Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos

Intan Novita Sari oleh Intan Novita Sari
24 April 2026
A A
Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos MOJOK.CO

Ilustrasi: Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Gara-gara penulis punya suami bule, orang-orang di sekitarnya menuntut jadi seleb medsos.

Kalau saya perhatikan, makin belakangan ini makin banyak orang Indonesia yang menikah dengan WNA. Mau itu sama bule Eropa, Amerika, Australia, bahkan oppa-oppa Korea. 

Dari yang saya amati dan data yang ada, paling banyak memang perempuan WNI yang menikah dengan laki-laki bule. Termasuk saya. 

Nah, banyaknya perempuan Indonesia yang menikah dengan bule, membuat masyarakat punya pandangan sendiri. Bahwa menikah dengan bule, adalah tiket cepat terkenal, cara mudah jadi seleb medsos. Alamak!

Keberadaan sosmed mau itu Instagram, TikTok, atau YouTube harus diakui membuat sebagian orang-orang Indonesia menilai semua bule pasti ganteng, pintar, kaya, dan romantis. Maka dalam pandangan sebagian masyarakat, kisah perempuan yang menikah dengan bule ibarat kisah Cinderella yang happily ever after. 

Tuntutan kehidupan jadi konten

Ibaratnya, perempuan Indonesia yang menikah dengan laki-laki bule itu layak untuk dirayakan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Apalagi kalau anak campurannya sudah lahir, atau yang bersangkutan diboyong suami tinggal di luar negeri, makin heboh dan tenarlah sekeluarga di kalangan warga Indonesia. 

Bahkan, anak dan pasangannya jadi punya basis penggemar sendiri. Nggak jarang juga yang diundang masuk TV untuk tampil di talk show atau kolaborasi sama influencer top. Pokoknya, semua sisi kehidupan harus jadi konten.

Fenomena inilah yang membuat saya, perempuan Indonesia yang juga bersuamikan bule kena ‘imbasnya.

“Mbak, sesuk lek wes pindah karo bojo sampean nang Swiss nggaweo TikTok, engko tak follow (Mbak, besok kalau sudah pindah ke Swiss sama suami, bikin TikTok aja, nanti saya follow),” kata tetangga sepulang saya akad di masjid dengan laki-laki asal Swiss pada 2024 silam.

Saran kayak gini bukan cuma sekali dua kali saya terima. Barista hotel, pegawai KUA, sampai Mbak-mbak yang ambil paspor bareng saya di kantor imigrasi Surabaya juga pernah mengutarakan hal serupa. Intinya, mereka usul supaya saya mengikuti jejak para selebgram dan selebtok keluarga campuran biar jadi terkenal.

Kalau sudah kayak gini, biasanya saya cuma tersenyum sambil tarik napas.

Maraknya konten keluarga dari pernikahan campuran semakin menguatkan persepsi kalau nikah sama bule pasti enak-enak aja isinya: duit banyak, bisa jalan-jalan ke luar negeri, kalau punya anak pasti cakep, dan sebagainya. 

Dan kalau sudah disorot media, otomatis jadi artis dan dapat banyak cuan.

Tidak semua yang menikah dengan bule itu punya kapasitas jadi seleb medsos

Mimpi seperti inilah yang membuai para penonton konten. Efek sampingnya, orang Indonesia yang nikah sama bule sering jadi sasaran kepo khalayak. Mulai dari dicecar pertanyaan ketemu di mana, gimana caranya bisa dapat bule, sampai disuruh jadi seleb medsos biar orang-orang tahu setiap hari ngapain aja dan wajah anaknya nanti kayak gimana.

Iklan

Realitanya, nggak semua orang yang menjalani pernikahan campuran punya kapasitas jadi seleb. Saya salah satunya.

Saya kasih dua faktor yang paling umum dulu sebagai alasannya.

Pertama, nggak semua orang yang nikah sama bule punya kehidupan menarik untuk di-share. Contohnya saya. Dari zaman pacaran sampai sekarang, kegiatan saya dan suami lebih banyak diisi dengan bekerja. 

Pas weekend-pun, kalau keluar paling cuma nonton atau belanja bahan makanan. Aktivitas kayak gini bisa dilakukan semua orang. Jadi, nggak ada yang spesial kalau saya jadikan konten. Kecuali ada orang yang saking Anglophilia plus gabut-nya pengen lihat Kangmas dan para tetangga bule kami wara-wiri di jalan.

