Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Ekspektasi Menikmati “Lantai Dua Jogja” di Plunyon Kalikuning Rusak karena Ulah Jamet dan Beberapa Spot yang Tak Terawat

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
15 Juni 2026
A A
Wisata Plunyon Kalikuning Yogyakarta. MOJOK.CO

ilustrasi - pemandangan indah di Palunyon, Kalikuning, Yogyakarta. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tinggal selama hampir 2 tahun di Jogja, baru Sabtu (13/6/2026) kemarin saya berkesempatan mengunjungi wisata Plunyon Kalikuning, Yogyakarta yang nyatanya hanya 22 menit dari Universitas Islam Indonesia (UII). Namun, pengalaman yang saya nanti-nanti itu sedikit mengecewakan.

Buang ekspektasi kalian soal mendaki di Plunyon Kalikuning

Pertama kali yang saya lakukan sebelum pergi ke Plunyon Kalikuning adalah mencari informasi soal ketinggian yang harus saya naiki. Berdasarkan informasi yang beredar, ketinggiannya mencapai 900-1.100 meter di atas permukaan laut.

Namun sebenarnya, yang perlu diperhatikan justru panjang rute dan waktu yang dibutuhkan untuk trekking. Alih-alih disebut mendaki, jalur Plunyon Kalikuning, Yogyakarta lebih cocok disebut sebagai aktivitas susur sungai.

Jaraknya hanya sekitar 3 kilometer dan dapat ditempuh dalam kurun waktu 1-2 jam. Oleh karena itu, wisata ini lebih cocok digunakan untuk piknik bersama keluarga karena menyajikan pemandangan hutan dan sungai. 

Peringatan untuk melakukan vandalisme. MOJOK.CO
Sejumlah pengunjung selesai melewati jembatan Plunyon. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Selain itu, area ini juga menyediakan program outbound half-day. Namun, fasilitas tersebut kini sudah rusak dan terbengkalai. Bahkan wisata Watu Gebyok yang menjadi spot favorit pengunjung juga terpaksa ditutup karena banjir, sehingga jalur untuk trekking pun dibatasi. 

Jangan lengah terhadap pemandangan Plunyon Kalikuning

Selain pemandangan hutan, sungai, dan wisata Watu Gebyok, salah satu spot di Plunyon Kalikuning, Yogyakarta yang populer adalah dua jembatan kembar. Salah satunya, pernah menjadi lokasi syuting KKN di Desa Penari. 

Awalnya, Jembatan Plunyon dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada dekade 1920-an oleh warga, sebagai jalur penghubung untuk menyalurkan hasil bumi mereka dari wilayah Yogyakarta ke daerah sekitar Magelang.

Seiring perkembangan zaman, fungsi jembatan tersebut berubah menjadi destinasi wisata. Pada jembatan pertama dari dekat pintu masuk, pengunjung bakal dimanjakan oleh pemandangan hutan pinus.

Jalur irigasi. MOJOK.CO
Gorong-gorong di sekitar irigasi. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Kemudian mereka harus melewati jembatan kedua menuju saluran irigasi sebelum sampai ke tepi sungai air jernih. Dalam perjalanannya, pengunjung harus fokus melihat sekitar termasuk jalan yang dilewati agar tidak terperosok ke gorong-gorong.

Tiket masuk Plunyon Kalikuning sudah mencapai Rp12 ribu

Seiring dengan popularitasnya yang meningkat, tiket wisata Plunyon Kalikuning pun dipatok seharga Rp12 ribu—belum termasuk biaya parkir. Tiket masuk dibuka dari pukul 07.00 WIB hingga 15.00 WIB. 

Ali, pedagang siomay yang sudah 15 tahun mangkal di dekat gapura wisata Plunyon Kalikuning berujar dulu pengunjung belum dikenakan tiket masuk. Namun kebijakan itu berubah sejak tahun 2016 usai Plunyon Kalikuning mulai dikelola oleh Taman Nasional Gunung merapi (TNGM).

“Katanya sih untuk pemeliharaan dan biaya pengelolaan tempat ini, termasuk perbaikan fasilitas dan kebersihan area. Apalagi waktu Gunung Merapi meletus tahun 2010 itu kan kawasan sini juga kena sampai terbakar,” kata Ali. 

Masalahnya, apa yang saya lihat justru berbeda. Saya justru miris melihat fasilitas outbound yang rusak dan tidak ada tanda-tanda perbaikan. Terlebih, saya juga masih menjumpai sampah plastik, jalan kerikil dan licin untuk pejalan kaki, ranting patah hingga daun kering yang tak diurus. 

