MOJOK.COUntuk menentukan masa depannya, Haaland bisa berkonsultasi dengan Odegaard, yang menemukan cinta baru bersama Arsenal.

Hari Sabtu (13/4) malam waktu Indonesia, Stale Solbakken, pelatih tim nasional Norwegia, memilih Martin Odegaard sebagai kapten tim. Odegaard menggantikan Stefan Johansen. Ini keputusan besar mengingat usia Odegaard baru 22 tahun. Namun, kabar ini tidak menjadi headline di banyak media.

Menjadi kapten tim nasional di usia muda bukan hal biasa. Jika saat ini Odegaard sudah mencatatkan 25 laga bersama timnas Norwegia, artinya si pemain memang istimewa. Bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi cara berpikir, kedewasaan, dan kekuatan mentalnya.

Oleh sebab itu, pemain yang kini tengah dipinjam Arsenal, adalah role model yang bakal relate dengan generasi baru. Salah satunya Erling Haaland, rekannya di timnas Norwegia, yang konon diminati sederet klub kaya di Eropa. Pada titik tertentu, Haaland perlu mengikuti langkah Odegaard.

Bukan. Bukan dengan menjadi pemain Arsenal. Finansial Arsenal akan sulit bersaing dengan klub-klub kaya yang meminati Haaland. Toh meskipun bisa all out di bidang pembiayaan, Haaland tidak memasukkan nama Arsenal ke dalam enam klub yang menjadi destinasi potensial di masa depan.

Enam klub yang konon menjadi destinasi favorit Haaland adalah Manchester United, Manchester City, Liverpool, Barcelona, Real Madrid, dan Juventus. Klub mana yang akan dipilih Haaland? Untuk menentukan masa depannya, Odegaard dan Arsenal bisa menjadi “pelajaran yang bijak”.

Odegaard dan Arsenal yang terasa seperti rumah

Saya tidak tahu alasan Zinedine Zidane, pelatih Real Madrid, enggan memaksimalkan Odegaard musim ini. Padahal, gelandang serang di skuat Madrid tengah dalam performa payah. Isco hingga Asensio tidak juga konsisten. Kreativitas semakin tipis di dalam skuat Madrid.

Padahal, musim lalu bersama Real Sociedad, Odegaard menjadi salah satu penampil terbaik La Liga. Masuk akal jika Madrid segera melakukan revolusi atau peremajaan skuat dengan Odegaard sebagai pusatnya. Namun, Zidane punya pertimbangan lain.

Sebuah pertimbangan yang membuat Arsenal mendapatkan jalan untuk mendatangkan Odegaard ke Inggris. Yah, meskipun hanya dengan status pinjaman. Kamu tahu, merasa dibutuhkan dan diakui adalah perasaan yang begitu membahagiakan. Arsenal menyediakan dua sisi cinta itu sejak hari pertama.

Odegaard sendiri mengakui bahwa sejak hari pertama berseragam Arsenal, dia merasa diterima. “Saya merasa seperti di rumah sendiri sejak hari pertama.” Sebuah perasaan yang membantu mempercepat proses adaptasi di tengah lingkungan baru.

Arsenal tidak hanya menjadikan Odegaard sebagai “pemanis” atau sumber uang dari penjualan seragam tim. Odegaard merasa dibutuhkan di universe sepak bola Arsenal, bukan hanya sebatas kebutuhan public relation stunt semata. Satu hal yang perlu dipikirkan Haaland sejak sekarang.

Sudah banyak jurnalis yang menganalisis tujuan terbaik bagi Haaland dari sisi teknis. City, misalnya, kini hanya membutuhkan striker tajam saja supaya skuat mereka lebih sempurna. United, punya latar belakang yang kontras dengan latar belakang Haaland. Barcelona, menjadikan Haaland sebagai bagian dari kampanye. Madrid, nama mereka lebih sering disebut bersama nama Mbappe dalam satu kalimat. Liverpool, masih berkutat dengan urusan masa depan Mo Salah dan Firmino. Juventus? Mereka perlu merevisi project Ronaldo.

Masing-masing punya kepentingan dan saya tidak bisa menilai baik dan buruknya. Semuanya kembali ke perspektif masing-masing. Bagi fans masing-masing klub, semuanya pasti baik adanya. Friksi di dalam tim adalah masalah internal, tidak ada urusan dengan kesulitan membeli pemain baru.

Beberapa hari yang lalu, saya pernah menegaskan bahwa hanya City yang tak bakal punya masalah memasukkan nama Haaland sebagai striker utama. Mereka bisa melepas Sergio Aguero dengan mudah. Yoga Cholanda, jurnalis sepak bola, mengungkapkan bahwa kini Gabriel Jesus lebih nyaman bermain dari sisi kiri.

Satu aspek lain yang mungkin berpotensi “menggiring” Haaland ke City adalah sosok bapak. Alf-Inge Haaland, bapaknya Haaland ingin anaknya pindah ke City karena United adalah “musuh bebuyutan” sang ayah, terutama sejarah Roy Keane di dalamnya.

Jangan sepelekan faktor orang tua di dalam proses kepindahan pemain. Kita bisa berkaca dari kasus Neymar dan Barcelona. Neymar da Silva, bapaknya Neymar, adalah salah satu sosok yang “memaksa” Neymar pindah ke PSG demi keluar dari bayang-bayang Lionel Messi.

Oleh sebab itu, di titik ini, jangan sampai Haaland memilih klub berdasarkan “bujukan” faktor eksternal. Masa depan Haaland harus ditentukan oleh hatinya sendiri, di mana dirinya akan merasa diterima seperti Odegaard dan Arsenal.

Terkadang, kenyamanan bermain adalah faktor terbesar dari usaha seorang pemain mengukir sejarah di dalam kariernya. Kenyamanan yang dimaksud adalah seberapa ikhlas klub tersebut melindungi Haaland ketika dirinya bermain buruk, seberapa niat klub tersebut melindungi Haaland dari pemberitaan palsu, seberapa kuat klub bersabar ketika Haaland butuh waktu.

Perkawinan bukan urusan cinta semata. Penyatuan dua insan dalam ikatan janji suci di depan Tuhan adalah usaha untuk menerima semua hal di sekitar kekasih kita. Jika lingkungan tak mendukung, cinta dua insan bisa kandas karena kesalahpahaman.

Odegaard kembali menjadi contoh bijak. Cinta sejatinya adalah Real Madrid. Namun, sebatas cinta tak bisa menggaransi masa depan. Ego individu bakal menggerus cinta itu secara perlahan. Ketika hal itu terjadi, cinta yang lain dalam diri Arsenal menjadi kanal pelampiasan.

Demikian juga dengan sepak bola dan karier pemain. Memaksa “kawin” hanya karena hasrat seperti Neymar dan PSG tidak akan membawa dirimu menuju kebahagiaan menjadi legenda. Hasrat akan menyesatkan, sementara ketulusan akan memandikanmu dengan kebahagiaan.

BACA JUGA Martin Odegaard Menolak Cinta demi Petualangan yang Menantang Bersama Arsenal? dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Analisis Hasil Drawing Semifinal Liga Champions 2018