• 1.2K
    Shares

MOJOK.CO – KH. Ahmad Mustofa Bisri atau biasa disapa Gus Mus menilai KH. Ma’ruf Amin sebaiknya mundur dari Rais Aam PBNU. Sebab tidak etis jika sampai yang bersangkutan rangkap jabatan di organisasi keumatan dan pemerintahan.

Setelah kejutan munculnya nama KH. Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden (cawapres) pendamping calon presiden (capres) Jokowi dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 tahun depan, beberapa komentar bermunculan mengenai posisi Rais Aam PBNU.

Salah satu yang cukup lantang bicara adalah KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). Menurut Gus Mus, ada baiknya KH. Ma’ruf Amin segera mundur dari jabatan Rais Aam PBNU setelah resmi diumumkan akan mendampingi Jokowi sebagai cawapres.

“Dia harus mundur. Mundur, kalau tidak kan Rais Aam akan di bawah Presiden,” kata Gus Mus.

Meski Gus Mus mengaku belum tahu secara pasti peraturan di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengenai status Rais Aam yang juga akan jadi calon pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat, akan tetapi secara etika ada baiknya KH. Ma’ruf Amin meminimalisir terjadinya rangkap jabatan.

“Dia itu Rais Aam, sekarang etikanya ya, saya tidak tahu aturannya seperti apa, dia kalau sudah menjabat sebagai wakil presiden, masa dia mau merangkap tiga, Ketua MUI, Rais Aam PBNU, Wakil Presiden. Ya itu nggak pantes. Mundurnya, ya saya nggak tahu, biar nanti dibicarakan sama PBNU,” katanya seperti diberitakan detik.com.

Gus Mus sendiri tidak menjelaskan secara detail bagaimana mekanisme yang akan dilakukan untuk KH. Ma’ruf Amin dan PBNU dalam merespons kemungkinan rangkap jabatan ini. “Saya kan cuma orang gelandangan. Saya bukan siapa-siapa, kalau saya ini didengar kan memang karena kebetulan followers saya banyak,” kata salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin ini merendah.

Baca juga:  Kenapa PNS Nggak Boleh Tatoan? Padahal Pengen Lihat JRX Pakai Seragam Khaki

Mengenai pemilihan Tim Capres Jokowi yang lebih memilih KH. Ma’ruf Amin daripada Mahfud MD, Gus Mus tidak ingin mengomentari. Menurutnya dirinya tidak punya persoalan siapa yang dipilih.

“Itu kan wewenang Pak Jokowi untuk memilih cawapres. Wong partai-partai politik yang koalisi saja tanda tangan. Saya urusannya apa? Saya tidak ada pendapat, itu kan wewenangnya Jokowi, semuanya mengatakan begitu,” jelasnya.

Bahkan Gus Mus mengakui bahwa dirinya tahu informasi Rais Aam PBNU ini terpilih jadi cawapres Jokowi juga dari televisi. Itu pun bukan Gus Mus sendiri yang niat menonton, tapi karena diberitahu oleh menantunya.

Sampai saat ini memang masih belum ada informasi apakah KH. Ma’ruf Amin akan benar-benar mundur dari posisi Rais Aam setelah jadi cawapres Jokowi. Meski begitu, ada baiknya KH. Ma’ruf Amin mendengarkan Gus Mus, sebab penetapannya sebagai Rais Aam PBNU adalah “hadiah” yang diberikan Gus Mus pada Muktamar NU ke-33 di Jombang pada 2015 lalu.

Pada waktu Muktamar, Muktamirin PBNU sebenarnya berkeinginan agar Gus Mus yang jadi Rais Aam, hanya saja kiai yang juga dikenal sebagai penulis dan penyair ini menolak jabatan tersebut, sampai kemudian jabatan tersebut diberikan kepada KH. Ma’ruf Amin. (K/A)