• 36
    Shares

MOJOK.CO – Kenapa sih generasi milenial disebut-sebut sebagai generasi paling rawan” cuma karena dibilang hobinya galau dan sedih mulu?

Apakah setelah adanya rekognisi atas generasi milenial lewat kartu pra kerja dan rumah siap kerja  yang secara lantang dijadikan program kampanye dalam debat cawapres silam, milenial akan berhenti mengunggah instastory hitam polos dengan tulisan super kecil dan tak lagi membagikan lagu-lagu sadboy nan edgy dari Spotify?

Eits, belum tentu~

Menjadi kaum yang menghuni sepertiga populasi penduduk di Indonesia memang terdengar sangat seksi. Kalian, bonus demografi pemegang masa depan bangsa selanjutnya—katanya.

Lalu semangat itu kita bawa ke bursa lowongan kerja, promo apartemen dan kos-kosan murah, yang nyari informasinya pun harus sambil nangkring di kedai kopi ber-WiFi yang harga satu gelas minumannya cukup untuk dua porsi ayam geprek mozarella sambil unduh film dari Indoxixixi, rasanya kok frasa seksi tadi jadi nggak ada bonus-bonusnya.

Apa betul, semua kebingungan dan ketidakpastian khususnya soal finansial tadi jadi alasan kenapa milenial disebut-sebut sebagai generasi paling “rawan”, cuma karena dibilang hobinya galau dan sedih mulu?

Menurut Om William Strauss dan Neil Howe dalam bukunya Generations: The History of America’s Future, generasi milenial terdiri dari individu-individu yang lahir antara tahun 1982 dan 2004, atau individu yang mencapai kedewasaan pada transisi abad ke-21.

Milenial tumbuh dewasa ditemani dunia yang berkembang secara masif lewat teknologi dan jaringan komunikasi global. Sebagai generasi yang paling beragam secara etnis, generasi milenial juga diprediksi jadi generasi yang paling toleran terhadap perbedaan.

Dibesarkan oleh generasi yang membangun inovasi-inovasi di dunia, mereka juga diprediksi jadi generasi yang paling kreatif. Akhirnya milenial “dipaksa” harus punya ide-ide yang lebih variatif dan belum ada sebelumnya.

Meski dituntut harus lebih kreatif dari generasi sebelumnya, generasi ini lebih optimis dalam memandang dunia karena dibesarkan dalam idealisme para helicopter parents atau orang tua dari generasi sebelumnya.

Kalau kata Prof. Rhenald Kasali dalam Strawberry Generation, manusia punya dua jenis mindset yaitu fixed dan growth mindset.

Baca juga:  Jokowi Atau Prabowo: Siapa yang Lebih Cerdas Berkampanye?

Fixed mindset atau orang-orang yang pemikirannya tetap alias konvensional cenderung sangat menjunjung ijasah dan gelar pendidikan, sementara growth mindset atau orang-orang yang lebih fleksibel tidak membatasi kapasitas dan kapabilitas seseorang sebatas gelar dan angka yang diperoleh di bangku pendidikan formal-bagi kelompok ini, yang lebih penting adalah soal dampak yang bisa dihasilkan.

Sayangnya, saat ini kita masih sangat didominasi oleh orang-orang dengan fixed mindset yang sebetulnya problem-oriented, tapi belum tentu solution-oriented seperti apa yang selalu digarisbawahi oleh orang-orang dengan growth mindset.

Milenial juga sering banget dihadapkan dengan pertanyaan yang lebih menyeramkan dari White Walkers-nya Game of Thrones; “lagi sibuk apa sekarang?”

Dan kalau kamu belum dapet kerja alias pengangguran, atau gajimu di bawah ekspektasi, atau kamu belum punya aset kendaraan atas nama pribadi, atau statusmu belum kewong, langsung deh kepercayaan dirimu jatuh ke lantai.