Jembatan Plunyon. MOJOK.CO
pengunjung yang terdiri dari pelajar melewati Jembatan Plunyon. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Berbeda dengan wisata Deles Indah, Klaten yang lokasinya tak jauh dari lereng Gunung Merapi, wisata Plunyon Kalikuning, Yogyakarta memiliki sedikit papan informasi untuk sekadar memberitahu pengunjung di titik mana dia sedang berada atau seberapa jauh lagi dia harus berjalan? 

Iklan

Begitu juga soal tanda peringatan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Meskipun di pintu loket terdapat informasi soal peta wisata Plunyon Kalikuning serta beberapa larangan. Jadi, kemana biaya pemeliharaan itu?

“Kalau nggak mau bayar bisa datang pukul 06.00 WIB Kak atau sekitar Rp16.00 WIB waktu penjaganya sudah pulang semua,” kata Ali memberi saran.

Pengunjung yang tak beradab

Lebih dari itu, kekecewaan saya mengunjungi Plunyon, Kalikuning semakin menggebu setelah melihat perilaku pengunjung yang ada di sana. Selain kepadatannya di masa libur, saya jengkel dengan mayoritas pelajar yang berpenampilan Jawa metal alias jamet.

vandalisme di batu sungai. MOJOK.CO
Tulisan vandalisme di bebatuan sungai. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Bukan karena pakaian yang mereka kenakan, melainkan lebih kepada perilaku yang tak mencerminkan siswa terdidik. Terutama saat mereka terang-terangan merokok di tepi sungai, baik laki-laki maupun perempuan.

Belum lagi saat mereka bergerombol dan mengobrol. Lalu, makian demi makian keluar tanpa dikontrol. Saat menuju pintu keluar, saya sempat berpapasan dengan sekelompok pelajar tersebut dan mereka mulai teriak-teriak tidak jelas menirukan suara monyet, sementara teman-temannya tertawa.

“Di atas sana ada teman saya Bu,” kelakarnya tiba-tiba ke arah saya dan lanjut berjalan dari pintu keluar.

Entah apa yang membuatnya lucu, tapi saya merasa risih. Pemandangan alam di kawasan Plunyon Kalikuning itu pada akhirnya harus terkontaminasi dengan potret gagalnya pendidikan kita. Belum lagi, vandalisme yang saya lihat di tengah pemandangan indah.

Udara di Plunyon Kalikuning pun tak lagi segar karena asap dari kegiatan bakar-bakar yang dilakukan ratusan pengunjung. Airnya pun tak lagi jernih dan hampir keruh. Sontak, teman saya mencegah saya untuk cuci muka langsung di sana.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Bukit Argobelah: Tempat Terbaik Melihat Pemandangan Gunung Merapi dari Dekat, Tak Sampai Satu Jam dari Jogja Bisa Dapat Ketenangan Batin atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 Juni 2026 oleh

Tags: destinasi di jogjadestinasi wisatajembatan plunyonkalikuningpariwisata jogjaPlunyonrekomendasi wisataYogyakarta
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Kabar

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat” MOJOK.CO
Sehari-hari

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Lewat Setu Sinau, Jalan Malioboro Kota Yogyakarta tidak hanya jadi tempat wisata. Tapi juga ruang edukasi untuk belajar budaya Jawa, termasuk aksara Jawa MOJOK.CO
Kilas

“Setu Sinau” bikin Jalan Malioboro Tak Hanya Jadi Tempat Wisata, Tapi Juga Ruang Edukasi Aksara Jawa

29 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026
Ide Usaha Minyak Jelantah: Kotor, tapi Untung Jutaan per Bulan MOJOK.CO

Bisnis Pengepul Minyak Jelantah: Ide Usaha yang Nggak Populer tapi Bisa Untung Jutaan per Bulan

9 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Menggebrak Wonosobo! NOISE SPEED KILLA Pertemukan Musik Heavy Rock dan Kustom Motor.MOJOK.CO

Menggebrak Wonosobo! NOISE SPEED KILLA Pertemukan Musik Heavy Rock dan Kustom Motor

11 Juni 2026
pabrik semen, pracimantoro, wonogiri.MOJOK.CO

Babak Baru Perlawanan Warga Wonogiri Tolak Pabrik Semen di Pracimantoro, Bawa Ancaman Karst Gunungsewu ke Markas UNESCO

9 Juni 2026
Syifa, WNI yang kuliah di Jagiellonian University, Krakow, Polandia, Eropa. MOJOK.CO

Nekat Daftar Beasiswa Luar Negeri ke Kampus “Kurang Terkenal”, Kini Bisa Keliling Eropa dengan Gaji yang Bikin Sumringah

8 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.