• 250
    Shares

MOJOK.CODeklarasi #2019GantiPresiden di Surabaya menimbulkan kericuhan. Bahkan sebelum para tokoh yang akan mendeklarasikan datang. Kericuhan ini juga terjadi di beberapa tempat. Dari Tugu, hotel Ahmad Dhani, hingga masjid. Mengapa?

Deklarasi #2019GantiPresiden di Surabaya sebelumnya memang tidak mendapatkan izin dari kepolisian. Namun panitia ngotot untuk tetap melangsungkannya. Akhirnya, kericuhan pun tidak dapat terhindarkan.

Aksi penolakan ini dimulai dari pelemparan batu kepada massa peserta deklarasi #2019GantiPresiden ketika berjalan mengelilingi Tugu Pahlawan. Batu-batu yang dilemparkan tersebut dari batu berukuran kecil hingga paving, dan dilemparkan dari atas viaduk (jembatan kereta api) yang melintas di Jalan Pahlawan.

Batu tersebut dilemparkan ke jalan sekitar 2-3 meter, yang belum dilewati peserta deklarasi. Sehingga tidak mengenai peserta deklarasi karena otomatis mereka berhenti ketika melihat lemparan batu itu. Warga pun menghentikan aksinya, setelah polisi menghimbau agar warga tidak membuat gaduh. Dengan meminta warga yang melempar batu untuk bubar melalui megaphone.

Setelah itu, datang massa yang menolak deklarasi, yang berjalan ke arah massa peserta deklarasi. Keduanya pun bertemu. Jumlah mereka sama-sama ratusan.

Akibat pertemuan di Jalan Indrapura yang tidak jauh dari Tugu Pahlawan ini, kericuhan tidak dapat terhindarkan. Awalnya mereka hanya terlibat cekcok dan dorong-dorongan. Lalu berlanjut dengan saling lempar gelas dan botol plastik air minum.

Baca juga:  Kebenaran Gerakan Ganti Presiden Indonesia Menurut Tagar #2019GantiPresiden

Polisi mengambil sikap dengan berada di tengah untuk memisahkan kedua massa tersebut. Namun, meski diminta untuk bubar, kedua massa ini menolak untuk membubarkan diri. Mereka tetap melanjutkan aksinya. Massa yang mendukung deklarasi #2019GantiPresiden,  berkumpul sambil menyanyikan lagu-lagu 2019 ganti presiden. Sementara massa yang menolak, berorasi di atas motor dengan membawa toa.

Tidak hanya itu. Massa yang menolak deklarasi ini juga mengepung Hotel Majapahit. Tempat di mana Ahmad Dhani menginap. Rencananya Ahmad Dhani bersama tokoh lainnya memang akan ikut mendeklarasikan #2019GantiPresiden di monumen Tugu Pahlawan, Surabaya.

Massa berdatangan dari kedua sisi Jalan Tunjungan sejak pagi dan menyatu kemudian berorasi di depan Hotel Majapahit tersebut.

Didik, salah satu orator berbicara dengan lantang, “Kita ganti tagar #2019PilihPresiden. Pilih Presiden NKRI harga mati. Jangan khianati, perjuangan Arek-arek Suroboyo. Hotel Majapahit adalah salah satu saksi perjuangan Arek-arek Suroboyo merobek bendera merah, putih, biru.”

Mereka mengungkapkan, siapapun nanti presidennya akan didukung. Mereka juga menyerukan untuk tidak mengotori Kota Surabaya dengan aksi-aksi kebencian dan keinginan untuk merebut kekuasaan. Sebab menurut mereka, Kota Surabaya baru saja pulih dari aksi terorisme.

Dengan aksi di luar hotel tersebut, menjadikan Ahmad Dhani tidak dapat keluar dari hotel untuk menemui peserta deklarasi. Ia pun mengungkapkan kekesalannya dalam video berikut.

Selain itu, banyak massa peserta deklarasi yang masuk ke Masjid Takmiriyah. Namun karena penjagaan yang kurang ketat, akhirnya membuat satu, dua, hingga banyak anggota banser masuk ke dalam masjid tersebut juga.

Baca juga:  Kesamaan Wiro Sableng dengan 212: The Power of Love Sebagai Film Keluarga

Dari situlah kericuhan dimulai lagi. Mereka saling adu mulut dan dorong di halaman masjid. Polisi pun bertindak memisahkan mereka. Sedangkan pengurus masjid meminta mereka untuk keluar dari masjid. Polisi akhirnya mengawal masing-masing kubu untuk keluar dari masjid menuju ke kelompoknya masing-masing.

Terkait kericuhan ini, Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera mengungkapkan bahwa sejak awal memang sudah diprediksi bahwa aksi ini berpotensi menyebabkan kericuhan.

Ia pun menambahkan, “Kalau sudah ricuh gini, apa Ahmad Dhani mau tanggung jawab?”

Sementara Humas Deklarasi #2019GantiPresiden di Surabaya, Tjetjep M Yasien berpendapat lain. Ia menyayangkan aksi polisi yang sempat membubarkan secara paksa aksi ini.

Tjetjep mengungkapkan, “Dalam Undang-undang tidak diamanatkan mereka untuk menolak, tapi menjaga kamtibmas, melindungi siapa pun yang melakukan aksi. Kita melihat perbuatan polisi yang menurut saya sangat sewenang-wenang.”

Waduh, kok jadi saling tuduh? Terus siapa yang bakal tanggung jawab dengan kericuhan ini? Jokowi lagi? (A/L)

  • 250
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles