• 387
    Shares

MOJOK.CO – Ada dua slogan yang melekat erat dalam kehidupan rakyat biasa pada zaman Orde Baru. Asal-bapak-senang dan kalau-bisa-dipersulit-kenapa-dipermudah.

Nggak usah banyak berharap Gen Z alias generasi pasca-milenial akan kenal yang namanya orde baru. Generasi milenial yang mengalami orde baru dan peralihan menuju era (yang katanya) reformasi aja belum tentu bisa cerita.

Orde Baru diceritakan pada generasi now dengan gaya dan istilah yang hampir tidak lagi dikenali. Dari otoriotarianisme sampai hegemoni kekuasaan digambarkan bagai novel dengan genre crime history.

Tapi yang namanya novel, sebagian orang hanya akan mengangap sebagai cerita fiksi yang berkesan. Paling banter akan bilang: oh, based on true story ya? Tapi ya cuma sambil lalu aja.

Jadi kalau tiba-tiba diajak menolak kembalinya Orde Baru, apa ya sanggup?

Saya sendiri mengalami orde baru hingga SMA, jadi pengalaman saya bersama orde baru tidak begitu mendalam. Tapi, saya masih ingat dan bisa menceritakan zaman Orde Baru berdasarkan pengalaman saya sendiri dan orang yang ada di sekitar saya.

Yang paling bisa diceritakan dan dibandingkan dengan zaman sekarang dari Orde Baru adalah birokrasinya yang luar biasa. Zaman itu ada dua slogan yang menggaung dan melekat erat dalam kehidupan rakyat biasa. Hal itu membuat mereka semua (termasuk saya) enggan berurusan dengan yang namanya “birokrasi”.

Slogan yang pertama adalah ABS alias Asal-Bapak-Senang, yang merupakan ciri utama birokrasi saat itu. ABS diterapkan dari level paling rendah hingga level tertinggi birokrasi negara. Hal ini mungkin akan dialami oleh para bawahan, yang tentu saja berimbas pada rakyat.

Di sini, bawahan akan berusaha sekuat tenaga (kalau nggak kuat masih pinjem tenaga orang lain) untuk menyenangakan hati atasannya. Jadi tingkat pengukuran prestasi pegawai adalah dengan membuat atasan hidup nyaman dan bahagia.

Sebetulnya nggak cukup atasan aja yang dilayani, tapi pasangannya (suami atau istrinya) juga anak-anaknya (kalau ada).

Saya pernah bertemu dengan bawahan yang berusaha menyenangkan hati atasannya. Sang Atasan minta dibelikan rokok di warung pada bawahanya. Dari mana saya tahu cerita ini? Jawabanya adalah: karena ibu saya yang punya warung.

Baca juga:  Saatnya Generasi Milenial Berontak Dituduh Generasi “Rawan”

Apabila dilihat sekilas, itu adalah perintah yang mudah untuk dilakukan. Tapi, tidak semudah itu Fulgensio. Untuk sekedar disuruh-suruh, sebuah institusi biasanya akan menggunakan Tenaga Pesuruh Kantor.

Nah, karena yang diperintah adalah bawahannya, berarti ada makna tersembunyi. Ketika disuruh, bawahan tidak akan berani bertanya: rokok merek apa, berapa bungkus, atau pertanyaan teknis lainnya.

Ia akan langsung mencari informasi pada rekan kerja: Pak Kepala kalau nyuruh beli rokok bagaimana prosedurnya? Dan perlu diketahui, biasanya uang bawahan nggak diganti, dan bawahan juga nggak berani minta, sedih nggak?

Tidak sekedar urusan pribadi, proses-proses birokrasi juga tidak lepas dari urusan Asal Bapak Senang. Ini mungkin penyebab Repelita banyak yang terbengkalai. Pertanyaan cerdasnya adalah: apa yang dimaksud dengan Repelita?

