• 50
    Shares

MOJOK.CO – The Independent Observer diduga sebagai koran propaganda yang dibuat kubu Prabowo untuk menyerang Jokowi. Apakah akan bernasib sama dengan kasus Obor Rakyat pada pemilu sebelumnya?

Menyuarakan pendapat memang dapat dilakukan melalui banyak cara. Melalui media cetak salah satunya. Hal inilah jalan yang mungkin dipilih oleh pemilik koran The Independent Observer.

Sebuah koran berbahasa Inggris dengan nama ‘The Independent Observer’ ramai diperbincangkan. Pasalnya, koran tersebut diduga diterbitkan oleh kubu Prabowo untuk menyerang kubu Jokowi.

Dari foto yang tersebar, headline koran tersebut bertuliskan ‘New Hope Vs Unfulfilled Promises’ (Harapan Baru Vs Janji-janji yang Belum Terpenuhi). Dengan ilustrasi kedua pasangan capres-cawapres. Gambar koran yang diduga untuk propaganda itu pun menyebar melalui broadcast aplikasi WhatsApp.

Sekjen Partai Gerindra, Ahmad Muzani mengakui, bahwa koran tersebut memang diterbitkan oleh sekelompok orang yang dekat dengan kubu Prabowo Subianto untuk melawan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Namun, Muzani tidak dapat memastikan, siapa orang dekat Mantan Danjen Kopassus tersebut dan apakah keberadaan media ini atas sepengetahuan Prabowo atau tidak.

Muzani menambahkan, sekelompok orang itu adalah orang-orang yang memiliki kepeduliaan terhadap pemberitaan dan suasana pers yang berimbang. Sehingga mereka memutuskan untuk menerbitkan koran The Independent Observer.

Wakil Ketua DPP Gerindra, Fadli Zon juga membenarkan keberadaan koran The Independent Observer. Namun ia juga tidak dapat memastikan apakah koran tersebut berafiliasi langsung dengan Gerindra atau tidak.

Baca juga:  Prabowo Menyatakan Diri Siap Untuk Tidak Nyapres

Fadli Zon menambahkan, The Independent Observer tidak didesain khusus untuk pilpres, melainkan memang terbit selayaknya media pada umumnya yang memberitakan segala isu. Khususnya isu-isu nasional.

Dilansir dari Jawapos.com, saat dikonfirmasi, Bahren salah seorang redaktur di koran tersebut, justru berpendapat lain. Ia menegaskan bahwa The Independent Observer bukan milik Partai Gerindra atau pun keluarga Prabowo. Menurut Bahrun, pemilik koran itu adalah seorang pengusaha muda yang melihat ada peluang bisnis di bidang media cetak.

Ia mengungkapkan, koran yang diterbitkan oleh PT Media Pandu Bangsa ini merupakan koran berita nasional berbahasa Inggris dengan skala distribusi nasional. Yakni di Jawa, Bali, dan NTB yang dicetak sekitar 20 ribu eksemplar.

Koran ini juga terbit mingguan dan dapat dibeli di toko-toko buku. Selain itu, dijual dengan harga sekitar Rp9500.

Menanggapi kemunculan koran ini, PDIP mengingatkan pada pembuat koran tersebut agar tidak melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Obor Rakyat pada Pemilu 2014 sebelumnya.

Sebenarnya politikus PDIP sekaligus Anggota Komisi I DPR, Charles Honoris, mengungkapkan sah-sah saja apabila ada publikasi yang mendukung calon tertentu. Namun ia mengingatkan bahwa ada ketentua dalam produksi jurnalistik. Dari mengedepankan kode etik hingga konten yang netral. Supaya tidak menyebarkan fitnah, hoax maupun ujaran kebencian.

Charles pun menyinggung tentang kasus Obor Rakyat. Yang saat Pilpres 2019 menulis isu tentang Presiden Jokowi adalah aktivis PKI dan anak Tionghoa. Karena hal tersebut, Dewan Pers menyimpulkan bahwa tabloid Obor Rakyat bukan produk jurnalistik.

Baca juga:  Amien Rais Singgung Korsel Bisa Tekuk Jerman, Yakin Rakyat Bakal Punya Presiden Baru

Akhirnya, orang di baliknya, Setiyardi dan Darmawan Sepriyosa divonis 8 bulan penjara karena terbukti mencemarkan nama baik Jokowi. Charles menegaskan, “Ingat kasus Obor Rakyat. Segala hal ada konsekuensi hukumnya.”

Dalam nuansa panas Pemilu 2019 ini, kita memang harus berhati-hati. Jangan sampai hanya percaya pada satu sumber informasi. Kroscek harus dilakukan supaya kita tidak hidup dengan pengetahuan hoax yang justru kita percayai. Salam kroscek data! (A/L)