• 168
    Shares

MOJOK.CO Mentang-mentang mau pilpres, tiba-tiba saja para politisi sangat perhatian pada Milenial. Dikit-dikit milenial, dikit-dikit milenial. Sampai-sampai milenial jomblo aja dibikin jadi alat jualan buat dapat suara. Sebenarnya tahu apa sih mereka soal milenial?

Sejak pertama muncul wacana dari para Politisi untuk (((menarik))) hati milenial, sejujurnya saya sudah skeptis. Apalagi yang mereka tunjukan untuk menarik hati para milenial itu cuman perubahan penampilan dari yang dulunya pakai baju dinas formal, jadi tiba-tiba pakai baju gaul dan kalau ngomong ada kata-kata zaman now zaman now nya. Hassshh ramashook.

Kenapa sih kita perlu skeptis? Ya bayangin aja, kenapa coba baru waktu mau pilpres aja rame-rame cari perhatian ke Milenialnya, kemarin-kemarin kemana aja kalian semua~ Para politisi ini kok mirip banget si Dia yang cuman datang kalau ada butuhnya aja~

Tapi kali ini saya benar-benar ngerasa cringe banget sama Bapak-bapak Politisi ini. Kok bisa-bisanya mereka masuk ke ranah personal dengan membawa-bawa status jomblo seorang milenial sebagai alat jualan untuk menarik hati kami.

Masa katanya, banyak Milenial menjomblo karena masalah ekonomiIshh ishh ishhhhhh persoalan cinta Milenial tidak sesederhana itu, Pak!

Gini ya Pak Politisi, ada beberapa hal yang perlu diluruskan. Pertama, tidak semua masalah itu penyebabnya masalah Ekonomi.

Kalau Bapak pikir gagalnya percintaan kami disebabkan oleh persoalan ekonomi (nggak punya pekerjaan, nggak punya gaji besar, dll), dan keberhasilan hubungan cinta hanya bisa dilakukan kalau punya pekerjaan yang mapan, mon maap mungkin bapak teringat pengalaman masa lalu sama mantan yang diputusin karena masalah ekonomi ya? hehe. Cinta kami itu tulus pak, nggak matre~ kayak Bapak.

Baca juga:  5 jenis Investasi yang Cocok untuk Anak Muda Jomblo

Kedua, kalau Bapak Politisi prihatin dan peduli sama banyaknya Milenial yang masih menjomblo–dan benar-benar pengin ngasih solusi supaya Milenial nggak jomblo lagi, saya mau deh kasih tahu penyebab utama mengapa banyak sekali dari kami–Milenial–masih jomblo. Tapi, kalau sudah dikasih tahu, beneran dicariin solusinya loh ya Pak…

Jadi gini…

Penyebab Milenial banyak yang jomblo itu karena…

… hobi kami adalah suka falling in love with people we can’t have :’)

Masnya cinta, Mbaknya nggak–atau sebaliknya.

Atau kalau pas dua-duanya cinta, eh ndilalah nggak ada yang berani nembak dan bikin komitmen, akhirnya hubungannya gitu-gitu aja. Kelihatannya kayak yang-yangan, tapi kok diakuin pacar ya nggak bisa.

Tapi yang lebih parah sih, alasan kami menjomblo adalah karena terjebak zone-zone relationship yang menyebalkan–kayak kakak-adik zone, teman curhat zone, atau tukang ojek zone–yang tiap ditanya kepastian kita bakal pacaran apa nggak, jawabnya cuman, “Aku sayang banget sama kamu, kamu udah kayak adik aku sendiri.” atau  “Aku tuh sayang banget sama kamu, tapi aku takut kehilangan kamu kalau kita pacaran, lalu kita putus.” :(((

Jadi.. Gitu pak.

Saya seriusan itu pak, itu semua adalah penyebab kenapa banyak dari milenial tetap menjomblo sampai sekarang. Ini masalah nyata percintaan milenial di Indonesia. Saya dapat itu dari pengalaman saya selama bertahun-tahun di akar rumput, Pak. (akar rumput apaan dah wkw)

Kalau bapak nggak percaya, coba aja kalau tipe-tipe hubungan kayak gitu dihitung sebagai pacaran, saya jamin deh nggak ada satu pun milenial yang disebut jomblo di Indonesia.

Baca juga:  Membuktikan Cinta Secara Ilmiah

Gimana Pak Politisi, bisa kasih solusi tentang masalah ini nggak?

Kalau saya boleh usul, daripada menjanjikan program kesejahteraan ekonomi sebagai solusi dari masalah kejombloan seorang milenial, lebih baik bapak bikin program yang isinya kewajiban untuk saling mencitai satu sama lain. Jadinya, nggak ada lagi tuh kejadian cinta bertepuk sebelah tangan, atau jatuh cinta kepada orang yang tidak bisa kita miliki. Widiiih pasti laku itu Pak! Saya sebagai Milenial mendukung!1!

Lagian kok ya aneh banget, bisa-bisanya Bapak bikin korelasi keterbatasan lapangan pekerjaan sebagai penyebab anak muda nggak punya pacar.

Saya sering lihat kawan-kawan saya yang belum bekerja tapi mereka tetap bisa-bisa aja yang-yangan. Sementara saya nih pak, IYA SAYA, sudah kerja kok tetap nggak punya pacar. Eh malah curhat.

Tapi enak juga sih kalau misalnya pakai logika Bapak Politisi tentang korelasi masalah ekonomi dengan banyaknya Jomblo di Indonesia ini. Artinya, negara ikut bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah kejombloan milenial juga.

Sebentar sebentar. Bapak yakin nih mau repot-repot ngurusin persoalan cinta warga negaranya??? Urusan Negara aja banyak yang belum beres loh, Pak.

Oh iya, ngomong-ngomong soal cinta dan kerja, Bapak-bapak Politisi ini saya lihat juga sok tahu kalau ngomongin pekerjaan ke Milenial, makanya sering bikin blunder.

Saya kasih tahu rahasia kalau mau ngomongin pekerjaan ke Milenial nih pak.

Sebelum susah-susah nawarin program ekonomi yang dianggap dibutuhkan oleh Milenial, Bapak Politisi itu seharusnya tahu dulu kalau kami anak muda Milenial ini malas, Pak. Kami tidak suka bekerja. Penginnya cuman guling-guling di kasur seharian aja wqwq.