Bahkan Valyrian Steel nggak bisa melindungimu dari pertanyaan macam ini. Tentu yang ingin didengar oleh orang lain bukan soal apa yang sedang kamu kerjakan, tapi apa yang udah dan bakal kamu peroleh dari apa yang kamu lakukan.

Mereka lebih mudah memahami dan mengkalkulasi apa yang terlihat secara kasat mata dibanding nilai-nilai yang kamu perjuangkan atau pengaruh intangible yang sudah kamu hasilkan.

Dan, voila, masyarakat melihat sebagian kecil dari diri kita-seperti identitas keprofesian kita, jabatan dan aset yang kita punya misalnya—dan menggunakannya untuk menakar nilai kita sebagai manusia.

Hidup di dunia serba materialis, tanpa sadar kita juga akhirnya mengeksploitasi diri sendiri dan mereduksi nilai diri kita sebatas persoalan materi semata: ketika kamu menilai harga dirimu sendiri berdasarkan produktivitas (dan merasa bersalah kalau kamu nggak produktif secara materil), produktivitasmu berorientasi profit, dan menurutmu bekerja keras adalah satu-satunya penghasil kebahagiaan.

Yah, saat itulah kapitalisme berhasil menempatkan nominal tak kasat mata yang menempel di jidat kita-sebagai makhluk yang mengeksploitasi diri demi nominal yang bisa kamu hasilkan dan “membeli” tempatmu di dalam struktur sosial.

Baca juga:  Buka-Bukaan Biaya Kampanye Pilpres Jokowi-Prabowo, Kubu Jokowi Habis 601,3 Miliar, Kubu Prabowo 211,5 Miliar

Dan terkadang, sebenarnya kita mungkin nggak lebih butuh sama aset-aset tersebut dibanding rasa hormat dan perhatian yang diberikan oleh orang lain saat kita udah punya semua itu.

Kalau mau dilihita lebih jauh, sebenarya isu finansial bisa jadi salah satu alasannya, tetapi bukan alasan utama kenapa generasi milenial dibilang generasi “rawan”.

Ya maklum sih, cara pikir yang menilai self image individu sama dengan materi itulah yang bikin generasi milenial jadi susah buat nggak galau. Setelah self image jadi rendah akibat masalah materi tadi, banyak dari milenial yang jadi nggak berani buat mencoba dan mewujudkan ambisi mereka yang sesungguhnya.

Semuanya jadi soal kompetisi materi buat bertahan hidup. Bukan kolaborasi saling dukung buat berkontribusi memberikan dampak positif ke masalah-masalah aktual yang ada di sekitar kita. Contoh paling sederhananya, kita lebih sibuk mana; membantu mengatasi kemiskinan atau justru menghindarinya?

Setelah baca sampai sini, apa kita harus berkontemplasi sambil nyalain lagu galau buat mengiringi rekaman hujan rintik-rintik lalu diunggah di close-friends?

Sah-sah saja sih sebetulnya. Cuma yang perlu digarisbawahi dari menjadi milenial adalah, sebetulnya kita udah punya semuanya: kreativitas, passion, idealisme, optimisme, you name it.

Supaya kita bisa bertahan hidup sambil tetap berbahagia di dunia yang tantangannya lebih “unik” dari generasi sebelum kita ini, kita bisa buat definisi sukses sendiri, bukan hanya memenuhi standar-standar materil tetapi juga tentang dampak yang bisa kita hasilkan untuk orang banyak.

Tak lupa, passion juga perlu berkawan dengan sikap realistis: bidik kesempatan-kesempatan yang ada sambil menghidupkan kesadaran kalau diri kita sebagai individu bukan cuma soal materi dan pencapaian tetapi juga kemampuan yang harus terus diasah dan apa yang kita yakini. Sekaligus gimana kita menerjemahkan semua itu ke hal-hal nyata.

Lawan saja narasi “rawan” tadi pelan-pelan dengan canda tawa yang kritis, serius, tapi santai dan nggak grasa-grusu macam fanboy capres di kolom komentar postingan Mojok kalau nanggepin guyonan.

  • 36
    Shares


Loading...



No more articles