Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Status

Ketika Backpacking Berubah Menjadi Beg-Packing

Redaksi oleh Redaksi
1 Maret 2018
A A
Bule-Ngamen-MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Perlukah kita meninjau kembali kebijakan bebas visa demi menekan terjadinya beg-packing?

Belakangan, linimasa di media sosial diramaikan dengan berita turis-turis asing yang mengaku kehabisan uang dan memilih untuk mengemis atau mengamen demi melanjutkan petualangan holiday-nya di Indonesia.

Sebenarnya, kabar ini bukanlah kabar baru. Namun, peristiwa ini kembali hot setelah dua orang WNA asal Selandia Baru diwartakan kehabisan ongkos. Rencananya, kedua WNA ini hendak menuju Cirebon dari Jakarta.

Dengan bantuan polisi, WNA ini dibawa ke Cirebon menaiki truk setelah ditemukan di tepi jalan akibat kehabisan ongkos di Gardu Tol Tanjung Duren Jakbar. Adalah Ipda Erwan yang membantu mereka, sebelum akhirnya dititipkan kepada si pengemudi truk.

Sebelumnya, pada bulan September 2017, dua bule asal Republik Ceko dan Slowakia mengalami hal yang sama dan mengaku tak bisa membayar hotel di Pekalongan.

Sebuah akun Twitter bernama @IvanRT beberapa hari lalu mengunggah sederet peristiwa serupa, di mana para turis asing tampak mengemis atau mengamen dengan dalih kehabisan ongkos.

Untuk informasi saja, inilah contoh beberapa 'turis asing' yang kedapatan mengemis/mengamen di Indonesia. Trit ini saya buat BUKAN UNTUK JADI AJANG CACI MAKI, tapi untuk jadi ajang diskusi dan tukar pendapat, khususnya yang berkaitan dengan kebijakan bebas visa.😀👍🤝 pic.twitter.com/CzHFvpE50A

— Ivan RT (@IvanRT05) February 26, 2018

Fenomena ini kemudian dikenal dengan nama beg-packing (plesetan dari bentuk asli backpacking) bukan tanpa alasan. Tepat seperti tindakan para turis asing, beg-packing berasal dari kata begging dan packing. Bukan hanya di Indonesia, para beg-packers ternyata bisa ditemukan di Thailand, Singapura, hingga Vietnam.

Sebenarnya, apa yang menjadi penyebab fenomena ini terjadi? Apakah ini merupakan dampak dari kebijakan bebas visa?

Kemungkinan ini ditepis oleh Kabag Humas dan Umum Ditjen Imigrasi, Agung Sampurno. Menurutnya, ketentuan memberikan visa bebas dan dampak yang ditimbulkan dari datangnya orang asing adalah hal terpisah. Dengan kata lain, tidaque ada korelasinya, my lov~

Tapi sesungguhnya, apakah setiap bule yang masuk melalui proses pengecekan?

“(Pengecekan) Itu wajib. Kita ada standar. Jadi dalam pemeriksaan ada document assessment dan passenger assessment. Uang yang dia bawa, kartu kredit yang dia punya, travel check juga (diperiksa),” tambah Agung.

Meski demikian, kebijakan bebas visa di Indonesia tentu berbeda kondisinya dengan para WNI saat ingin berkunjung ke negeri tetangga. Kalau you-you pernah main-main ke luar negeri, pasti ngeh dengan ketentuan yang mengharuskan kita menunjukkan tiket pulang dan pergi, itinerary, hingga nominal uang yang kita bawa (dengan jumlah minimal).

Kira-kira, beginilah gambaran keperluan kita untuk main-main ke negeri orang~

Iklan

@IvanRT05: Ketika kita para warga negara Indonesia yang memiliki pekerjaan tetap, memiliki pendapatan tetap, tidak memiliki catatan kriminal, tidak mengidap penyakit menular berbahaya ingin liburan ke negara asal turis tersebut, kita harus mengumpulkan banyak dokumen untuk sebuah visa.

