• 243
    Shares

MOJOK.COGNPF-U bilang sebaiknya tidak mengangkat cawapres ulama jika tidak ingin umat Islam terpecah belah. Sementara Timses Jokowi bingung. Bukankah justru GNPF-U yang lebih dulu merekomendasikan ulama untuk jadi cawapres Prabowo?

Pilpres 2019 memang dirasa semakin memecah masyarakat Indonesia menjadi dua kubu. Jika bukan kubu Prabowo maka ia merupakan kubu Jokowi. Jika ia mengkritisi Jokowi, berarti secara otomatis ia merupakan kubu Prabowo. Begitu seterusnya, tanpa memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berada di tengah. Atau setidaknya memilih sikap mendukung dengan syarat.

Keadaan ini jugalah yang akhirnya menjadikan suara umat Islam turut terpecah. Dengan kondisi yang terpecah tersebut, Ketua GNPF-Ulama, Yusuf Martak mengungkapkan, jika memang tidak ingin pecah seharusnya tidak ada pihak yang mengangkat cawapres dari kalangan ulama.

Iya, seharusnya tidak ada, ungkapnya. Pernyataan ini disampaikan oleh Yusuf untuk menanggapi pertanyaan tentang apakah ia tidak khawatir jika suara umat Islam terbelah dua, mengingat seorang ulama, KH Ma’ruf Amin ditunjuk sebagai pendamping Jokowi dalam Pilpres mendatang.

Yusuf melanjutkan, bahwa setiap ulama memiliki pilihan yang berbeda. Menurutnya walau setiap ulama akan menentukan pilihannya masing-masing, ia sangat yakin dan penuh kepercayaan diri, bahwa suara ulama akan lebih banyak mengalir ke pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Yap, benar, ke kubunya.

Hal ini ia beberkan sebelum acara Ijtimak Ulama II dimulai. Rencananya acara ini juga akan diisi dengan kegiatan penandatangan pakta integritas yang akan membuktikan keseriusan dari pasangan Prabowo-Sandiaga untuk menjalankan komitmennya. Semua yang telah direkomendasikan dalam Ijtimak Ulama I, akan disampaikan melalui pakta integritas. Ketika itu sudah ditandatangani, maka secara otomatis dukungan akan diberikan kepada Prabowo-Sandi.

Baca juga:  Usai Tenggelamnya Politisasi Agama Terbitlah Politisasi Bencana di Palu dan Donggala

Sebelumnya, dalam Ijtimak Ulama I, GNPF-U telah mengusulkan agar Prabowo berpasangan dengan Ustaz Abdul Somad atau Ketua Majelis Syuro PKS, Salim Segaf. Namun Prabowo justru memilih Sandiaga Uno yang juga dari Partai Gerindra. Iya, walau sebelumnya GNPF-U ngotot agar Ketua Umum Partai Gerindra ini berpasangan dengan ulama, namun Prabowo memilih Sandiaga, yang dianggap mampu memperbaiki ekonomi Indonesia, katanya.

Mengenai pernyataan Ketua GNPF-U tersebut, Jubir Timses Jokowi-Ma’ruf, Ace Hasan Syadzily merasa bingung. Hal ini dikarenakan, justru GNPF-U lah yang terlebih dahulu menyodorkan ulama untuk menjadi cawapres Prabowo. Namun sekarang, GNPF-U malah menganggap pengangkatan ulama sebagai cawapres dapat memecah belah umat.

Oleh karena itu, Ace menilai GNPF-U tidak konsisten serta tidak istiqamah. Ia menyayangkan hal tersebut, dikarenakan seorang ulama harusnya akan selalu konsisten dan istiqomah dalam berpikir dan bersikap. Yang tentu saja didasarkan pada sumber rujukan dalil-dalil Al-Qur’an, Hadist dan Ijma’.

Ace menambahkan, rekomendasi GNPF-U selama ini justru disesuaikan dengan kepentingan politik mereka semata. Padahal sebuah kelembagaan ulama tidak seharusnya dipolitisasi.

Ah sudahlah, sepertinya memang kubu Jokowi tidak perlu menanggapi hal-hal seperti ini. Apa pun jalan yang dipilih Jokowi memang selalu salah. Karena apa? Karena semua salah Jokowi. Gitu. (A/L)