Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Toyota Avanza Adalah Mobil yang Tidak Akan Pernah Saya Beli

Widya Mahardika Putra oleh Widya Mahardika Putra
28 Mei 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Toyota Avanza bersama saudara seperakitannya, Daihatsu Xenia, dikenal sebagai mobil sejuta umat di Indonesia. Mengapa ia bisa menjadi begitu populer tidak pernah saya mengerti.

Iya, Avanza memang punya tiga baris kursi yang cocok dengan mentalitas kolektif orang Indonesia yang membuat mereka suka pergi beramai-ramai ke mana-mana. Iya, memang Avanza tergolong murah sewaktu ia kali pertama lahir di dunia ini karena ia memang diposisikan oleh Toyota sebagai pengganti Kijang dalam segmen mobil keluarga berharga murah. Ia juga memiliki ground clearance yang lumayan jenjang, membuatnya cocok dengan jalan Indonesia yang kebanyakan rusak atau bila tidak rusak, dipasangi terlalu banyak polisi tidur yang terlalu tinggi; seolah ingin memastikan kaki-kaki mobil Anda berumur pendek. Kalau tidak hancur karena jalanan rusak ya binasa karena overdosis polisi tidur.

Iklan

Namun, tetap saja saya tidak mengerti mengapa ada jutaan orang yang rela berpisah dengan uang hasil jerih payahnya untuk membeli mobil seperti Avanza.

Menurut saya sebagai konsumen, satu-satunya nilai lebih Avanza selain fakta bahwa ia berpenggerak roda belakang hanyalah harga jual kembalinya, yang sebenarnya juga tertolong oleh mengakarnya logo tiga elips Toyota di Indonesia. Kiranya Avanza memang cocok bagi para visioner: ia bisa dengan mudah dijadikan korban ketika Anda kepepet harus melunasi cicilan yang lain atau ketika selingkuhan Anda mendadak merengek minta mobil baru (yang kemungkinan besar lebih bagus dan enak dilihat daripada Avanza).

Posisi Avanza sebagai “mobil murah” pun rasa-rasanya sudah tidak lagi tepat. Harga baru tipe termurah Avanza tahun ini hampir mencapai 190 juta rupiah. Dengan uang sebanyak itu, Anda punya banyak pilihan mobil baru lain, dan bahkan lebih berlimpah pilihan lagi bila mau sedikit repot membeli mobil bekas.

Masalahnya, harga yang tinggi itu tidak diikuti dengan kualitas mobil yang tinggi pula. Avanza bukan mobil yang nyaman dikendarai: suspensinya keras, peredaman suara dalam kabinnya jelek, sehingga ia dijamin mampu memabukkan penumpang yang duduk di belakang.

Dan tidak seperti mobil keluaran merek lain, ketidaklenturan suspensi dan kebisingan kabin itu tidak dikompensasi dengan sensasi berkendara yang menyenangkan. Pengendaliannya tidak presisi, ia suka limbung parah, transmisi otomatis 4-percepatannya sudah primitif, dan tenaga mesinnya tidak besar-besar amat. Mungkin ceritanya akan sedikit beda bila sebagai mobil yang sering dipakai mengangkut banyak manusia dan perlu torsi besar, ia memiliki versi diesel seperti kakaknya, Toyota Innova. Tapi, tentu saja Toyota tidak ingin menggerus marjin keuntungan mereka dengan biaya riset.

Sejatinya cacat terbesar dari mobil ini adalah ia tidak dibekali fitur keselamatan yang memadai, yang menjadi poin penting mengingat ia digunakan banyak orang. Fitur keamanan aktif yang terbukti penting untuk mencegah kecelakaan (dan karena itu diwajibkan ada pada mobil yang dijual di negara-negara yang lebih waras daripada Indonesia) seperti electronic stability control tidak dapat kita temukan pada Toyota Avanza. Bahkan hal sederhana penunjang keamanan macam DRL (daytime running light) dan lampu LED juga tidak ada.