Dokumen-dokumen tersebut antara lain:

  1. Surat keterangan kerja/kuliah.
  2. Rekening koran, 3-6 bulan terakhir.
  3. Surat keterangan catatan kepolisian.
  4. Surat sponsor (kalau diundang).
  5. Surat izin kerja.
  6. Bukti penerbangan kembali ke negara asal, dan lainnya.

Disebutkan, ‘perjuangan’ WNI yang ingin berkunjung ke luar negeri ini ternyata tidak melulu sama perlakuannya dengan turis asing yang ingin masuk ke Indonesia.

@IvanRT05: Pada saat yang bersamaan, ada turis asing dari negara yang bebas visa wisata ke Indonesia, tidak perlu visa, tinggal ‘klak klik’ beli tiket lalu pergi menuju Indonesia. Mereka tidak perlu berkeringat mengurus visa, tidak perlu was-was menunggu keputusan visa.

Dengan adanya kebijakan bebas visa, fenomena ‘begpacker’ ini wajar saja terjadi. Mungkin seperti ini rinciannya:

-Bebas visa= turis asing tidak dicek dokumen keuangannya.

-Wisman= SEMUA turis asing, baik yang bermodal ataupun tidak termasuk yang berkeinginan mengemis.

-Jumlah wisman di Indonesia naik = termasuk para turis yang mungkin suatu saat ‘harus mengemis’ di Indonesia karena kehabisan modal. Seperti yang saya jabarkan di trit sebelumnya.

-Kalau mereka harus memohon visa, mungkin mereka bahkan ‘tidak diizinkan’ tiba di Indonesia.

-Untuk memohon visa wisata RI, para turis asing harus melampirkan rekening koran selama 3 bulan.

-Untuk mereka yang secara jelas dan gamblang tidak ‘memiliki modal’ yang cukup untuk liburan, visa wisata sebaiknya tidak diberikan SEBAGAIMANA hal tersebut berlaku untuk WNI juga.

Cuitan-cuitan di atas umumnya didukung oleh netizen yang turut kecewa melihat fenomena beg-packing.

@arisaja: Kebijakan bebas visa mending dikaji ulang. Buat apa bebas visa kalo gak ada reciprocity? Bebas visa buat narik wisatawan asing (yg berduit), tapi kalo yg datang kere kayak gitu ya rugi.

@BimaValentino: Situ yg keliling, sini yg pusing.

@ailrivsavitri: Pengen banget menghapus pemikiran ‘bule punya derajat lebih tinggi dari WNI’ banyak WNI ramah ke WNA tapi mereka bersikap sebaliknya ke WNI

Hmm hmm hmm~

Sepertinya, memang sudah saatnya pemerintah lebih memperhatikan fenomena ini karena terlalu sering berulang. Jika untuk mengunjungi negeri seberang saja kita harus berdebar-debar menanti visa, tidakkah sebaiknya hal ini diberlakukan juga pada turis asing?

Namun demikian, di lain sisi, kebijakan bebas visa memang dapat meningkatkan jumlah turis yang berwisata ke Indonesia.

Ah, perkara bule-bulean ini sungguh seperti memakan buah simalakama~

Terakhir diperbarui pada 1 Maret 2018 oleh

Tags: backpackingbebas visbeg-packingBuleDitjen Imigrasikehabisan ongkos
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos MOJOK.CO
Esai

Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos

24 April 2026
Paspor mojok.co
Ekonomi

Paspor Masa Berlaku 10 Tahun Mulai Diterapkan, Simak Aturan Lengkapnya

12 Oktober 2022
Rontak-rantek Banyumas
Liputan

Rontak-rantek, Menu dari 15 Rumput Liar di Baturaden yang Membuat Bule Tinggalkan Roti

31 Mei 2022
Ketika Katharina Stögmüller Bertemu Agus Mulyadi
Video

Ketika Katharina Stögmüller Bertemu Agus Mulyadi

30 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kera berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan MOJOK.CO

Riset: Kerja Berlebihan (Workaholic) Tidak Selalu Merusak Kebahagiaan, Asalkan Dapat 2 Situasi Ini di Lingkungan Kerja

6 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.