Kedua, nggak semua cewek yang nikah sama bule punya kapasitas buat jadi influencer. Lagi-lagi contohnya saya yang introvert. Saya kalau disapa orang suka nge-freeze duluan. Dan kalau lagi jalan sama suami di tempat-tempat wisata Indonesia, suka kagok kalau ada yang ngajak foto. 

Ya kali modelan kayak gini mau bikin clip atau podcast. Yang ada saya demam panggung di depan kamera.

Tiga faktor yang membuat tidak bisa jadi seleb medsos meski suami bule

Nah, sekarang kita masuk ke tiga faktor yang lebih khusus dan lebih personal. Ada tiga alasan kenapa saya nggak bisa otomatis jadi seleb medsos sekalipun bersuamikan bule.

Satu, saya punya trauma jadi korban bully waktu kecil dan dikhianati rekan-rekan kerja sampai bangkrut saat dewasa. Gara-gara ini, saya jadi punya trust issue sehingga kurang nyaman untuk berbagi hal-hal yang sifatnya personal sekalipun ke orang yang sudah cukup lama kenal. 

Kalau dalam kehidupan nyata yang lingkupnya cuma terbatas keluarga, teman, atau tetangga saja saya tertutup, mustahil saya bisa terbuka di sosmed yang jangkauannya lebih luas dan diisi banyak orang yang nggak saya kenal langsung.

Dua, saya sadar bahwa kebanyakan saudara sebangsa dan setanah air Indonesia masih punya mental inferior kalau ketemu bule. Tiap kali ada orang yang antusias minta foto atau menyebut saya beruntung karena dapat pasangan bule untuk ‘memperbaiki keturunan’, rasanya kayak nonton arsip nasional era penjajahan yang menunjukkan ‘ketidakberdayaan’ pribumi di hadapan Meneer Belanda.

Ini bukan berarti saya nggak bersyukur punya suami yang disukai dan diterima oleh masyarakat, loh ya. Tentu saja saya senang kalau si Kangmas bisa srawung dan diperlakukan balik dengan baik. 

Namun, saya akan lebih merasa bangga lagi kalau dia disukai karena kebaikan atau kepintarannya (seperti cara saya memandang dia), bukan karena rupanya atau warna kulitnya.

Faktor yang terakhir, saya punya pertimbangan kalau dunia maya juga rawan kejahatan. Apalagi sekarang eranya AI yang super canggih dan semakin sulit dibedakan dengan yang orisinil. 

Lengah dikit, kita bisa jadi korban fitnah, deepfake, penipuan, perampokan, bahkan perselingkuhan. Ngeri rasanya membayangkan foto keluarga saya bertebaran di sosmed lalu diedit untuk konten negatif, atau jadi korban kriminalitas karena penjahat tahu kita tinggal di mana dan apa aja jadwal harian kita. Dan yang paling amit-amit, kalau suami saya jadi incaran cewek-cewek psycho di luar sana. Saya nggak ikhlas lahir batin dunia akhirat.

Iya, saya memang tipe istri yang posesif.

Yang jelas, Kangmas Bule, Je t’aime beaucoup, I love you from Swiss to Jawa Timur and come back.

Penulis: Intan Novita Sari
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Cerita Dosen Bule di Sastra Inggris UNS, Tinggalkan AS untuk Ngajar di Indonesia hingga Jadi Produser Musik EDM di Jogja dan pengalaman menarik lainnya di kanal Esai.

Terakhir diperbarui pada 24 April 2026 oleh

Tags: Bulekontenmedsosselebseleb medsosselebgram
Intan Novita Sari

Intan Novita Sari

Freelancer yang terdampar di Eropa demi suami tercinta.

Artikel Terkait

Open To Work.MOJOK.co
Sehari-hari

Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba

9 Februari 2026
Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening MOJOK.CO
Esai

Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening

28 Januari 2026
Bahayanya Jika Menggunakan WhatsApp Pihak Ketiga. MOJOK.CO
Tekno

Bahayanya Jika Menggunakan WhatsApp Pihak Ketiga

13 Mei 2023
Tips Edit Gambar untuk Jadikan PP WhatsApp yang Aesthetic. MOJOK.Co
Tekno

Tips Edit Gambar untuk Jadikan PP WhatsApp yang Aesthetic

10 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

17 April 2026
Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos MOJOK.CO

Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos

24 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Tapak Suci Unair. MOJOK.CO

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.