Mari sejenak kita tinggalkan Repelita dan berkunjung ke pasar tradisional. Dalam sebuah sidak atau peninjauan pasar oleh pimpinan, sebuah skenario selalu diterapkan agar kunjungan berhasil dengan memuaskan.

Jadi, rombongan (peninjauan selalu dilakukan ramai-ramai dan siang hari) hanya akan lewat jalur yang ditetapkan. Alasan utamanya bukan karena faktor keamanan, tapi agar rombongan tidak melihat sisi kelam pasar yang becek dan bau, meskipun tidak musim hujan.

Kalau diceritakan, akan banyak kisah tentang slogan ABS yang bisa ditemukan. Tapi ada baiknya kita menuju slogan kedua yang tidak kalah spektakuler. Dalam layanan birokrasi masa itu akan bisa kita temukan istilah, “Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?”

Hal tersebut pernah saya alami ketika mengurus surat-surat pada zaman Orde Baru. Saat itu saya mengurus surat izin di sebuah instansi (tentu saja bukan punya saya, saya masih terlalu muda dan belum punya KTP).

Dalam aturan resmi yang tertulis di meja layanan, biaya pengurusan adalah 25 ribu rupiah. Tapi setelah berkas lengkap, saya diminta 300 ribu untuk biaya tanda tangan kepala kantor dan kepala bagian. Dan tentu saja, biaya tambahan itu tidak ada kuitansinya alias pungli.

Baca juga:  Titiek Soeharto Gabung Tommy Soeharto di Partai Berkarya, Prabowo Tidak Sekalian?

Pertanyaan supernya adalah: apakah yang dimaksud dengan pungli?

Udah, nggak usah mikirin pertanyaan nggak mutu tersebut. Pertanyaan sesungguhnya adalah: apakah saya bisa menolak memberikan pungli? Tentu saja bisa, tapi akan memberikan efek yang menyebalkan. Bagian pelayanan dengan jujur bilang, kalau tidak bayar, berkas tidak akan diprioritaskan.

Pengalaman serupa dialami guru SD saya ketika mengurus surat-surat (saya tidak tahu, dan nggak tanya surat apaan) di tingkat provinsi. Di dalam map berisi berkas, akan diselipkan sejumlah uang dalam amplop agar berkasnya cepat diproses.

Kalau tidak melakukan hal itu, maka bisa menunggu berhari-hari baru selesai. Sementara itu, dalam masa menunggu, ia harus mengeluarkan biaya ekstra untuk penginapan dan makan. Jadi akan lebih hemat dan murah bila hanya memberikan amplop.

Sebetulnya banyak layanan birokrasi yang menggunakan kedua slogan tersebut. Ada yang salah satunya, ada juga yang menggunakan perpaduan di antara keduanya.

Emangnya nggak ada layanan yang cepat, tapi nggak perlu bayar lebih buat pungli?

Layanan semacam itu tentu saja ada, tapi membutuhkan persyaratan khusus. Asalkan kamu adalah kerabat dari pejabat tinggi, kamu akan dilayani bak raja. Nggak perlu antri, apalagi keluar duit, bahkan kamu akan dijamu makan siang lezat dengan cuma-Cuma. Dan yang lebih hebat, nanti kalau pulang masih diberi amplop buat sangu beli jajan di jalan.

Sebetulnya birokrasi itu mudah dan murah, yang bikin mahal adalah “biaya kenakalan” birokrasi itu sendiri.

Jadi, kalau kamua masih menemukan beberapa hal yang diceritakan di atas, berarti kamu masih berada di atmosfer zaman Orde Baru. Paling tidak, beberapa cerita di atas bisa membuat yang belum tahu jadi bisa kenal dengan yang namanya Orde Baru.

Ingat ada pepatah: tak kenal, maka tak sayang. Siapa tahu setelah mengenal jadi sayang. Terus acara menolak Orde Baru berubah menjadi acara penyambutan.

Nah, di sini mungkin saya bakal repot kalau harus ikut tanggung jawab, saya kan cuma ngenalin doang, urusan jadian apa nggak, kan terserah.

  • 387
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles