MOJOK.CO Kemiskinan yang mendera hidup membuat orang bisa berbuat di luar batas. Bagi beberapa orang, batas yang mereka tembus adalah mencari pesugihan.

Joko menghela napas panjang. Dia sudah tidak bisa mendengar teriakan para penagih utang yang tiap hari menyalak di depan rumah. Joko sudah hafal kapan waktu mereka datang, jadi dengan sigap dia akan berlari ke belakang rumah dan bersembunyi di rumah warga yang masih bersimpati padanya. Tentu saja Joko tidak hanya berutang pada satu orang, tetangganya pun tak luput ia mintai pinjaman. Itulah kenapa tak semua tetangga mau membantunya lagi.

Bukan Joko menghabiskan hidupnya dengan foya-foya, utang yang ia tanggung adalah peninggalan bapaknya yang lari entah ke mana. Ibunya meninggal sejak kecil, jadi Joko hanya hidup berdua dengan ayahnya. Tapi malang nasib Joko, sudah hidup tanpa kasih sayang ibu, masih harus menerima fakta bahwa bapaknya pencandu judi yang lebih sering setor uang ke bandar judi dibanding mengeruk untung dari dadu.

Joko kehilangan akal. Dia tidak bisa hidup seperti itu terus-terusan. Akhirnya Joko mantap bahwa dia akan menempuh jalan pesugihan. Jalan itu tentu sudah ia pikirkan sejak lama, namun memang Joko tidak punya keberanian untuk melawan Tuhan. Tapi sepertinya kali ini dia tak lagi bisa berpikir jernih.

Joko menemui dukun kondang di desa sebelah. Setelah mengambil simpanan uang yang tersisa, Joko mantap menemui dukun. Setibanya di rumah dukun dan mengutarakan niatnya, Joko diminta oleh sang dukun untuk menyiapkan ubarampe yang diperlukan dan diminta untuk bertapa di salah satu gua yang terkenal di daerahnya. Gua itu memang terkenal sebagai tempat pesugihan, anggap saja namanya Gua Sugiharto.

Baca juga:  Dikuntit Tangan dan Kaki Genderuwo dari Salah Satu Gunung Keramat

Dukun itu hanya berpesan, meskipun ini uang gampang, bukan berarti meraihnya jadi mudah. Tapi Joko bersikeras, apa pun syarat yang diminta, dia bakal siap. Si dukun kemudian bilang bahwa masalahnya bukan hanya syarat, tapi keteguhan hati dan mental Joko bakal diuji. Joko mengangguk mantap, demi kekayaan, pesugihan model apa pun bukan masalah bagi dia.

Pada malam Jumat Kliwon, sesuai arahan sang dukun berangkatlah Joko untuk bersemedi semalam suntuk di gua itu. Sesampainya di Gua Sugiharto, Joko merasakan keanehan. Tempat ini begitu terkenal sebagai tempat pesugihan, kenapa begitu gelap dan sepi? Pikir Joko, karena terkenal maka dia tidak akan bertapa sendirian.

Joko segera masuk gua tersebut. Bau anyir yang menusuk dan udara lembap menyambut Joko. Dia hampir muntah, tapi bayangan keluar dari jerat utang mengalahkan inderanya. Joko segera membakar kemenyan dan menyiapkan sesajen sesuai arahan sang dukun. Joko sempat ragu ketika memulai semedi, apakah dia benar-benar mau menempuh jalan pesugihan?

Keraguan itu segera ia tepis.

Joko begitu khusyuk dalam bersemedi. Niat menempuh pesugihan sudah kuat. Semedi Joko sepertinya menemui hasil ketika ada suara berat yang memanggil dirinya. Joko sempat kaget, namun dia menenangkan diri untuk melihat siapa yang memanggilnya.

Joko membuka mata dan seketika itu juga jantungnya serasa berhenti. Dia melihat pemandangan paling mengerikan dalam hidupnya sekaligus menyesali pilihannya mengambil jalan pesugihan.

Baca juga:  Setelah Puisi “Sontoloyo”, Sekarang Fadli Zon Bikin Puisi “Genderuwo”

Joko melihat genderuwo yang amat besar di depan tempat dia bertapa. Ia sedang menyeringai dan terlihat gigi penuh taring yang berlumuran darah. Genderuwo tersebut meraih sesuatu dan menggigitnya–Joko tersadar itu kaki manusia.

Belum hilang kekagetan Joko, genderuwo tersebut mulai bicara.

Aku njaluk tumbal menungso nek kowe tetep pengen sugih. Nek raiso nyepaki, kowe karo keluargamu sing tak brakot.”

(Aku minta tumbal manusia kalau kamu ingin kaya. Kalau nggak bisa ngasih, kamu dan keluargamu yang kucabik-cabik.)

Tidak butuh waktu lama bagi Joko untuk meraih kesadarannya dan lari dari gua tersebut. Tawa genderuwo yang menggema semakin memacu Joko untuk lari. Dia teringat kata dukun kalau yang ditemui nanti bukanlah demit sembarangan. Si dukun meminta Joko tidak lari. Joko mengabaikannya. Ia memacu motornya dan pergi dari tempat itu, membuang jauh-jauh pikiran tentang pesugihan.

Genderuwo tersebut masih tertawa, lalu lanjut mencabik-cabik tumbal yang diberikan padanya.

BACA JUGA Uji Nyali Berujung Tragedi di Alas Purwo dan juga artikel menarik lainnya di MALAM JUMAT.