Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Ulasan Smokol

Inovasi Kreatif Kuliner Rakyat yang Perlu Ditiru Para Jomblo

Mumu Aloha oleh Mumu Aloha
8 September 2015
A A
Inovasi Kreatif Kuliner Rakyat yang Perlu Ditiru Para Jomblo

Inovasi Kreatif Kuliner Rakyat yang Perlu Ditiru Para Jomblo

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ibu berjilbab itu bersungut-sungut ketika disambut dengan tawaran, “Dingin atau anget?” Siang itu, sehabis belanja batik di Pasar Klewer, ia mampir untuk mencicipi wedang ronde di depan Masjid Agung Kraton Surakarta. “Ya angetlah!” sahutnya dengan nada agak ketus.

Saya yang duduk di sebelah penjual wedang ronde itu saat menunggu pesanan tahu kupat datang, menyaksikan jelas adegan tersebut. Akhiran -lah yang ia tekankan dengan intonasi agak tinggi, saya kira jelas memiliki makna penegasan, bahwa yang namanya wedang ronde sudah semestinya disajikan dalam kondisi hangat. Dan karenanya, tidak perlu ada perdebatan dan opsi lain tentang hal itu.

Mencoba menempatkan diri pada posisi si ibu, saya sebenarnya juga agak kaget dengan inovasi kecil yang dilakukan oleh penjual wedang ronde tadi. Saya pun bertanya-tanya, apakah di Bandung, misalnya, juga ada penjual bandrek dan bajigur yang menambahkan es sebagai bentuk modifikasi karena, katakanlah, kemajuan zaman yang senantiasa menuntut perubahan?

Belum habis saya membatin, tiba-tiba sudah dihadapkan dengan kejutan lain: tukang tahu kupat menyodorkan sepiring pesanan saya dengan tambahan telur dadar. Weleh-weleh, invonasi apa lagi ini

Asam di gunung garam di laut memang sudah lama “dalam tempurung bertemu jua”, seperti lirik lagu Ona Sutra. Itu sudah menjadi kelaziman. Atau, kalau meminjam istilah kaum aktivis kerohanian Islam di SMA Negeri 1 Solo yang terkenal fundamentalis dan supermilitan, hal itu sudah “sunatullah”. Tapi sejak kapan tahu kupat dipertemukan dengan telur dadar?

Pergilah ke Solo hari-hari ini, sampeyan akan mendapati bahwa es wedang ronde dan tahu kupat telor dadar mulai menjadi simbol kebangkitan kuliner rakyat yang secara mandiri menunjukkan inovasinya. Kafe-kafe luas dengan gaya vintage yang menjamur di berbagai sudut kota pun turut menjajakan menu wedangan, yang mana sebelumnya hanya tersaji di atas gerobak atau angkringan di sudut gelap gang-gang dalam kampung.

Sebutlah Tiga Tjeret, Tradisi, Playground, atau Kafedangan. Eits, tapi jangan terkecoh dulu dengan nama-nama mentereng itu. Spirit mereka tetap merakyat. Bukan hanya dari sisi harga, tapi juga menu makanan yang kerap mengejutkan. Mereka menghadirkan kembali banyak jajanan rakyat yang bahkan sudah jarang dijumpai di pasar. Misalnya prol tape, pis roti bahkan mentho. Yang terakhir ini benar-benar makanan ndeso; terbuat dari singkong parut yang dibikin bulatan kecil-kecil lalu digoreng. Rasanya gurih. Spirit yang tetap merakyat —walau dalam kemasan kafe modern— itu penting untuk ditekankan, sebab amat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan para jomblo, serta para pasangan yang belum bekerja, yang gemar duduk berlama-lama, curhat, atau sok-sokan diskusi filsafat, namun hanya (mampu) memesan segelas teh anget.

Usut punya usut, setelah saya telusuri lebih jauh dengan seorang narasumber lokal, ternyata kota asalnya Pak Presiden Jokowi itu memang gudangnya inovasi kuliner. Tapi jangan bayangkan para chef generasi digital atau barista era “filosofi kopi” yang snob dengan segala bentuk gaya, atraksi dan estetika. Ragam inovasi yang dilakukan oleh para tukang warung ini sungguh sederhana, namun cukup tak terduga dan oleh karenanya mengharukan.

Sebuah warung kakilima di dekat Mangkunegaran, misalnya, mengejutkan saya dengan sajian selat dengan kuah pedas. Sampeyan tahu apa itu selat? Ini sebenarnya menu makanan ningrat. Zaman saya kecil dulu, selat hanya muncul di hajatan orang kaya. Fakta bahwa sekarang selat menjadi menu makanan yang dijual di jalanan, itu saja sudah merupakan inovasi tersendiri. Lha, ini malah melangkah lebih jauh lagi, tak hanya ‘menurunkan’ eksklusivitasnya dari kuliner kelas tinggi menjadi kudapan jalanan, tapi sekaligus juga berani ‘merusak’ rasa aslinya. Sebuah bentuk aksi revolusioner yang sejalan betul dengan ide demokratisasi.