(Kalau mau adil, masalah fitur keamanan ini juga melanda banyak pabrikan mobil lain di Indonesia, tapi Avanza saya kira lebih penting disorot karena populasinya jauh melebihi mobil-mobil lain.)

Bisa jadi ketidakmengertian saya akan popularitas Avanza hanyalah bentuk lain dari rasa tak suka pada mobil ini. Sebagaimana banyak orang, saya sebal dengan jumlahnya yang terlalu banyak. Pepatah “disalip satu tumbuh seribu” berlaku bagi mobil sejuta umat ini, yang memang kadang menyebalkan. Status Avanza sebagai mobil yang “basic” membuatnya sering dijadikan tunggangan oleh pengendara yang “basic” pula. Pengendara “basic” yang saya maksud adalah mereka yang belum lama bisa menyetir, belum berpengalaman mencicipi mobil yang lebih berkualitas, dan bahkan Avanza adalah mobil pertamanya.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Bila Anda jaga jarak kurang dari lima meter saja dengan kendaraan di depan Anda dan tiba-tiba ada mobil yang ngotot menyerobot jalan di depan, hampir bisa dipastikan mobil itu adalah Toyota Avanza. Bila Anda sedang melaju cepat di lajur kanan dan sekonyong-konyong serta semena-mena didahului oleh sebuah mobil di lajur kiri, hampir bisa dipastikan mobil itu adalah Toyota Avanza. Bila Anda sedang lari sore menelusuri pinggiran jalan dan bertemu perempatan dan ada pengemudi mobil yang tidak berperikepelarian dan tidak mau menunggu selama tiga empat detik yang Anda butuhkan untuk menyeberang jalan, maka hampir bisa dipastikan pula mobil itu adalah Toyota Avanza.

Terakhir diperbarui pada 9 Mei 2018 oleh

Tags: avanzatoyota
Widya Mahardika Putra

Widya Mahardika Putra

Artikel Terkait

Calya, Mobil Toyota yang Ganggu Kewarasan Logika Saya MOJOK.CO
Otomojok

Derita Toyota Calya Adalah Penderitaan yang Mengobrak-abrik Kewarasan Logika Saya padahal Ia Adalah Pahlawan Finansial Keluarga Kelas Pekerja

24 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO
Sehari-hari

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Innova Zenix Wujud Kebodohan Finansial- Terbaik Tetap Reborn MOJOK.CO
Otomojok

Mendewakan Innova Zenix Adalah Kesesatan Finansial, Wujud Kebodohan Struktural yang Sangat Hakiki karena Tetap Kalah Aura Dibanding Innova Reborn

10 Maret 2026
Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO
Otomojok

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pertama kali beli mesin cuci di rumah desa, kena julid tetangga MOJOK.CO

Pertama Kali Beli Mesin Cuci di Rumah Desa: Terharu Ringankan Beban Ibu hingga Dianggap Buang Duit oleh Tetangga Julid

10 Juli 2026
Petugas Sensus Ekonomi ditolak masyarakat karena sudah sulit percaya dengan pemerintah MOJOK.CO

Yang Harus Dibenahi dari Sensus Ekonomi usai Petugas Ditolak di Mana-mana, Karena Masyarakat Makin Sulit Percaya sebab Sering Dibuat Kecewa

6 Juli 2026
Selain ke petugas Sensus Ekonomi, warga desa juga jengah dengan program sensus dari mahasiswa KKN MOJOK.CO

Warga Desa Juga Jengah dengan Sensus dari Mahasiswa KKN: Tak Nemu Gunanya, Tak Srawung tapi Korek Privasi Orang

8 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Warga makin malas bayar pajak bukan berarti membangkang, tapi karena ulah pemerintah sendiri MOJOK.CO

Makin Malas Bayar Pajak Bukan Semata Membangkang tapi Akumulasi Kekecewaan, Pemerintah Bisanya Nagih Doang

10 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.