MOJOK.CO – Gara-gara penulis punya suami bule, orang-orang di sekitarnya menuntut jadi seleb medsos.
Kalau saya perhatikan, makin belakangan ini makin banyak orang Indonesia yang menikah dengan WNA. Mau itu sama bule Eropa, Amerika, Australia, bahkan oppa-oppa Korea.
Dari yang saya amati dan data yang ada, paling banyak memang perempuan WNI yang menikah dengan laki-laki bule. Termasuk saya.
Nah, banyaknya perempuan Indonesia yang menikah dengan bule, membuat masyarakat punya pandangan sendiri. Bahwa menikah dengan bule, adalah tiket cepat terkenal, cara mudah jadi seleb medsos. Alamak!
Keberadaan sosmed mau itu Instagram, TikTok, atau YouTube harus diakui membuat sebagian orang-orang Indonesia menilai semua bule pasti ganteng, pintar, kaya, dan romantis. Maka dalam pandangan sebagian masyarakat, kisah perempuan yang menikah dengan bule ibarat kisah Cinderella yang happily ever after.
Tuntutan kehidupan jadi konten
Ibaratnya, perempuan Indonesia yang menikah dengan laki-laki bule itu layak untuk dirayakan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Apalagi kalau anak campurannya sudah lahir, atau yang bersangkutan diboyong suami tinggal di luar negeri, makin heboh dan tenarlah sekeluarga di kalangan warga Indonesia.
Bahkan, anak dan pasangannya jadi punya basis penggemar sendiri. Nggak jarang juga yang diundang masuk TV untuk tampil di talk show atau kolaborasi sama influencer top. Pokoknya, semua sisi kehidupan harus jadi konten.
Fenomena inilah yang membuat saya, perempuan Indonesia yang juga bersuamikan bule kena ‘imbasnya.
“Mbak, sesuk lek wes pindah karo bojo sampean nang Swiss nggaweo TikTok, engko tak follow (Mbak, besok kalau sudah pindah ke Swiss sama suami, bikin TikTok aja, nanti saya follow),” kata tetangga sepulang saya akad di masjid dengan laki-laki asal Swiss pada 2024 silam.
Saran kayak gini bukan cuma sekali dua kali saya terima. Barista hotel, pegawai KUA, sampai Mbak-mbak yang ambil paspor bareng saya di kantor imigrasi Surabaya juga pernah mengutarakan hal serupa. Intinya, mereka usul supaya saya mengikuti jejak para selebgram dan selebtok keluarga campuran biar jadi terkenal.
Kalau sudah kayak gini, biasanya saya cuma tersenyum sambil tarik napas.
Maraknya konten keluarga dari pernikahan campuran semakin menguatkan persepsi kalau nikah sama bule pasti enak-enak aja isinya: duit banyak, bisa jalan-jalan ke luar negeri, kalau punya anak pasti cakep, dan sebagainya.
Dan kalau sudah disorot media, otomatis jadi artis dan dapat banyak cuan.
Tidak semua yang menikah dengan bule itu punya kapasitas jadi seleb medsos
Mimpi seperti inilah yang membuai para penonton konten. Efek sampingnya, orang Indonesia yang nikah sama bule sering jadi sasaran kepo khalayak. Mulai dari dicecar pertanyaan ketemu di mana, gimana caranya bisa dapat bule, sampai disuruh jadi seleb medsos biar orang-orang tahu setiap hari ngapain aja dan wajah anaknya nanti kayak gimana.
Realitanya, nggak semua orang yang menjalani pernikahan campuran punya kapasitas jadi seleb. Saya salah satunya.
Saya kasih dua faktor yang paling umum dulu sebagai alasannya.
Pertama, nggak semua orang yang nikah sama bule punya kehidupan menarik untuk di-share. Contohnya saya. Dari zaman pacaran sampai sekarang, kegiatan saya dan suami lebih banyak diisi dengan bekerja.
Pas weekend-pun, kalau keluar paling cuma nonton atau belanja bahan makanan. Aktivitas kayak gini bisa dilakukan semua orang. Jadi, nggak ada yang spesial kalau saya jadikan konten. Kecuali ada orang yang saking Anglophilia plus gabut-nya pengen lihat Kangmas dan para tetangga bule kami wara-wiri di jalan.
Kedua, nggak semua cewek yang nikah sama bule punya kapasitas buat jadi influencer. Lagi-lagi contohnya saya yang introvert. Saya kalau disapa orang suka nge-freeze duluan. Dan kalau lagi jalan sama suami di tempat-tempat wisata Indonesia, suka kagok kalau ada yang ngajak foto.
Ya kali modelan kayak gini mau bikin clip atau podcast. Yang ada saya demam panggung di depan kamera.
Tiga faktor yang membuat tidak bisa jadi seleb medsos meski suami bule
Nah, sekarang kita masuk ke tiga faktor yang lebih khusus dan lebih personal. Ada tiga alasan kenapa saya nggak bisa otomatis jadi seleb medsos sekalipun bersuamikan bule.
Satu, saya punya trauma jadi korban bully waktu kecil dan dikhianati rekan-rekan kerja sampai bangkrut saat dewasa. Gara-gara ini, saya jadi punya trust issue sehingga kurang nyaman untuk berbagi hal-hal yang sifatnya personal sekalipun ke orang yang sudah cukup lama kenal.
Kalau dalam kehidupan nyata yang lingkupnya cuma terbatas keluarga, teman, atau tetangga saja saya tertutup, mustahil saya bisa terbuka di sosmed yang jangkauannya lebih luas dan diisi banyak orang yang nggak saya kenal langsung.
Dua, saya sadar bahwa kebanyakan saudara sebangsa dan setanah air Indonesia masih punya mental inferior kalau ketemu bule. Tiap kali ada orang yang antusias minta foto atau menyebut saya beruntung karena dapat pasangan bule untuk ‘memperbaiki keturunan’, rasanya kayak nonton arsip nasional era penjajahan yang menunjukkan ‘ketidakberdayaan’ pribumi di hadapan Meneer Belanda.
Ini bukan berarti saya nggak bersyukur punya suami yang disukai dan diterima oleh masyarakat, loh ya. Tentu saja saya senang kalau si Kangmas bisa srawung dan diperlakukan balik dengan baik.
Namun, saya akan lebih merasa bangga lagi kalau dia disukai karena kebaikan atau kepintarannya (seperti cara saya memandang dia), bukan karena rupanya atau warna kulitnya.
Faktor yang terakhir, saya punya pertimbangan kalau dunia maya juga rawan kejahatan. Apalagi sekarang eranya AI yang super canggih dan semakin sulit dibedakan dengan yang orisinil.
Lengah dikit, kita bisa jadi korban fitnah, deepfake, penipuan, perampokan, bahkan perselingkuhan. Ngeri rasanya membayangkan foto keluarga saya bertebaran di sosmed lalu diedit untuk konten negatif, atau jadi korban kriminalitas karena penjahat tahu kita tinggal di mana dan apa aja jadwal harian kita. Dan yang paling amit-amit, kalau suami saya jadi incaran cewek-cewek psycho di luar sana. Saya nggak ikhlas lahir batin dunia akhirat.
Iya, saya memang tipe istri yang posesif.
Yang jelas, Kangmas Bule, Je t’aime beaucoup, I love you from Swiss to Jawa Timur and come back.
Penulis: Intan Novita Sari
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Cerita Dosen Bule di Sastra Inggris UNS, Tinggalkan AS untuk Ngajar di Indonesia hingga Jadi Produser Musik EDM di Jogja dan pengalaman menarik lainnya di kanal Esai.













