda termahal di dunia yang akrab dengan blunder. Pemain di ujung masa emas, dipaksa duduk di rumah sambil menikmati gaji besar.

Banyak ironi di sepanjang sejarah sepak bola. Namun, saya berani bertaruh, ironi Mesut Ozil, Arsenal, dan Petr Cech ini setidaknya masuk 10 besar ironi paling menyedihkan di dunia. Pada akhirnya, diasingkan dan dianggap tidak ada adalah siksaan terbesar untuk manusia.

BACA JUGA Pemain Arsenal Patah Kaki Bukan Tragedi, Pemain Liverpool Cedera Semua Menangis: Antara Media Munafik dan Wasit Goblok dan tulisan-tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Manchester United dan AC Milan Menang, Bukti Setan Masih Sulit Dikekang