Diduga sebagai modifkasi dari salad ala Barat, selat terdiri atas irisan buncis dan wortel yang direbus, kentang goreng, ditambah telur pindang, daging cincang, daun selada plus kuah asam manis. Selama ini belum pernah ada ceritanya orang makan selat pakai cabe, atau mengganti rasa asam manis dengan pedas pada kuahnya. Walhasil, apa yang dilakukan oleh ibu-ibu penjual selat di warung kecil tersebut sungguh sebuah terobosan yang progresif.

Para jomblo dan orang-orang yang sulit menemukan jodoh sudah semestinya belajar dari kreativitas sederhana namun tak terpikirkan sebelumnya seperti itu. Dengan kata lain, coba lakukanlah hal-hal yang sebelumnya tak pernah sampeyan lakukan. Misalkan saja sampeyan seumur hidup tak pernah mengecat rambut, cobalah kemudian mewarnai rambut dengan warna ungu atau pink. Siapa tahu berhasil menarik perhatian dan lebih mudah dapat pacar. Atau sampeyan selama ini ke mana-mana pakai kaos bergambar Iwan Fals, atau kaos hadiah toko besi bertuliskan “Maju Jaya” lengkap dengan keterangan alamat dan nomer telepon, maka mulai sekarang pakailah kaos ketat dengan potongan leher V yang sangat rendah dan pakai totebag bertuliskan kutipan dari novel-novel klasik. Lalu, nongkronglah di Pasar Santa. Wuih…

Kembali ke soal inovasi-inovasi kecil yang dilakukan para pelaku industri kuliner jalanan di Solo tadi, pada hari yang lain saya menemukan satu lagi: pecel wader. Ketika mendengarnya dari teman, saya langsung terbayang sesuatu yang eksotik. Selama ini khasanah kuliner Nusantara lebih mengenal pecel lele atau pecel ayam. Pecel wader? Sebentar, bukankah wader adalah jenis ikan kecil-kecil yang banyak durinya itu?

Kalau sampeyan cukup akrab dengan wedangan Solo maupun angkringan Jogja, tentu tahu bahwa wader kerap hadir dalam bentuk sate, tapi digoreng. Ketika sampai di lokasi, rasa penasaran saya pun terjawab sudah. Pecel wader ini rupanya populer sebagai sajian di tempat wisata Waduk Cengklik, yang masuk wilayah Boyolali, tapi tak jauh dari Kota Solo. Dan rupanya, yang dinamakan pecel wader itu tak lain adalah pecel sayur yang ditaburi wader goreng!

Akan tetapi, sekali lagi, inovasi-inovasi kecil nan sederhana ini tak dapat dipandang sebelah mata. Para pelakunya memang benar-benar datang dari kalangan rakyat jelata, pemilik warung kakilima dan gerobak dorong, yang sebelumnya tak pernah membaca buku Orange Economy, sebuah risalah tentang ekonomi kreatif. Atau juga berangkali tak pernah tahu bahwa di NKRI sekarang ini ada lembaga yang namanya Badan Ekonomi Kreatif, yang belum lama ini para pemimpinnya dilantik oleh Presiden, namun kemudian tak kedengaran lagi gebrakannnya. Lebih-lebih kreativitasnya.

Iklan

Nah, bagi para jomblo, ayo ikuti strategi inovatif ini agar lekas enteng jodoh! Memangnya situ pada gak bosan “terlalu lama sendiri”?

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: inovasijombloKuliner
Mumu Aloha

Mumu Aloha

Artikel Terkait

Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, Istri Bahagia dan Rumah Idaman jadi Tujuan MOJOK.CO
Kuliner

Kisah Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, demi Istri Bahagia dan Rumah Idaman

21 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO
Esai

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
usaha mie ayam wonogiri.MOJOK.CO
Kuliner

Buka Usaha di Luar Pulau Jawa Kerap Gagal Bukan karena Klenik “Dikerjain” Akamsi, Ada Faktor Lain yang Lebih Masuk Akal

6 Mei 2026
5 Kuliner Dekat Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta, Mojok.co
Pojokan

5 Kuliner Sekitar Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta

27 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja MOJOK.CO

Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja

8 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026
Jawa Tengah dan Bappenas bersinergi dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Pantura dan Pansela MOJOK.CO

Pembangunan Infrastruktur Pantura dan Pansela Jadi Prioritas karena Jateng Punya Banyak Potensi Ekonomi

9 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.