fbpx

MOJOK.COAlas Purwo memang dikenal dengan hawa mistis yang terasa bahkan sejak baru masuk wilayah tersebut. Rimba itu memang menyimpan misteri tersendiri.

Bambang memilih untuk lanjut nongkrong ketika sif sorenya berakhir. Di parkiran rumah sakit tempat dia bekerja, banyak para karyawan dan sopir ambulans sif malam yang sedang berkumpul untuk sekadar nongkrong. Bambang merasa aneh melihat Soni Sempak, sopir sif malam saat itu. Oiya, Soni dipanggil Sempak karena ada merek celana dalam yang mirip dengan nama dirinya.

Soni terlihat lesu malam itu, padahal minggu lalu ia terlihat bahagia karena akan berkunjung ke Jawa Timur untuk melamar pujaan hatinya. Dia berangkat sendirian untuk ngobrol dulu, kalau jawabannya positif dia akan membawa keluarganya untuk meresmikan lamarannya. Bambang mengira kalau lamaran Soni ditolak, makanya ia menyodorkan uang kepada Soni.

Bambang: Son, ki ayo aku urunan ciu.

Soni: Lho kok tiba-tiba ngajak urunan ciu? Aku kerja, Pak.

Bambang: Lha, kamu lesu karena lamaran ditolak kan? Mending mabuk wis, terus cerita sambil nangis.

Soni: Matamu suwek mak wek. Lamaranku diterima, Pak. aAku lesu bukan karena itu….

Bambang: Lha terus?

Soni: Aku habis dibentak demit di Alas Purwo, Pak.

Pacar Soni asli Banyuwangi, jadi dia berkunjung ke Banyuwangi untuk menemui orang tua pacarnya. Setelah urusan selesai, Soni lalu pulang kembali ke Wonogiri. Perjalanan super panjang itu dilalui sendirian, tapi Soni tidak takut. Dia memang terkenal punya keberanian tinggi namun suka melebihi batas. Tiba-tiba saja, Soni berpikir untuk iseng untuk pergi ke Alas Purwo malam hari.

Baca juga:  Memburu Hantu Komunisme dengan Semangat Indonesiawi

Soni tidak percaya hal mistis, dia berpikir orang-orang hanya berhalusinasi atau melebih-lebihkan cerita. Soni sering datang ke tempat angker untuk menantang demit lokal untuk berantem. Tak terkecuali Alas Purwo, bagi Soni itu hanyalah cerita rekaan orang agar rimba itu tidak dirambah manusia. Maka Soni bertekad untuk uji nyali di tempat itu.

Sesampainya di daerah Alas Purwo, Soni turun dari mobil dan melihat-lihat tempat tersebut. Anehnya, Soni merasa sedikit ketakutan, tapi perasaan itu segera hilang setelah Soni berpikir dia ketakutan karena tempatnya dingin dan gelap. Soni masih berpikir bagaimana cara menantang demit lokal agar dia bisa ketemu karena selama ini dia selalu gagal. Tiba-tiba saja, ide mbajing muncul di kepala Soni.

Soni punya ide untuk kencing sembarangan sambil berkata kotor di daerah hutan. Soni berpikir kalau ngencingin rumah orang aja bisa bikin marah, apalagi kencing di markas demit. Segera saja Soni memilih tempat melancarkan tindakan kurang ajarnya tersebut.

Tapi Soni lupa bahwa ini adalah Alas Purwo, bukan sekadar kuburan tua yang tidak terurus. Saat Soni bersiap melancarkan aksinya, Soni mendengar ada bunyi langkah berat dan suara menggeram yang begitu keras. Soni melihat sekeliling.

Tidak ada apa-apa.

Mungkin halusinasiku saja, pikir Soni.

Baru membuka kancing celana, Soni melihat salah satu hal paling mengerikan di hidupnya.

Baca juga:  Tak Ada Pocong yang Tak Islam

Di depan Soni seekor harimau putih yang lebih tinggi daripada dirinya, dengan taring panjang tajam, menatap Soni penuh amarah. Soni berdiri mematung penuh ketakutan, sambil membatin:

Gusti, aku durung rabi….

Harimau tersebut berjalan ke arah Soni yang mematung. Yang lebih buruk, di sekeliling Soni dipenuhi berbagai macam demit. Ada pocong, macan dan ular jadi-jadian, serta genderuwo. Soni kali ini berhasil membuat marah seisi Alas Purwo.

Harimau tersebut membuka mulutnya, dan tiba-tiba berkata kepada Soni, “Kalau kamu berani, lakuin. Tapi aku nggak jamin mereka bakal diam.” (Aslinya harimau ngomongnya pakai bahasa jawa, tapi diterjemahin.)

Soni hanya bisa berkata, “Nggak, Mbah… ampun….”

Harimau putih tersebut balik badan lalu menghilang, diikuti demit-demit yang lain, meninggalkan Soni sendirian di tengah Alas Purwo. Soni lalu berlari terbirit dan menyalakan mobil.

Selesai bercerita, seisi tongkrongan pada tertawa terbahak-bahak. Soni hanya mendengus sembari mengutuk temannya malah menertawai kesialannya. Bambang berkata, “Ealah, Soni Sempak, pacarmu ngambek aja kamu bingung, kok sok-sokan nantang demit Alas Purwo. Ora setil kowe ki. Asli.

BACA JUGA Arwah Korban Kecelakaan yang Masih Betah di Rumah Sakit Horor dan artikel menarik lainnya yang bagusnya dibaca tengah malam di MALAM JUMAT.



Tirto.ID
Loading...

No more articles